KOMPAS.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan banjir melanda beberapa wilayah di delapan provinsi sejak awal Januari 2026.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menyampaikan banjir terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan setelah hujan dengan intensitas sangat lebat mengguyur wilayah tersebut, Jumat, (9/1/2026).
Curah hujan tinggi yang terjadi secara merata di beberapa wilayah OKU Timur dan kabupaten sekitarnya menyebabkan banjir bandang kiriman serta luapan air sungai.
"Peristiwa ini mengakibatkan empat kecamatan terdampak, yakni Kecamatan Belitang III, Belitang II, Semendawai Suku III, dan Belitang Mulya, dengan total 23 desa yang terendam banjir. Ketinggian muka air pada awal kejadian mencapai kurang lebih 150 sentimeter merendam permukiman warga dan mengganggu aktivitas masyarakat," kata Abdul dalam keterangannya, Minggu (11/1/2026).
Baca juga: Banjir Sumatera, BNPB Sebut Pemda Abaikan Risiko Bencana
Sebanyak 1.359 kepala keluarga di Desa Bangun Rejo, Kemuning Jaya, Raman Jaya, Batu Mas, serta sejumlah desa lain di wilayah Belitang dan Semendawai terdampak banjir. Abdul memastikan, tidak ada korban jiwa akibat bencana tersebut.
Kondisi banjir di wilayah terdampak dilaporkan mulai berangsur surut, warga yang sebelumnya mengungsi pun telah kembali ke rumah masing-masing.
"Meski demikian, Tim BPBD Provinsi Sumatera Selatan bersama BPBD Kabupaten OKU Timur masih tetap siaga di lapangan untuk mengantisipasi kemungkinan banjir susulan, seiring dengan status siaga darurat bencana banjir dan tanah longsor yang masih berlaku di Provinsi Sumatera Selatan," papar dia.
Di Nusa Tenggara Barat, banjir terjadi di Kabupaten Lombok Barat, Jumat, (9/1/2026) akibat hujan intensitas sedang hingga lebat sejak pukul 13.00 WITA-15.00 WITA. Akibatnya debit air sungai meningkat lalu meluap ke permukiman, seiring aliran air kiriman dari wilayah pegunungan dengan volume besar.
Baca juga: KLH Bakal Gugat Perdata Enam Perusahaan yang Diduga Picu Banjir Sumatera
"Luapan air sungai menggenangi rumah-rumah warga di sekitar bantaran sungai. Sehingga aktivitas masyarakat terganggu dan sebagian warga terpaksa menghentikan kegiatan sehari-hari akibat genangan air yang masuk ke permukiman," jelas Abdul.
Berdasarkan pendataan sementara, banjir berdampak pada 251 kepala keluarga, dengan rincian 206 KK di Desa Taman Baru dan 45 KK di Desa Pesisir Mas. Tak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam insiden itu.
Abdul menyebut, status siaga banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem elah ditetapkan di NTB sebagaimana tertuang dalam Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Barat Nomor 100.3.3.1-628 Tahun 2025.
"Berdasarkan kondisi terkini, banjir telah dilaporkan surut, masyarakat mulai melakukan pembersihan rumah masing-masing dari sisa lumpur dan material banjir. Namun demikian, sejumlah jalan dusun masih dipenuhi lumpur sehingga memerlukan penanganan lanjutan," ucap Abdul.
Di Kalimantan, banjir melanda Kabupaten Landak pada hari yang sama. Pemicunya, hujan intensitas tinggi disertai luapan sungai. Kondisi tersebut menyebabkan air meluap dan merendam rumah penduduk di berbagai kecamatan.
Baca juga: Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
"Bencana banjir ini berdampak luas, mencakup delapan kecamatan dengan total 23 desa terdampak, antara lain Kecamatan Banyuke Hulu, Air Besar, Jelimpo, Menyuke, Mempawah Hulu, Kuala Behe, Menjalin, dan Meranti. Ketinggian muka air pada awal kejadian dilaporkan mencapai sekitar 100 cm, sehingga aktivitas masyarakat terganggu dan akses antarwilayah sempat terhambat di beberapa titik," jelas dia.
Banjir di Landak berdampak pada 2.282 kepala keluarga. Abdul memastikan, hingga saat ini tidak dilaporkan adanya korban jiwa.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya