Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Usaha Kerupuk Sirip Ikan Tuna di Bali, Terhambat Cuaca Tak Tentu

Kompas.com, 12 Desember 2025, 15:35 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

BALI, KOMPAS.com - Ikan tuna tak hanya bisa disantap dagingnya dan rahangnya. Di tangan seorang ibu bernama Saropah di Bali, sirip ikan tuna bisa disulap menjadi kerupuk bernilai ekonomi. 

"Kalau dulu (sirip ikan tuna) dibuang, sekarang udah ada harganya," kata Saropah saat ditemui Kompas.com dan CAST Foundation di Kampung Bugis, Serangan, Bali, Jumat (5/12/2025).

Baca juga:

Saropah sudah menekuni usaha ini selama 10 tahun. Awalnya ia menjual kerupuk dari beras, lalu ada teman suaminya dari Benoa yang memberi bahan mentah berupa sirip ikan tuna.

"Dia bilang, 'Coba ini pakai kerupuk, kayaknya bisa, ini enak', gitu. Nyoba cuma berapa, mungkin sekilo (satu kilogram). Tak keringin (saat) musim panas, kering, digoreng kok enak," cerita Saropah. 

Sirip ikan tuna yang dulu tak bernilai diolah Saropah menjadi kerupuk bernilai ekonomi. Namun, cuaca tak tentu masih jadi penghambat usahanya.Dok. CAST Foundation Sirip ikan tuna yang dulu tak bernilai diolah Saropah menjadi kerupuk bernilai ekonomi. Namun, cuaca tak tentu masih jadi penghambat usahanya.

Mulanya, Saropah tak sendiri. Ia menjalani usaha ini bersama beberapa ibu di Kampung Bugis. Namun, saat ini hanya ada dua orang yang bertahan, termasuk Saropah. 

Sebab, pengolahan sirip ikan tuna cukup rumit. Belum lagi ditambah aromanya yang amis. 

Lantas, apa alasan Saropah bertahan menjual kerupuk sirip ikan tuna?

"Kita kayak gini badan kurang lincah ke sana ke sini. Kalau (jualan) kerupuk kan cuma kita duduk aja. Niris, duduk. Jemur, duduk. Goreng, duduk. Bungkus, duduk. Segala macam, duduk," ucap Saropah, tertawa kecil.

Adapun Saropah menjual kerupuk sirip ikan tuna seharga Rp 10.000 per bungkus kecil. 

Baca juga:

Sirip ikan tuna yang dulu tak bernilai diolah Saropah menjadi kerupuk bernilai ekonomi. Namun, cuaca tak tentu masih jadi penghambat usahanya.Dok. CAST Foundation Sirip ikan tuna yang dulu tak bernilai diolah Saropah menjadi kerupuk bernilai ekonomi. Namun, cuaca tak tentu masih jadi penghambat usahanya.
Cuaca, tantangan produksi kerupuk sirip ikan tuna

Pembuatan Kerupuk Sirip Ikan Tuna Ibu Saropah masih tradisional.

Saropah membersihkan sendiri sirip ikan tersebut, lalu membumbuinya. 

Ia kemudian meletakkan sirip ikan tuna tersebut ke atas wadah persegi panjang beralaskan jaring dari senar, untuk kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari. 

Jika cuaca mendukung, sirip ikan tuna bisa kering dalam waktu paling cepat sekitar lima hari.

Jika cuaca tak mendukung, apalagi ditambah hujan, waktunya bisa lebih lama lagi yakni sekitar delapan hari.

Hal inilah yang menjadi penghambat usaha Saropah, bahkan setelah menjalaninya selama 10 tahun. 

Berbagai cara sudah ia coba, salah satunya dengan oven tradisional, tapi hasilnya tidak sebaik pengeringan dengan sinar matahari. 

Meski begitu, Saropah tak main-main dengan kualitas. Jika produknya memang belum siap, ia tak akan mau menjualnya. 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau