Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Waspada Hujan Lebat Selama Natal 2025 dan Tahun Baru 2026

Kompas.com, 24 Desember 2025, 16:05 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat mewaspadai potensi hujan lebat selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani mengatakan, aktifnya Monsun Asia menjadi pemicu utama peningkatan suplai massa udara basah yang akan memicu hujan pada akhir tahun ini.

Baca juga: 

Hujan lebat selama Natal 2025 dan tahun baru 2026

Peningkatan curah hujan diprediksi terjadi hingga awal Januari 2026

Hujan intensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi terjadi di sebagian wilayah Riau, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selayan, dan Papua Selatan.

“Namun, secara klimatologis wilayah yang perlu diwaspadai meliputi Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua Selatan. Peningkatan curah hujan ini diperkirakan terjadi mulai akhir Desember hingga awal Januari 2026,” ujar Andri dalam keterangannya, Selasa (23/12/2025).

Di sisi lain, cuaca di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat diprediksi berupa hujan ringan dengan laju kurang dari 20 milimeter per hari. Ketiga wilayah itu diketahui sempat mengalami banjir dan longsor pada akhir November lalu.

“Meski demikian, beberapa titik di Aceh masih masuk kategori kuning (hujan sedang), sehingga masyarakat tetap diminta waspada,” papar Andri.

BMKG meminta masyarakat mewaspadai hujan lebat delama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Daerah mana saja yang terdampak?canva.com BMKG meminta masyarakat mewaspadai hujan lebat delama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Daerah mana saja yang terdampak?

Oleh sebab itu, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Andri memastikan, OMC terbukti efektif menurunkan intensitas curah hujan sebesar 23,35 persen di Aceh, 15,48 persen di Sumatera Utara, dan 20,23 persen di Sumatera Barat.

"Berdasarkan hasil analisis di atas, selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, BMKG merekomendasikan masyarakat untuk tetap tenang dan waspada dalam menghadapi dinamika cuaca," tutur dia.

Masyarakat bisa memperhatikan potensi hujan lebat disertai angin kencang yang dapat memicu banjir serta longsor, terutama di wilayah perbukitan dan pesisir.

Baca juga:

Hati-hati dalam perjalanan darat, laut, dan udara

Di sisi lain, masyarakat diminta berhati-hati dalam merencanakan perjalanan via darat, laut, ataupun udara, serta kegiatan wisata di luar ruangan saat malam pergantian tahun dan memantau perkembangan cuaca melalui aplikasi InfoBMKG.

BMKG memantau cuaca secara real-time melalui ribuan sensor dan radar di seluruh Indonesia untuk memberikan informasi tercepat jika terjadi perubahan cuaca signifikan.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari menilai informasi BMKG dapat dijadikan rujukan untuk mengenali potensi risiko bencana di tempat yang dituju.

“Sekali lagi tentu saja kondisi cuaca ini tidak untuk menghalangi masyarakat untuk berakhir tahun menikmati waktu bersama keluarga. Ketika akan beraktifitas di luar ruangan kenali jalur evakuasi titik kumpul dan selalu update informasi BMKG,” ucap Abdul.

Potensi cuaca ekstrem

BMKG meminta masyarakat mewaspadai hujan lebat delama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Daerah mana saja yang terdampak?KOMPAS.com/Lalu Muammar Q BMKG meminta masyarakat mewaspadai hujan lebat delama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Daerah mana saja yang terdampak?

Sebelumnya, BMKG memprediksi cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan angin kencang bakal melanda sejumlah daerah dari Selasa (23/12/2025) sampai Senin (29/12/2025).

Menurut Andri, kondisi itu disebabkan meningkatnya fenomena seruakan dingin Asia.

Di samping itu, terjadi bibit siklon tropis 93S di Samudera Hindia barat daya Jawa Barat yang memicu hujan intensitas sedang hingga lebat dalam tiga hari terakhir di Lampung, Banten, Jawa Barat, serta DKI Jakarta.

BMKG memperkirakan, fenomena atmosfer skala global, regional, dan lokal bakal mempengaruhi cuaca di Indonesia hingga sepekan ke depan.

Andri menyebut, pada skala global hingga regional, tercatat perbedaan tekanan lebih dari 10 hPa antara Gushi dengan Hong Kong pada Minggu (21/12/2025).

"Mengindikasikan adanya perambatan seruakan dingin dari Asia menuju Indonesia, yang memicu peningkatan intensitas hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi ini diperkirakan masih akan terjadi terutama saat periode Natal 2025," jelas dia.

BMKG turut melaporkan suhu muka laut yang hangat dapat meningkatkan potensi penguapan di Pesisir Barat Aceh hingga Lampung, Selat Malaka, Perairan selatan Kepulauan Natuna, Perairan barat Kalimantan Barat, Perairan Timur Kalimantan Timur, Perairan Timur Kalimantan Utara, Perairan Utara Jawa bagian Barat-Tengah, Teluk Cendrawasih, Teluk Bone, Laut Sulawesi, Laut Maluku, Laut Banda, serta Samudera Pasifik utara Papua.

Baca juga:

Kondisi La-Nina yang lemah juga meningkatkan potensi hujan di Indonesia bagian timur. Kata Andri, kombinasi antara Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang atmosfer diprakirakan aktif di Samudera Hindia Barat Aceh, Samudera Hindia Barat Kepulauan Nias, Selat Malaka Bagian Utara sehingga memicu pertumbuhan awan hujan di wilayah ini.

Bibit siklon tropis 93S dengan tekanan di pusat 985 hPa, dan kecepatan maksimum di dekat pusat sebesar 55 knot, diperkirakan berada di Samudera Hindia barat daya Banten dengan arah pergerakan ke barat.

Bibit siklon tropis ini membentuk daerah perlambatan kecepatan angin, dan pertemuan angin di Pesisir Barat Lampung hingga selatan Jawa Barat yang dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitarnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Pemerintah
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Pemerintah
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
LSM/Figur
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Pemerintah
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Swasta
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
Pemerintah
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau