Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Makanan Anjing Sumbang 1 Persen Emisi GRK di Inggris, Studi Jelaskan

Kompas.com, 12 Januari 2026, 14:10 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Studi dari University of Edinburgh mengungkapkan bahwa makanan anjing menyumbang 1 persen emisi gas rumah kaca (GRK) di Inggris. Peneliti menyebut, produk makanan anjing basah, mentah, dan daging berkaitan dengan peningkatan emisi yang lebih tinggi dibanding makanan kering.

“Penelitian kami menunjukkan betapa besar dan beragamnya dampak makanan anjing terhadap iklim. Penting bagi pemilik untuk mengetahui bahwa memilih makanan bebas biji-bijian, basah, atau mentah dapat menghasilkan dampak yang lebih besar dibandingkan dengan makanan kering standar,” ujar peneliti Royal (Dick) School of Veterinary Studies, University of Edinburgh, John Harvey dilansir dari The Guardian, Kamis (8/1/2026).

Baca juga: Sektor FOLU Disebut Mampu Turunkan 60 Persen Emisi Nasional

Para peneliti dari University of Edinburgh dan Exeter menggunakan data pelabelan bahan dan nutrisi untuk menghitung jejak karbon dari hampir 1.000 makanan anjing yang dijual. Hasilnya menunjukkan,
produksi bahan untuk makanan anjing komersial menyumbang 2,3–3,7 persen dari emisi GRK sistem pangan di Inggris. Ini setara 0,9-1,3 persen dari total emisi negara tersebut.

Meski demikian, dampaknya bervariasi antara berbagai jenis produk. Peneliti mencatat, penggunaan daging berkualitas tinggi dalam jumlah besar signifikan meningkatkan emisi, daripada bagian daging unggas.

Peneliti memperkirakan, apabila seluruh dunia memberi makan anjing seperti yang dilakukan orang Inggris maka akan menghasilkan emisi GRK hingga lebih dari setengah emisi dari pembakaran bahan bakar jet pada penerbangan komersial setiap tahunnya.

"Para pemilik anjing yang ingin mengurangi dampak lingkungan tetapi tidak ingin mengubah jenis makanan sebaiknya memeriksa deskripsi label potongan daging yang digunakan dalam makanan, dan memilih makanan dengan kandungan daging berkualitas tinggi yang lebih rendah," kata para peneliti.

Baca juga: Teknologi AI Jadi Cara Industri Berat Kejar Target Nol Emisi

Masifnya penggunaan makanan anjing berbahan dasar tumbuhan juga dapat mengurangi emisi. Namun tim peneliti memperingatkan bahwa hanya beberapa jenis makanan berbahan dasar tumbuhan yang tersedia untuk diuji dalam riset ini.

Temuan tersebut juga menyoroti perlunya transparansi dan pelabelan bahan makanan anjing yang lebih baik untuk membantu konsumen membuat pilihan yang tepat, seiring dengan terus meningkatnya kepemilikan hewan peliharaan.

“Industri makanan hewan peliharaan harus memastikan potongan daging yang digunakan adalah jenis yang biasanya tidak dikonsumsi manusia, dan pelabelannya jelas," ucap Harvey.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Pemerintah
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Pemerintah
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
Pemerintah
Ketika Fenomena 'Overwork' Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
Ketika Fenomena "Overwork" Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
LSM/Figur
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Pemerintah
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
Swasta
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Pemerintah
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Pemerintah
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
BUMN
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
LSM/Figur
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
LSM/Figur
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
Pemerintah
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
LSM/Figur
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau