Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Ekologis di Jawa Barat, Pakar IPB Jelaskan Ancaman di Tiap Wilayah

Kompas.com, 2 Januari 2026, 17:55 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tekanan pembangunan yang semakin masif disebut memperparah krisis ekologis di Jawa Barat.

Menurut pakar ekologi politik dari IPB University, Arya Hadi Dharmawan, krisis ekologis di Jawa Barat tidak bisa disamaratakan untuk setiap daerah. Masing-masing daerah mempunyai karakteristik ekosistem yang berbeda-beda.

Baca juga:

“Untuk memahami kondisi Jabar (Jawa Barat), kita harus melihatnya berdasarkan karakteristik ekosistem. Krisis ekologis yang terjadi berbeda-beda antara wilayah utara, tengah, selatan, barat, dan timur,” ujar Arya, dilansir dari laman resmi IPB, Jumat (2/1/2026).

Pembangunan perparah krisis ekologis Jawa Barat

Beda wilayah, beda krisis ekologis

Di wilayah utara Jawa Barat, menurut Arya, krisis ekologis disebabkan alih fungsi lahan. Bahkan, wilayah utara disebut menghadapi tekanan terberat dari pembangunan di Jawa Barat.

Wilayah utara Jawa Barat dinilai menjadi "arena tarik-menarik" antara pembangunan infrastruktur, industri, serta sektor pertanian. Hal ini diperburuk dengan adanya ancaman abrasi laut dan penurunan muka tanah.

“Alih fungsi lahan di wilayah utara mencapai sekitar 2.000 hektar per tahun untuk jalan tol, kawasan industri, hingga pusat perbelanjaan. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Jabar,” uca Arya. 

Baca juga: BNPB Catat 3.176 Bencana Alam di Indonesia 2025, Banjir dan Longsor Mendominasi

Selanjutnya, di wilayah tengah Jawa Barat, terutama Bandung Raya, krisis ekologis dinilai disebabkan deforestasi di kawasan hulu.

Sementara itu, di kawasan hilirnya, krisis ekologis dinilai dipicu urbanisasi, yang mana semakin padatnya populasi penduduk menyababkan perluasan area permukiman.

“Deforestasi di wilayah hulu dan penumpukan penduduk di cekungan memperbesar risiko banjir sekaligus mempercepat degradasi lingkungan,” tutur Arya.

Banjir setinggi sekitar 1 meter merendam Perumahan Griya Cikeas, Desa Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (29/12/2025) sore.Tangkapan layar Banjir setinggi sekitar 1 meter merendam Perumahan Griya Cikeas, Desa Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (29/12/2025) sore.

Sementara itu, di wilayah selatan Jawa Barat, krisis ekologis juga disebut sudah mengkhawatirkan, khususnya di daerah aliran sungai (DAS). Arya mencontohkan kondisi DAS Citanduy yang membentang dari Gunung Sawal hingga pesisir selatan Jawa Barat.

“Pengalaman kami mendampingi pemulihan DAS Citanduy menunjukkan krisis yang luar biasa, mulai dari hulu hingga ke hilir,” ujar Arya.

Di wilayah barat Jawa Barat, krisis ekologis dinilai disebabkan tekanan dari pembangunan permukiman untuk menampung lonjakan jumlah penduduk.

Berbatasan dengan DKI Jakarta, wilayah barat Jawa Barat ini menjadi tempat tinggal bagi penduduk penglaju yang bekerja ke ibu kota.

Saat ini, jumlah penduduk Jawa Barat mencapai 50 juta jiwa, dengan Bogor, Depok, dan Bekasi (Bodebek) menjadi wilayah yang tingkat kepadatannya ekstrem.

Dampaknya, wilayah barat Jawa Barat tak hanya menghadapi krisis ekologis, tapi juga permasalahan, seperti sengketa lahan, peningkatan kasus kriminalitas, dan konflik sosial-ekonomi lainnya.

Baca juga: Update Banjir Sumatera, Tim Gabungan Masih Bersihkan Tumpukan Kayu dan Limbah

Kondisi banjir di Jalan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat beberwpa waktu lalu. Banjir tersebut diakibatkan luapan sungai Citarum yang melintasi di sebagian besar wilayah Kabupaten Bandung.KOMPAS.COM/M. Elgana Mubarokah Kondisi banjir di Jalan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat beberwpa waktu lalu. Banjir tersebut diakibatkan luapan sungai Citarum yang melintasi di sebagian besar wilayah Kabupaten Bandung.

Di sisi lain, sejumlah DAS utama di Jawa Barat, seperti Citarum, Ciliwung, Cisadane, dan Cimanuk, telah mengalami pencemaran berat dan sedimentasi.

“Risikonya jelas, banjir di wilayah hilir dan kekeringan di wilayah hulu,” tutur Arya.

Arya menggarisbawahi pentingnya penyelarasan data ekologis lintas wilayah dan lintas lembaga. Ketidaksinkronan data berpotensi melahirkan kebijakan yang keliru.

“Data yang tidak presisi akan menghasilkan kebijakan yang tidak presisi pula. Inilah yang kami sebut sebagai policy blindness atau kebijakan yang buta,” ucapnya.

Baca juga:

Pemberlakuan kebijakan satu peta dan satu data nasional diperlukan agar pemerintah pusat dan daerah dapat membaca fakta ekologis pada halaman yang sama.

Presiden Prabowo Subianto, kata dia, sebaiknya memimpin langsung penyelarasan data lintas kementerian dan lintas provinsi. Apalagi, persoalan kebijakan satu peta atau satu data nasional ini tidak bisa diselesaikan oleh satu daerah saja.

Ia berharap kebijakan tersebut bisa menjadi pijakan penting bagi pemerintah daerah dalam menyeimbangkan pembangunan dan keberlanjutan ekosistem. Hal ini supaya risiko krisis ekologis yang lebih parah pada masa depan dapat dicegah.

Sebagai informasi, banjir melanda wilayah Bandung Barat pada Desember 2025 lalu. Dilaporkan Kompas.com, Jumat (12/12/2025), banjir bandang usai hujan deras menyapu 13 rumah warga di Kampung Leuweng Datar, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Banjir yang membawa lumpur itu diduga dipicu gundulnya area perbukitan yang tengah digarap proyek perumahan tanpa drainase yang memadai.

Tidak hanya itu, dilaporkan Kompas.com, Jumat (5/12/2025), banjir bandang juga menerjang aliran Sungai Cibitung di Desa Mukapayung, Kabupaten Bandung Barat. 

Salah satu penyebabnya diduga akibat kerusakan daya dukung hutan di Ciwidey yang saat ini beralih menjadi area pertanian sehingga memperparah limpasan air menuju wilayah hilir.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertumbuhan Ikan Global Terus Menurun Akibat Perubahan Lingkungan
Pertumbuhan Ikan Global Terus Menurun Akibat Perubahan Lingkungan
Pemerintah
Perkuat Ekonomi Petani, Dairi Prima Mineral Luncurkan Program Agribisnis
Perkuat Ekonomi Petani, Dairi Prima Mineral Luncurkan Program Agribisnis
Swasta
Stres dan Jam Kerja Berlebih Jadi Ancaman Kematian Dini Pekerja Global
Stres dan Jam Kerja Berlebih Jadi Ancaman Kematian Dini Pekerja Global
Pemerintah
Perkuat Ketahanan Masyarakat Pesisir, Wahana Visi Indonesia Rehabilitasi Mangrove
Perkuat Ketahanan Masyarakat Pesisir, Wahana Visi Indonesia Rehabilitasi Mangrove
LSM/Figur
Arisan Telur Jadi Cara Unik Desa di Ngawi Cegah Stunting
Arisan Telur Jadi Cara Unik Desa di Ngawi Cegah Stunting
LSM/Figur
Rentan Krisis Global, Target Dedieselisasi Perlu Diperluas ke Pembangkit Listrik Energi Fosil Lain
Rentan Krisis Global, Target Dedieselisasi Perlu Diperluas ke Pembangkit Listrik Energi Fosil Lain
LSM/Figur
Sediakan Kredit Karbon, Pertamina NRE Dukung Kampanye IDXCarbon 'Aku Net-Zero Hero'
Sediakan Kredit Karbon, Pertamina NRE Dukung Kampanye IDXCarbon "Aku Net-Zero Hero"
BUMN
Data Satelit Ungkap TPA Bantargebang Jadi Kontributor Emisi Metana Tertinggi Kedua di Dunia
Data Satelit Ungkap TPA Bantargebang Jadi Kontributor Emisi Metana Tertinggi Kedua di Dunia
LSM/Figur
Laporan Terbaru: 266 Juta Penduduk Dunia Hadapi Krisis Pangan Akut
Laporan Terbaru: 266 Juta Penduduk Dunia Hadapi Krisis Pangan Akut
Pemerintah
Dampak Konflik Timur Tengah, Asia-Pasifik Berpotensi Rugi Rp 5.158 Triliun
Dampak Konflik Timur Tengah, Asia-Pasifik Berpotensi Rugi Rp 5.158 Triliun
Pemerintah
Dampak Nyata Perubahan Iklim, Mulai Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Dunia
Dampak Nyata Perubahan Iklim, Mulai Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Dunia
Pemerintah
Kesembuhan Kanker Anak Dunia Naik, Tapi Ada Ketimpangan Antar Negara
Kesembuhan Kanker Anak Dunia Naik, Tapi Ada Ketimpangan Antar Negara
Pemerintah
Gerakan Novo Club Ajak Ratusan Ribu Mahasiswa Ciptakan Dampak Nyata
Gerakan Novo Club Ajak Ratusan Ribu Mahasiswa Ciptakan Dampak Nyata
Swasta
Dilema Pemberantasan Ikan Sapu-Sapu di Indonesia
Dilema Pemberantasan Ikan Sapu-Sapu di Indonesia
LSM/Figur
Bencana Alam Berpotensi Ganggu Pelaksanaan Pemilu Dunia
Bencana Alam Berpotensi Ganggu Pelaksanaan Pemilu Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau