Direktur di Climate Action Network France, Anne Bringault, mendesak Prancis secara bertahap menghentikan penggunaan energi fosil.
"Sudah saatnya untuk menanggapi risiko iklim dengan serius, tapi juga risiko geopolitik yang membuat kita menderita akibat ketergantungan kita pada bahan bakar fosil, yang sebagian besar diimpor," ucap Bringault.
Baca juga: Prancis Berencana Jadikan Spare Part PLTN yang Ditutup jadi Alat Dapur, Amankah?
Rendahnya capaian Perancis mencerminkan perlambatan di negara tetangganya, Jerman.
Berdasarkan laporan tahunan ahli kelompok ahli Agora Energiewend, Jerman hanya mampu menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 1,5 persen pada tahun 2025.
Di sisi lain, emisi GRK di Amerika Serikat (AS) justru meningkat 2,4 persen pada tahun 2025. Lembaga think tank Rhodium Group menyebut, peningkatan emisi gas rumah kaca AS didorong oleh permintaan pemanasan dan listrik untuk booming AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) pada ekonomi terbesar di dunia.
Negara-negara penghasil emisi gas rumah kaca tertinggi menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas krisis iklim. Negara-negara tersebut berada di bawah tekanan untuk mempercepat pengurangan emisi GRK, mengingat suhu global yang memecahkan rekor dan cuaca ekstrem yang lebih sering terjadi.
Bahkan, tahun 2023, 2024, dan 2025 telah menjadi tahun-tahun terpanas di dunia yang pernah tercatat.
Baca juga: Perancis Hibahkan 500.000 Euro, Dukung Kawasan Konservasi Perairan Hiu Paus Sumbawa
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya