Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Drone Berperan untuk Pantau Gajah Liar Tanpa Ganggu Habitatnya

Kompas.com, 8 Desember 2025, 17:35 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pesawat tanpa awak alias drone dinilai bisa menjadi alat non-invasif untuk mengamati populasi gajah dan membantu upaya konservasi jangka panjang.

Sebuah studi yang dipublikasikan di Nature Scientific Reports menunjukkan, gajah dapat beradaptasi dengan sangat cepat terhadap drone dan menunjukkan lebih sedikit tanda-tanda gangguan, baik selama satu kali terbang maupun setelah paparan berulang.

Baca juga: 

"Penelitian ini menunjukkan kekuatan teknologi baru yang berkembang pesat yang memungkinkan kita untuk menyelidiki lebih dalam kehidupan rahasia gajah," papar Profesor Fritz Vollrath dari Departemen Biologi Universitas Oxford dan Ketua Save the Elephants, dilansir dari laman University of Oxford, Senin (12/8/2025).

Drone sebagai alat mengamati populasi gajah

Gajah bisa belajar mengabaikan drone

Penggunaan drone dalam konservasi gajah sebagian besar bergantung pada kekuatannya untuk menghalau mamalia darat ini.

Baling-balingnya yang berdengung, yang dapat terdengar seperti kawanan lebah, menjadikannya alat yang berguna untuk mengusir gajah dari lahan pertanian.

Penelitian baru yang diterbitkan oleh Universitas Oxford dan Save the Elephants (STE) menyimpulkan, gajah dapat belajar mengabaikan drone, terutama ketika diterbangkan dengan cara yang dirancang untuk meminimalisasi gangguan.

Berdasarkan penelitian tersebut, menerbangkan drone di ketinggian 120 meter atau lebih dengan pendekatan melawan arah angin, bisa meminimalisasi stres pada gajah dengan hanya perubahan perilaku sementara yang terlihat pada mereka.

Baca juga:

Kemajuan dalam proses memantau satwa liar

Peneliti menemukan gajah dapat mengabaikan drone. Temuan ini membuka cara baru memantau perilaku dan pergerakan gajah.Freepik/diana.grytsku Peneliti menemukan gajah dapat mengabaikan drone. Temuan ini membuka cara baru memantau perilaku dan pergerakan gajah.

Temuan ini dapat mengubah cara para ilmuwan dan konservasionis memantau satwa liar.

Sejak tokoh konservasi gajah Iain Douglas-Hamilton memelopori studi ilmiah tentang perilaku gajah liar pada tahun 1960-an, pengamatan terhadap interaksi mereka telah dilakukan dari samping mereka, di dalam kendaraan, atau dalam beberapa kasus di atas platform pengamatan.

Saat ini, drone dapat menawarkan perspektif yang benar-benar baru sebagai alat observasi non-invasif dan hemat biaya, sekaligus membantu para ilmuwan mengumpulkan data tentang pergerakan gajah, interaksi sosial, dan respons terhadap perubahan lingkungan dengan gangguan minimal.

Kamera dan sensor terintegrasi di dalamnya mengumpulkan data dalam jumlah besar, yang dapat digunakan oleh perangkat lunak berbasis AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) untuk mencari pola-pola yang selama ini luput dari perhatian peneliti manusia.

Misalnya, tim telah mendapatkan petunjuk menarik tentang kebiasaan tidur gajah pada malam hari, dan hampir merilis alat yang dapat secara otomatis menghitung usia dan jenis kelamin setiap individu dalam kelompok yang diamati.

"Teknologi baru memperluas kemampuan kita untuk mengamati, menganalisis, dan memahami dunia liar dengan cara yang sebelumnya tak terpikirkan. Studi ini menjanjikan untuk membuka jendela baru mengenai gajah," tambah CEO Save the Elephants, Frank Pope.

Baca juga:

Para peneliti menekankan, meskipun drone dapat menjadi alat yang ampuh untuk konservasi, penggunaannya di sekitar satwa liar harus selalu dikontrol secara ketat.

Di Kenya, penerbangan drone untuk wisata dan rekreasi dilarang di taman nasional dan cagar alam untuk melindungi hewan dari stres yang tidak perlu.

Drone dalam penelitian ini dioperasikan berdasarkan izin khusus yang dikeluarkan oleh Otoritas Penerbangan Sipil Kenya dan Institut Penelitian dan Pelatihan Satwa Liar.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Waspada Longsor Susulan di Cisarua, Pakar ITB Jelaskan Langkah Mitigasi
Waspada Longsor Susulan di Cisarua, Pakar ITB Jelaskan Langkah Mitigasi
LSM/Figur
Jakarta Terancam Tenggelam, Pemprov Tekan Pengambilan Air Tanah
Jakarta Terancam Tenggelam, Pemprov Tekan Pengambilan Air Tanah
Pemerintah
Cuaca Ekstrem Diprediksi hingga 2 Februari, Ini Wilayah yang Harus Waspada
Cuaca Ekstrem Diprediksi hingga 2 Februari, Ini Wilayah yang Harus Waspada
Pemerintah
Lemahnya Etika Sosial Proyek Panas Bumi di Indonesia
Lemahnya Etika Sosial Proyek Panas Bumi di Indonesia
Pemerintah
Konservasi Terumbu Karang Indonesia Diperkuat Lewat Pendanaan TFCCA
Konservasi Terumbu Karang Indonesia Diperkuat Lewat Pendanaan TFCCA
Pemerintah
Emisi Listrik China dan India Turun, Pertama Kalinya dalam 52 Tahun
Emisi Listrik China dan India Turun, Pertama Kalinya dalam 52 Tahun
Pemerintah
UHN Dirikan Sustainabilitas Center of Sustainability Studies, Jawab Tantangan Keberlanjutan
UHN Dirikan Sustainabilitas Center of Sustainability Studies, Jawab Tantangan Keberlanjutan
Swasta
UNDRR: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyebaran Virus Nipah di Asia
UNDRR: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyebaran Virus Nipah di Asia
LSM/Figur
Pakar ITB Sebut Longsor Cisarua Dipicu Hujan Ekstrem, Bagaimana dengan Alih Fungsi Lahan?
Pakar ITB Sebut Longsor Cisarua Dipicu Hujan Ekstrem, Bagaimana dengan Alih Fungsi Lahan?
LSM/Figur
AS Resmi Menarik Diri dari Perjanjian iklim Paris
AS Resmi Menarik Diri dari Perjanjian iklim Paris
Pemerintah
Laut Arktik Makin Berisik Akibat Perubahan Iklim, Satwa Bisa Terganggu
Laut Arktik Makin Berisik Akibat Perubahan Iklim, Satwa Bisa Terganggu
LSM/Figur
Populasi Lansia Bisa Pangkas Pengambilan Air Global hingga 31 Persen
Populasi Lansia Bisa Pangkas Pengambilan Air Global hingga 31 Persen
LSM/Figur
Menteri LH Kaitkan Longsor Cisarua dengan Pola Makan, Pakar ITB Sebut Terlalu Jauh
Menteri LH Kaitkan Longsor Cisarua dengan Pola Makan, Pakar ITB Sebut Terlalu Jauh
LSM/Figur
Sebelum Terbakar Revolusi Biodiesel
Sebelum Terbakar Revolusi Biodiesel
Pemerintah
Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Bisa Terdampak
Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Bisa Terdampak
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau