Sebelumnya, Direktur Eksekutif Sawit Watch, Achmad Surambo mengatakan, ekspansi perkebunan kelapa sawit baik di dalam maupun di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo dapat terjadi akibat pembiaran secara terus-menerus.
Surambo menganggap pengusiran masyarakat lokal yang tinggal dalam atau sekitar kawasan Taman Nasional Tesso Nilo hanya akan sekadar memindahkan permasalahan tanpa adanya upaya penyelesaian.
Menurut Surambo, jalan penyelesaian permasalahan tersebut hanya dengan mengajak masyarakat lokal berdialog melalui pendekatan hak asasi manusia (HAM).
Dengan demikian, perlu mengajak memosisikan gajah sumatera dan harimau sumatera sebagai spesies kunci yang penting.
Ia berharap, masyarakat lokal dapat bisa hidup berdampingan dengan gajah sumatera dan harimau sumatera.
Oleh karena itu, perlu pula penataan ruang di sekitar kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, termasuk untuk mengakomodasi koridor atau wilayah jelajah gajah sumatera dan wilayah jelajah harimau sumatera.
"Penting sekarang menata ruang, membuat komitmen-komitmen dengan masyarakat. Jangan (di)lihat hanya Taman Nasional. Jangan sampai orang melihat ya karena yang lemah itu masyarakat, sehingga mohon maaf, digusur-gusur itu," tutur Surambo kepada Kompas.com, Selasa (25/11/2025).
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya