Penulis
KOMPAS.com - Panas ekstrem jadi perhatian serius jelang Piala Dunia 2026 yang berlangsung mulai Juni 2026, tepatnya dari Kamis (11/6/2026) sampai Minggu (19/7/2026), di Amerika Serikat.
Beberapa bulan sebelum ajang sepak bola dunia itu dimulai, penyelenggara menghadapi tantangan berupa suhu tinggi yang melanda Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Kondisi cuaca ini berpotensi mengganggu keselamatan pemain, wasit, dan penonton.
Baca juga:
Suhu yang terus meningkat memunculkan masalah logistik yang belum sepenuhnya teratasi. Panas ekstrem bisa memengaruhi performa pemain dan pengalaman menonton. Risiko kesehatan juga meningkat, terutama bagi penonton yang tak terbiasa dengan cuaca panas.
Tampak atas SoFi Stadium yang berlokasi di Inglewood, California, pada 22 April 2021. Cuaca panas ekstrem berpotensi mengganggu Piala Dunia 2026. FIFA dan penyelenggara siapkan jeda pendinginan dan jadwal khusus.Di SoFi Stadium, Los Angeles, Amerika Serikat, yang akan menggelar delapan pertandingan Piala Dunia 2026, pengelola sudah menyiapkan langkah antisipasi.
"Mengingat bahwa Anda dapat menampung 70.000 orang dalam sebuah gedung, energi, kegembiraan, dan aktivitas yang menyertainya, serta suhu yang lebih tinggi, itulah saat kami ingin memastikan bahwa kami merespons dengan tepat," ucap wakil presiden operasional perusahaan pengelola stadion tersebut, Otto Benedict, dilansir dari AFP, Jumat (2/1/2026).
Sekitar 15 kipas industri berkabut (industrial misting fans) dengan tinggi lebih dari dua meter siap digunakan. Kipas ini akan dikeluarkan jika suhu melebihi sekitar 26,7 derajat celsius.
Atap stadion yang menggantung di ketinggian 45 meter disebut memberi perlindungan dari sinar matahari langsung.
Bukaan besar di sisi stadion juga memungkinkan angin laut dari Samudera Pasifik masuk. Sistem ini berfungsi sebagai pendingin alami.
Cuaca panas ekstrem berpotensi mengganggu Piala Dunia 2026. FIFA dan penyelenggara siapkan jeda pendinginan dan jadwal khusus.Kendati demikian, tidak semua dari 16 stadion Piala Dunia 2026 memiliki fasilitas modern seperti SoFi Stadium. Wilayah California selatan, yang jadi lokasi stadion tersebut, juga bukan daerah dengan risiko panas tertinggi.
Sebagai informasi, jadwal pertandingan Piala Dunia 2026 berlangsung pada musim panas, berbeda dengan Piala Dunia 2022 di Qatar yang digelar pada musim dingin.
Kekhawatiran akan panas ekstrem diperkuat oleh studi di International Journal of Biometeorology pada Januari 2025.
Studi ini menyebut adanya "kekhawatiran serius" terhadap kesehatan pemain dan ofisial pertandingan akibat suhu tinggi.
Enam kota tuan rumah masuk kategori berisiko tinggi yaitu Monterrey, Miami, Kansas City, Boston, New York, dan Philadelphia.
Laporan "Pitches in Peril" dari organisasi nirlaba Football for Future mencatat bahwa pada tahun 2025, kota-kota tersebut mengalami setidaknya satu hari dengan suhu di atas 35 derajat celsius pada skala wet-bulb globe temperature (WBGT).
WBGT mengukur panas dengan mempertimbangkan kelembapan dan menjadi batas toleransi panas manusia.
Masalah panas juga muncul pada FIFA Club World Cup 2025 di Amerika Serikat. Banyak pemain dan pelatih mengeluhkan kondisi cuaca.
Sejarah mencatat, panas ekstrem juga terjadi pada Piala Dunia 1994, turnamen terakhir yang digelar di Amerika Serikat.
Baca juga:
Cuaca panas ekstrem berpotensi mengganggu Piala Dunia 2026. FIFA dan penyelenggara siapkan jeda pendinginan dan jadwal khusus.Sebagai respons, FIFA mewajibkan jeda pendinginan otomatis pada menit ke-22 dan ke-67 di setiap pertandingan. Aturan ini berlaku tanpa melihat kondisi cuaca.
Jadwal pertandingan juga disusun dengan mempertimbangkan risiko panas. Laga siang hari umumnya ditempatkan di stadion berpendingin udara, seperti Dallas, Houston, dan Atlanta. Stadion dengan risiko lebih tinggi dijadwalkan menggelar laga malam.
Juru bicara serikat pemain FIFPro mengatakan, penyusunan jadwal ini menunjukkan upaya melindungi kesehatan dan performa pemain.
“Anda dapat dengan jelas melihat upaya untuk menyelaraskan perencanaan jadwal kompetisi dan pemilihan venue dengan pertimbangan terkait kesehatan pemain, serta performa pemain,” kata juru bicara FIFPro.
Meski begitu, FIFPro menilai masih ada pertandingan dengan risiko tinggi. Organisasi ini merekomendasikan penundaan laga jika suhu WBGT melebihi 28 derajat celsius.
Beberapa laga fase grup pada sore hari di New York, Boston, dan Philadelphia menjadi sorotan. Final Piala Dunia 2026 yang dijadwalkan pukul 15.00 waktu setempat di New York juga dinilai berisiko tinggi.
Ilustrasi sepak bola.Risiko panas tidak hanya mengancam pemain. Penonton juga menghadapi bahaya yang sering diremehkan.
Chris Fuhrmann dari Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) mengatakan, aktivitas bersorak meningkatkan panas metabolik tubuh. Detak jantung naik, dan kondisi fisik penonton umumnya tidak sebaik atlet.
"Saat bersorak, sebenarnya Anda menghasilkan banyak panas metabolik dan detak jantung Anda meningkat. Penonton, dibandingkan dengan atlet profesional, umumnya tidak dalam kondisi fisik yang sebaik atlet profesional," jelas Fuhrmann.
"Mereka memiliki banyak kondisi kesehatan lain yang meningkatkan kemungkinan mereka mengalami hasil kesehatan yang buruk atau terkena stres panas," lanjut dia.
Efek panas perkotaan dari beton dan aspal bisa memperparah suhu di stadion. Sirkulasi udara yang baik, area teduh, dan akses air minum menjadi faktor penting.
Tidak hanya itu, konsumsi alkohol juga bisa memperburuk risiko dehidrasi.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya