Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Awal Januari 2026, BNPB Catat Banjir Landa 8 Provinsi

Kompas.com, 12 Januari 2026, 20:12 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan banjir melanda beberapa wilayah di delapan provinsi sejak awal Januari 2026.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menyampaikan banjir terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan setelah hujan dengan intensitas sangat lebat mengguyur wilayah tersebut, Jumat, (9/1/2026).

Curah hujan tinggi yang terjadi secara merata di beberapa wilayah OKU Timur dan kabupaten sekitarnya menyebabkan banjir bandang kiriman serta luapan air sungai.

"Peristiwa ini mengakibatkan empat kecamatan terdampak, yakni Kecamatan Belitang III, Belitang II, Semendawai Suku III, dan Belitang Mulya, dengan total 23 desa yang terendam banjir. Ketinggian muka air pada awal kejadian mencapai kurang lebih 150 sentimeter merendam permukiman warga dan mengganggu aktivitas masyarakat," kata Abdul dalam keterangannya, Minggu (11/1/2026).

Baca juga: Banjir Sumatera, BNPB Sebut Pemda Abaikan Risiko Bencana

Sebanyak 1.359 kepala keluarga di Desa Bangun Rejo, Kemuning Jaya, Raman Jaya, Batu Mas, serta sejumlah desa lain di wilayah Belitang dan Semendawai terdampak banjir. Abdul memastikan, tidak ada korban jiwa akibat bencana tersebut.

Kondisi banjir di wilayah terdampak dilaporkan mulai berangsur surut, warga yang sebelumnya mengungsi pun telah kembali ke rumah masing-masing.

"Meski demikian, Tim BPBD Provinsi Sumatera Selatan bersama BPBD Kabupaten OKU Timur masih tetap siaga di lapangan untuk mengantisipasi kemungkinan banjir susulan, seiring dengan status siaga darurat bencana banjir dan tanah longsor yang masih berlaku di Provinsi Sumatera Selatan," papar dia.

Di Nusa Tenggara Barat, banjir terjadi di Kabupaten Lombok Barat, Jumat, (9/1/2026) akibat hujan intensitas sedang hingga lebat sejak pukul 13.00 WITA-15.00 WITA. Akibatnya debit air sungai meningkat lalu meluap ke permukiman, seiring aliran air kiriman dari wilayah pegunungan dengan volume besar.

Baca juga: KLH Bakal Gugat Perdata Enam Perusahaan yang Diduga Picu Banjir Sumatera

"Luapan air sungai menggenangi rumah-rumah warga di sekitar bantaran sungai. Sehingga aktivitas masyarakat terganggu dan sebagian warga terpaksa menghentikan kegiatan sehari-hari akibat genangan air yang masuk ke permukiman," jelas Abdul.

Berdasarkan pendataan sementara, banjir berdampak pada 251 kepala keluarga, dengan rincian 206 KK di Desa Taman Baru dan 45 KK di Desa Pesisir Mas. Tak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam insiden itu.

Abdul menyebut, status siaga banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem elah ditetapkan di NTB sebagaimana tertuang dalam Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Barat Nomor 100.3.3.1-628 Tahun 2025.

"Berdasarkan kondisi terkini, banjir telah dilaporkan surut, masyarakat mulai melakukan pembersihan rumah masing-masing dari sisa lumpur dan material banjir. Namun demikian, sejumlah jalan dusun masih dipenuhi lumpur sehingga memerlukan penanganan lanjutan," ucap Abdul.

Di Kalimantan, banjir melanda Kabupaten Landak pada hari yang sama. Pemicunya, hujan intensitas tinggi disertai luapan sungai. Kondisi tersebut menyebabkan air meluap dan merendam rumah penduduk di berbagai kecamatan. 

Baca juga: Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera

"Bencana banjir ini berdampak luas, mencakup delapan kecamatan dengan total 23 desa terdampak, antara lain Kecamatan Banyuke Hulu, Air Besar, Jelimpo, Menyuke, Mempawah Hulu, Kuala Behe, Menjalin, dan Meranti. Ketinggian muka air pada awal kejadian dilaporkan mencapai sekitar 100 cm, sehingga aktivitas masyarakat terganggu dan akses antarwilayah sempat terhambat di beberapa titik," jelas dia.

Banjir di Landak berdampak pada 2.282 kepala keluarga. Abdul memastikan, hingga saat ini tidak dilaporkan adanya korban jiwa.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Pemerintah
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Pemerintah
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
Pemerintah
Ketika Fenomena 'Overwork' Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
Ketika Fenomena "Overwork" Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
LSM/Figur
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Pemerintah
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
Swasta
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Pemerintah
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Pemerintah
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
BUMN
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
LSM/Figur
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
LSM/Figur
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
Pemerintah
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
LSM/Figur
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau