Penulis
BALI, KOMPAS.com - Ikan tuna tak hanya bisa disantap dagingnya dan rahangnya. Di tangan seorang ibu bernama Saropah di Bali, sirip ikan tuna bisa disulap menjadi kerupuk bernilai ekonomi.
"Kalau dulu (sirip ikan tuna) dibuang, sekarang udah ada harganya," kata Saropah saat ditemui Kompas.com dan CAST Foundation di Kampung Bugis, Serangan, Bali, Jumat (5/12/2025).
Baca juga:
Saropah sudah menekuni usaha ini selama 10 tahun. Awalnya ia menjual kerupuk dari beras, lalu ada teman suaminya dari Benoa yang memberi bahan mentah berupa sirip ikan tuna.
"Dia bilang, 'Coba ini pakai kerupuk, kayaknya bisa, ini enak', gitu. Nyoba cuma berapa, mungkin sekilo (satu kilogram). Tak keringin (saat) musim panas, kering, digoreng kok enak," cerita Saropah.
Sirip ikan tuna yang dulu tak bernilai diolah Saropah menjadi kerupuk bernilai ekonomi. Namun, cuaca tak tentu masih jadi penghambat usahanya.Mulanya, Saropah tak sendiri. Ia menjalani usaha ini bersama beberapa ibu di Kampung Bugis. Namun, saat ini hanya ada dua orang yang bertahan, termasuk Saropah.
Sebab, pengolahan sirip ikan tuna cukup rumit. Belum lagi ditambah aromanya yang amis.
Lantas, apa alasan Saropah bertahan menjual kerupuk sirip ikan tuna?
"Kita kayak gini badan kurang lincah ke sana ke sini. Kalau (jualan) kerupuk kan cuma kita duduk aja. Niris, duduk. Jemur, duduk. Goreng, duduk. Bungkus, duduk. Segala macam, duduk," ucap Saropah, tertawa kecil.
Adapun Saropah menjual kerupuk sirip ikan tuna seharga Rp 10.000 per bungkus kecil.
Baca juga:
Sirip ikan tuna yang dulu tak bernilai diolah Saropah menjadi kerupuk bernilai ekonomi. Namun, cuaca tak tentu masih jadi penghambat usahanya.Pembuatan Kerupuk Sirip Ikan Tuna Ibu Saropah masih tradisional.
Saropah membersihkan sendiri sirip ikan tersebut, lalu membumbuinya.
Ia kemudian meletakkan sirip ikan tuna tersebut ke atas wadah persegi panjang beralaskan jaring dari senar, untuk kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari.
Jika cuaca mendukung, sirip ikan tuna bisa kering dalam waktu paling cepat sekitar lima hari.
Jika cuaca tak mendukung, apalagi ditambah hujan, waktunya bisa lebih lama lagi yakni sekitar delapan hari.
Hal inilah yang menjadi penghambat usaha Saropah, bahkan setelah menjalaninya selama 10 tahun.
Berbagai cara sudah ia coba, salah satunya dengan oven tradisional, tapi hasilnya tidak sebaik pengeringan dengan sinar matahari.
Meski begitu, Saropah tak main-main dengan kualitas. Jika produknya memang belum siap, ia tak akan mau menjualnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya