Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Persentase Kawasan Hutan Lindung dalam DAS Perlu Dinaikkan

Kompas.com, 12 Januari 2026, 18:39 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Syarat minimal persentase kawasan hutan lindung dalam suatu daerah aliran sungai (DAS) pasca-banjir bandang di Aceh, perlu dinaikkan.

Guru Besar Ilmu Hidroteknik Universitas Syah Kuala (USK), Syamsidik menilai, ketentuan 30 persen kawasan hutan lindung bukanlah angka yang besar sebagai pertimbangan untuk kapasitas suatu DAS. Bahkan, untuk DAS tertentu, kawasan hutan lindung semestinya lebih tinggi dari 30 persen.

Baca juga: Riset Ungkap 11 Desa di DAS Tamiang Aceh Rawan Banjir Bandang

"Perlu ada keberanian dari kita semua untuk meminta koreksi terhadap praktik yang berjalan. Misalnya, terhadap penerapan 30 persen dalam perlindungan DAS yang harus dipenuhi dan beberapa DAS ini tidak lagi dipenuhi," ujar Syamsidik dalam webinar, Senin (12/1/2026).

Diketahui, ketentuan 30 persen kawasan hutan lindung di DAS sebenarnya amanat UU 41/1999 yang telah dihapus UU Cipta Kerja dan syaratnya diubah menjadi diatur sesuai kondisi fisik maupun geografis daerah.

Curah hujan di Aceh pada Kamis (26/11/2025) dan Jumat (27/11/2025) mencapai hampir 350 mm/hari. Data beberapa stasiun hujan di sekitar wilayah Aceh

Dalam rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pasca bencana, Syamsidik juga mengusulkan untuk mengkoreksi penegakan hukum aturan sempadan sungai. Ia menyesalkan sedikitnya regulasi yang mengatur sempadan sungai saat ini.

Selain itu, terdapat beberapa usulan lain untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pasca bencana. Pertama, rehabilitasi dan rekonstruksi dengan mengombinasikan pendekatan administratif dan geografis (DAS).

Sinergi antar daerah perlu mempertimbangkan hulu-hilir penanganan dampak siklon dan mitigasi ke depannya. Penggabungan kekuatan daerah-daerah terdampak banjir bandang bisa dilakukan melalui berbagi sumber daya dan berbagi keahlian-pengetahuan.

Kedua, rehabilitasi dan rekonstruksi dengan pendekatan membangun kembali dengan lebih baik (build back better) dan berkelanjutan. Rehabilitasi dan rekonstruksi perlu memastikan kondisi menjadi semakin resilien secara struktural maupun non struktural.

Rehabilitasi dan rekonstruksi juga harus melindungi kelompok rentan, serta mencegah adanya generasi yang hilang atau tertinggal (loss-lag generation).

"Anak-anak dan perempuan perlu dilindungi dengan sejumlah kegiatan. Jadi, tidak hanya fokus pada fisik, tapi juga non fisik seperti psiko-sosial, trauma healing, atau bahkan sampai pencegahan kekerasan dalam rumah tangga (selama) masa rehab rekon ini," tutur Syamsidik.

Pendekatan build back better yang berkelanjutan perlu disertai penguatan fasilitas kesehatan di kabupaten/kota dan public safety center (PSC).

Ketiga, rehabilitasi dan rekonstrksi perlu memperhatikan aspek memelihara legacy, pewarisan pengetahuan lokal, serta pengembangan knowledge-skill hub.

Perguruan tinggi harus mengembangkan riset dan pengabdian masyarakat yang berorientasi menumbuhkan pengetahuan lokal baru terkait bencana siklon. Termasuk pula upaya penguatan sistem peringatan dini siklon di Indonesia.

Terdapat 18 kabupaten/kota terdampak banjir bandang di Aceh. Sebanyak 10 dari 18 kabupaten/kota di Aceh terdampak banjir bandang paling parah, yaitu, Aceh Utara, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Bener Meriah, Bireuen, Pidie Jaya, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Gayo Lues, dan Langsa.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Pemerintah
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Pemerintah
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
Pemerintah
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Swasta
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
Pemerintah
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
LSM/Figur
'Blue Carbon' Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
"Blue Carbon" Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
Swasta
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
LSM/Figur
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Pemerintah
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau