Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Deforestasi Dinilai Perparah Banjir di Aceh, Risiko Sudah Dipetakan Sejak Lama

Kompas.com, 19 Desember 2025, 12:41 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Deforestasi besar-besaran menyebabkan hilangnya tutupan hutan daerah aliran sungai (DAS) di Aceh, menurut Executive Director Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh, Farwiza Farhan. Pembukaan lahan berlangsung sejak 1990 di DAS Peusangan, DAS Krung Gero, dan DAS Tamiang.

"Implikasi dari kerusakan hutan yang terjadi di era 1990-an itu masih kita rasakan sampai sekarang. Salah satu buktinya adalah banjir bandang yang terjadi bulan lalu, yang menyapu 18 kabupaten di Provinsi Aceh," kata Farwiza dalam webinar di YouTube Madani Berkelanjutan, Kamis (18/12/2025).

Baca juga: 

Kajian tentang dampak banjir di Aceh tak didengar pemerintah

Kondisi terkini lokasi bencana di Bener Meriah, Aceh. KOMPAS.com/IWAN BAHAGIA Kondisi terkini lokasi bencana di Bener Meriah, Aceh.

Menurut Farwiza, Pemerintah Provinsi Aceh sesungguhnya telah memiliki Tim Penyusun Rencana Tata Ruang dan Evaluasi Strategis (TPRES). Tugasnya memetakan seluruh wilayah Aceh termasuk data tutupan hutan, sensitivitas lahan, curah hujan, dan sebaran penduduk.

Dari hasil pemetaan, ditemukan bahwa Aceh sudah tidak memiliki area tutupan hutan yang aman untuk dibuka.

"Artinya, setiap pembukaan lahan yang dilakukan sejak masa itu berisiko besar menimbulkan bencana," tutur dia.

Farwiza menjelaskan, dalam studi peneliti pascasarjana IPB University tahun 2020, DAS Tamiang memiliki sensitivitas yang sangat tinggi terhadap potensi banjir bandang.

Berdasarkan kajian tersebut, sekitar 70 persen desa di DAS Tamiang berisiko terdampak banjir bandang. Wilayah ini mencakup Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Aceh Tenggara.

"Jadi dampak banjir yang kita rasakan saat ini sebenarnya bukan hal baru. Ini sudah diketahui sejak lama melalui berbagai kajian ilmiah dan pemetaan pemerintah," papar Farwiza.

"Namun, seperti yang sering terjadi, bencana besar datang ketika hasil kajian para peneliti tidak didengarkan oleh pemerintah," imbuh dia.

Baca juga:

Mitigasi lemah perparah dampak siklon di Aceh

Rumah dan masjid yang tertimbun material longsor pasca bencana di Desa Lampahan Timur, Kecamatan Timang Gajah, Bener Meriah, Aceh, Minggu (14/12/2025). Berdasarkan data pos Komando tanggap darurat bencana hidrometeorologi Aceh mencatat sebanyak 14.352 rumah warga mengalami kerusakan berat dan ringan serta enam unit rumah ibadah rusak pasca bencana hidrometeorologi pada Rabu (26/11) lalu. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas Rumah dan masjid yang tertimbun material longsor pasca bencana di Desa Lampahan Timur, Kecamatan Timang Gajah, Bener Meriah, Aceh, Minggu (14/12/2025). Berdasarkan data pos Komando tanggap darurat bencana hidrometeorologi Aceh mencatat sebanyak 14.352 rumah warga mengalami kerusakan berat dan ringan serta enam unit rumah ibadah rusak pasca bencana hidrometeorologi pada Rabu (26/11) lalu.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sempat menyoroti lemahnya mitigasi yang memperparah dampak siklon senyar sehingga memicu banjir di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat.

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Cuaca Ekstrem BRIN, Erma Yulihastin menuturkan, aplikasi Sadewa milik BRIN telah mendeteksi siklon tersebut pada Rabu (19/11/2025), sedangkan Zoom Earth menelusuri bibit siklon 95B telah terlihat sejak Jumat (21/11/2025).

"Saya katakan kita punya SDM (sumber daya manusia), kita punya sumber daya teknologi di sini yang bisa membantu karena sebenarnya problem kita itu di mitigasi kan. Apa yang terjadi sekarang adalah proses mitigasi yang tidak berjalan dengan baik," tutur Erma, Selasa (9/12/2025).

Informasi ilmiah yang tidak diterjemahkan menjadi aksi mitigasi dini disebut sebagai permasalahan utama.

Baca juga: Bibit Siklon Tropis 91S Muncul di Samudera Hindia, Apa Dampaknya untuk Sumatera?

BRIN mencatat pola atmosfer kala itu menunjukkan kombinasi berbahaya, seperti cold surge, westerly burst, suhu muka laut yang hangat, da gelombang Rossby, memperkuat pusaran angin siklon senyar. Dampaknya pun langsung terasa di sejumlah wilayah.

"Kita bisa lihat bahwa ketika terjadi badai tropis pada tanggal 20 (November 2025) sudah ada beberapa wilayah yang terkena efek dari pembelokan angin atau penguatan angin. Makanya Tapanuli Tengah, Tapanuli sampai dengan Padang Sidempuan terkena karena ini area yang setiap hari terkena efek dari angin kencang disertai hujan," jelas Erma.

Erma menambahkan, peneliti BRIN mengembangkan dua sistem prediksi cuaca antara lain Sadewa untuk prakiraan jangka pendek dan Kamajaya untuk prakiraan bulanan.

Keduanya berbasis model yang sama, dan terbukti mampu menangkap potensi cuaca ekstrem jauh sebelum kejadian.

Kamajaya bahkan dapat mendeteksi potensi pusaran badai satu sampai dua bulan sebelum Siklon Senyar melintas, serta memantau enam bulan sebelum terbentuknya siklon seroja pada 2021.

"Apabila ini diintegrasikan, ini akan menjadi tools (alat) yang powerful (kuat) yang bisa membantu dalam hal mitigasi," ujar dia.

Baca juga: Gelondong Bernomor Di Banjir Sumatera

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau