Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tanpa Dukungan Kebijakan, Eliminasi Kanker Serviks Tertinggal dari Penanganan Stunting

Kompas.com, 12 Januari 2026, 11:58 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Berdasarkan data BPJS Kesehatan pada 2023, kanker menduduki peringkat kedua pembiayaan tertinggi setelah penyakit jantung.

Kanker payudara menjadi yang paling sering diderita perempuan di Indonesia dan memang belum ada vaksinasinya. Sedangkan kanker leher rahim atau serviks yang kedua paling sering diderita perempuan di Indonesia, sebenarnya sudah ada vaksinasinya.

Baca juga: Kebijakan Pencegahan Kanker Serviks di Indonesia Dinilai Belum Menyeluruh

Namun, kebanyakan pasien penderita kanker serviks di Indonesia datang untuk berobat saat sudah berada pada stadium lanjut. Akibatnya, dokter sudah tidak bisa berbuat banyak dan persentase orang yang masih hidup lima tahun usai didiagnosis (five-year survival rate) sudah buruk sekali.

"Tentu menjadi tanda tanya untuk kita semua karena menjadi kanker peringkat kedua, tetapi kalau dilihat bahwa ada vaksinasinya, modalitas skriningnya banyak. Tentu ini juga akan menjadi kekhawatiran kita bersama," ujar Dokter di RSD Mangusada Kabupaten Badung, Chandranita Manuaba dalam webinar Sarasehan Selamatkan Perempuan Indonesia (SPRIN), Kamis (8/1/2026).

Semua perempuan berisiko terkena kanker serviks yang 99,7 persen disebabkan infeksi human papilloma virus (HPV). Terdapat HPV onkogenik yang berisiko tinggi di Indonesia, seperti tipe 16, 18, 31, 33, 45, 52, dan 58.

"Saya akan overview sedikit bahwa sekarang bukan lagi gaya hidup. Ini dari penelitian menyampaikan bahwa 99,7 persen kanker serviks itu disebabkan oleh infeksi HPV yang persisten. Walaupun ada disampaikan bahwa 10 persen itu bisa regresi spontan, tetapi 90 persen-nya itu akan persisten dan akan entah kapan menjadi kanker serviks," tutur Chandranita.

Rendahnya Vaksinasi

Selain temuan kasus pada stadium lanjut yang berdampak penanganan tidak optimal, permasalahan kanker serviks di Indonesia juga terkait rendahnya cakupan vaksinasi HPV dan skrining dalam satu dekade terakhir.

Ketiga faktor mencerminkan tingginya angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian dalam populasi (mortalitas) kanker serviks di Indonesia.

Dari aspek masyarakat, terdapat beberapa tantangan dalam penanganan kanker serviks. Pertama, rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang risiko kanker serviks, termasuk tidak melakukan hubungan seksual pada usia sangat muda dan berganti-ganti pasangan.

Kedua, persepsi dan budaya tabu menimbulkan keyakinan yang salah, sehingga menguatkan keengganan perempuan untuk segera memeriksakan diri.

Ketiga, rasa malu dan takut terhadap prosedur maupun hasil pemeriksaan menyebabkan perempuan pasien datang ke rumah sakit dalam kondisi sudah stadium lanjut. Keempat, kurangnya dukungan suami, keluarga, dan lingkungan terdekat perempuan.

Kelima, iklan dan promosi menyesatkan yang diyakini benar.

"Sebetulnya kalau kita lihat di media sosial itu banyak sekali. Masyarakat karena rasa takut akan misalnya kemoterapi, radioterapi, bahkan operasi, akan cenderung untuk memilih hal-hal yang menurut mereka lebih simpel. Itu juga menjadi salah satu penyebab pasien-pasien itu datang pada stadium lanjut ke rumah sakit," ucapnya.

Dari aspek regulasi, dasar eliminasi kanker serviks tertuang dalam Pasal 28 H UUD 1945 dan UU 17/2023 tentang Kesehatan. Kemudian, ada beberapa regulasi teknis dalam eliminasi kanker serviks. Pertama, PMK 29/2017 berfokus penanggulangan umum kanker serviks dan peyudara dengan pendekatan layanan kesehatan primer.

Kedua, KMK 2176/2023 berfokus introduksi dan pelaksanakan imunisasi HPV 2022-2024, terutama untuk ana usia sekolah. Ketiga, KMK 6779/2021 berfokus program imunisasi, skrining, perawatan, rujukan, serta koordinasi kebijakan. Keempat, KMK 987/2025 berfokus pada pelaksanaan deteksi dini kanker serviks berbasis metode HPV/DNA sebagai standar skrining.

"Kedua itu (vaksinasi dan skrining) fokus pada bagaimana kita melatih nakes, kemudian yang tidak kalah pentingnya itu memeratakan. Jadi, jangan sampai nakes terlatih itu terpusat hanya di kota saja, sehingga cakupan tentu akan rendah," ujar pengurus POGI Cabang Bali ini.

Ruang Kosong

Ia menilai, berbagai permasalahan di atas disebabkan adanya ruang kosong dalam kebijakan kanker serviks di Indonesia. Di antaranya, belum ada regulasi payung bersifat menyeluruh; tidak ada pembiayaan jangka panjang; tidak ada kewajiban pemeriksaan rutin secara nasional, serta integrasi data skrining belum kuat.

Sebagai perbandingan, program penurunan angka kematian ibu (AKI) dan stunting telah menunjukkan keberhasilan secara signifikan. Itu dipengaruhi pemanfaatan aplikasi berbasis mobile untuk pemantauan dan pelaksanaan berbagai programnya yang terstruktur. Khususnya, dengan adanya Komite Nasional Percepatan Perbaikan Gizi (Komnas PPG).

Baca juga: Eliminasi Kanker Serviks, 90 Persen Anak Indonesia Ditarget Terlindungi dari HPV

"(Komnas PPG) ini (salah satu) yang belum dimiliki oleh program eliminasi kanker serviks. Kalau kita bandingkan prosesnya, wajar AKI dan stunting ini angkanya menurun, karena dukungannya (lebih besar dari program eliminasi kanker serviks)," ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tanpa Dukungan Kebijakan, Eliminasi Kanker Serviks Tertinggal dari Penanganan Stunting
Tanpa Dukungan Kebijakan, Eliminasi Kanker Serviks Tertinggal dari Penanganan Stunting
LSM/Figur
PBB Pastikan Kerja Sama Global Berlanjut meski AS Tarik Diri
PBB Pastikan Kerja Sama Global Berlanjut meski AS Tarik Diri
Pemerintah
Pertama Kalinya, KNMP di Bulukumba Sulsel Ekspor Hampir 1 Ton Ikan ke Timur Tengah
Pertama Kalinya, KNMP di Bulukumba Sulsel Ekspor Hampir 1 Ton Ikan ke Timur Tengah
Pemerintah
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Swasta
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Swasta
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
LSM/Figur
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Pemerintah
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Pemerintah
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Pemerintah
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Pemerintah
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
Pemerintah
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
LSM/Figur
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Pemerintah
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
LSM/Figur
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau