KOMPAS.com - Studi dari University of Edinburgh mengungkapkan bahwa makanan anjing menyumbang 1 persen emisi gas rumah kaca (GRK) di Inggris. Peneliti menyebut, produk makanan anjing basah, mentah, dan daging berkaitan dengan peningkatan emisi yang lebih tinggi dibanding makanan kering.
“Penelitian kami menunjukkan betapa besar dan beragamnya dampak makanan anjing terhadap iklim. Penting bagi pemilik untuk mengetahui bahwa memilih makanan bebas biji-bijian, basah, atau mentah dapat menghasilkan dampak yang lebih besar dibandingkan dengan makanan kering standar,” ujar peneliti Royal (Dick) School of Veterinary Studies, University of Edinburgh, John Harvey dilansir dari The Guardian, Kamis (8/1/2026).
Baca juga: Sektor FOLU Disebut Mampu Turunkan 60 Persen Emisi Nasional
Para peneliti dari University of Edinburgh dan Exeter menggunakan data pelabelan bahan dan nutrisi untuk menghitung jejak karbon dari hampir 1.000 makanan anjing yang dijual. Hasilnya menunjukkan,
produksi bahan untuk makanan anjing komersial menyumbang 2,3–3,7 persen dari emisi GRK sistem pangan di Inggris. Ini setara 0,9-1,3 persen dari total emisi negara tersebut.
Meski demikian, dampaknya bervariasi antara berbagai jenis produk. Peneliti mencatat, penggunaan daging berkualitas tinggi dalam jumlah besar signifikan meningkatkan emisi, daripada bagian daging unggas.
Peneliti memperkirakan, apabila seluruh dunia memberi makan anjing seperti yang dilakukan orang Inggris maka akan menghasilkan emisi GRK hingga lebih dari setengah emisi dari pembakaran bahan bakar jet pada penerbangan komersial setiap tahunnya.
"Para pemilik anjing yang ingin mengurangi dampak lingkungan tetapi tidak ingin mengubah jenis makanan sebaiknya memeriksa deskripsi label potongan daging yang digunakan dalam makanan, dan memilih makanan dengan kandungan daging berkualitas tinggi yang lebih rendah," kata para peneliti.
Baca juga: Teknologi AI Jadi Cara Industri Berat Kejar Target Nol Emisi
Masifnya penggunaan makanan anjing berbahan dasar tumbuhan juga dapat mengurangi emisi. Namun tim peneliti memperingatkan bahwa hanya beberapa jenis makanan berbahan dasar tumbuhan yang tersedia untuk diuji dalam riset ini.
Temuan tersebut juga menyoroti perlunya transparansi dan pelabelan bahan makanan anjing yang lebih baik untuk membantu konsumen membuat pilihan yang tepat, seiring dengan terus meningkatnya kepemilikan hewan peliharaan.
“Industri makanan hewan peliharaan harus memastikan potongan daging yang digunakan adalah jenis yang biasanya tidak dikonsumsi manusia, dan pelabelannya jelas," ucap Harvey.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya