KOMPAS.com - Taiwan telah mencapai target tahunan terkait penurunan polusi udara partikulat halus (PM2.5) pada tahun 2025.
Kementerian Lingkungan Hidup Taiwan melaporkan rata-rata konsentrasi PM2.5 pada tahun 2025 sebesar 12,6 mikrogram per meter kubik, di bawah target 14 mikrogram.
Capaian tersebut menunjukkan kemajuan Taiwan dalam mengurangi paparan PM2.5, dilansir dari Eco-Business, Sabtu (3/1/2026).
Baca juga:
Taiwan menekan rata-rata PM2.5 menjadi 12,6 mikrogram pada 2025, melampaui target nasional dan menunjukkan kemajuan kualitas udara.Diketahui, PM2.5 adalah partikel di udara dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan aliran darah.
Merujuk pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ambang batas paparan PM2.5 tahunan sebesar lima mikrogram per meter kubik, di atas itu risiko kesehatan naik secara bertahap.
Paparan PM2.5 tahunan di atas 10 mikrogram dalam jangka panjang akan menimbulkan peningkatan risiko penyakit jantung, strok, dan kanker paru-paru.
Paparan PM2.5 tahunan di atas 25 mikrogram dalam jangka panjang dikaitkan dengan kenaikan secara drastis jumlah rawat inap dan kematian dini.
Berdasarkan dokumen kebijakan kualitas udara yang dirilis pada Mei 2025, Taiwan menargetkan penurunan paparan PM2.5 menjadi 10 mikrogram pada tahun 2030, serta di bawah delapan mikrogram pada tahun 2035.
Baca juga:
Taiwan menekan rata-rata PM2.5 menjadi 12,6 mikrogram pada 2025, melampaui target nasional dan menunjukkan kemajuan kualitas udara.Taiwan mulai memantau polusi udara partikulat ultrahalus (PM0.1) mulai Kamis (1/1/2026), sebagaimana standar Uni Eropa (UE).
PM0.1 adalah partikel berdiameter kurang dari 0,1 mikrometer, yang jauh lebih kecil daripada PM2.5, serta bisa masuk ke aliran darah dan organ dengan lebih mudah. PM0.1 lebih berbahaya ketimbang PM2.5 bagi kesehatan manusia.
Profesor keselamatan dan kesehatan kerja di Universitas Kedokteran China, Yang Li-hao, menggambarkan PM0.1 sebagai "kuda Troya" yang dapat membawa zat beracun jauh ke dalam tubuh.
Adapun luas permukaan total PM0.1 sekitar 100 kali lipat dari massa PM2.5 yang sama.
Uni Eropa telah mewajibkan negara-negara anggota untuk menyelesaikan jaringan pemantauan PM0.1 pada akhir tahun depan. Taiwan pun akan mendirikan tiga stasiun pemantauan resmi di Taipei, Taichung, serta Tainan.
Negara tersebut juga mendirikan tiga stasiun akademis di Taipei dan Kaohsiung, terutama di titik-titik rawan lalu lintas, yang mana PM0.1 sering dihasilkan oleh keausan ban.
Taiwan mulai menerapkan jaringan pemantauan PM2.5 pada tahun 2005 dan kualitas udara telah membaik sejak saat itu.
"Memulai pemantauan PM0.1 20 tahun kemudian dapat dilihat sebagai awal dari generasi baru tata kelola kualitas udara," ujar Kepala Divisi Kualitas Udara Kementerian Lingkungan Hidup Taiwan, Huang Wei-ming.
Taiwan menekan rata-rata PM2.5 menjadi 12,6 mikrogram pada 2025, melampaui target nasional dan menunjukkan kemajuan kualitas udara.Di sisi lain, Taiwan juga akan memperbaiki penanganan polusi ozon dengan memperketat kontrol terhadap produk-produk yang mengeluarkan senyawa organik volatil (VOCs).
Jumlah hari yang memicu peringatan merah untuk paparan polusi ozon selama delapan jam mencapai 88 hari pada 2025, atau turun 72 persen dari tahun 2019. Namun, secara umum tetap stabil selama lima tahun terakhir.
Polusi ozon di permukaan tanah adalah polutan udara berbahaya yang mengiritasi sistem pernapasan, berbeda dari lapisan ozon pelindung di atmosfer bagian atas.
Konsentrasi polusi ozon rata-rata per jam sedikit meningkat pada tahun 2025, yang mana menunjukkan bahwa upaya perbaikan telah terhenti.
Para pejabat Taiwan meyakini krisis iklim memperburuk polusi ozon, yang mana peningkatan suhu beriringan dengan kenaikan konsentrasi VOCs di atmosfer.
VOCs adalah kelompok besar bahan kimia yang mudah menguap ke udara dan dilepaskan dari berbagai sumber, mulai dari knalpot kendaraan dan pabrik hingga cat dan produk pembersih.
Bersama dengan nitrogen oksida (NOx), VOCs bertindak sebagai prekursor ozon, membentuk ozon melalui reaksi fotokimia yang dipercepat dalam kondisi panas. NOx adalah gas yang terutama dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar di kendaraan, pembangkit listrik, dan fasilitas industri.
Untuk mengatasi polusi ozon, Kementerian Lingkungan Hidup Taiwan berencana memperkuat pengawasan tidak hanya terhadap fasilitas industri dan kendaraan, tapi juga sumber VOCs lainnya, seperti cat bangunan dan produk pembersih rumah tangga.
“Senyawa organik volatil hadir dalam berbagai bentuk. Senyawa ini tidak hanya dipancarkan oleh industri dan transportasi, tetapi juga dari kehidupan sehari-hari, yang membuat pengaturan senyawa ini sangat sulit,” ucap Wei-min.
Baca juga:
Taiwan menekan rata-rata PM2.5 menjadi 12,6 mikrogram pada 2025, melampaui target nasional dan menunjukkan kemajuan kualitas udara.Berangkat dari upaya Taiwan, berinvestasi untuk kesehatan bumi dinilai berdampak baik bagi produk domestik bruto (PDB).
Berdasarkan laporan The Global Environment Outlook, Seventh Edition: A Future We Choose (GEO-7), berinvestasi untuk kestabilan iklim, alam dan lahan yang sehat, serta planet bebas polusi bisa menghasilkan triliunan dollar Amerika Serikat setiap tahun dalam bentuk tambahan produk domestik bruto (PDB) global.
Bahkan, investasi tersebut dapat mencegah jutaan kematian, serta menghindarkan ratusan juta orang dari kelaparan dan kemiskinan dalam beberapa dekade mendatang, dilansir dari Eco-Business.
Apalagi, risis iklim kerusakan alam dan keanekaragaman hayati, degradasi lahan, serta polusi udara mematikan yang berkepanjangan, memakan biaya sangat besar bagi manusia, planet, maupun perekonomian suatu negara.
Laporan yang dirilis selama sesi ketujuh Majelis Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Nairobi tersebut merupakan hasil karya 287 ilmuwan multidisiplin dari 82 negara tersebut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya