Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

El Nino dan La Nina Picu Kekeringan dan Banjir Ekstrem Bersamaan

Kompas.com, 14 Januari 2026, 10:03 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Fenomena El Nino dan La Nina bisa membuat kekeringan dan banjir terjadi secara bersamaan, meskipun wilayahnya berjauhan, menurut studi yang terbit di AGU Advances. 

El Nino-Southern Oscillation (ENSO), pola iklim di Samudera Pasifik ekuator yang melibatkan El Nino dan La Nina, menjadi pendorong utama ekstremitas penyimpanan air secara total di tingkat global selama 20 tahun terakhir. ENSO mempunyai efek sinkronisasi pada ekstremitas penyimpanan air di berbagai benua.

Baca juga:

Profesor riset di Biro Geologi Ekonomi di Sekolah Geosains Jackson UT, Bridget Scanlon mengatakan, memahami bagaimana kejadian ekstrem terjadi di seluruh dunia bisa berdampak terhadap kebijakan.

"Jika kita melihat skala global, kita dapat mengidentifikasi wilayah mana yang secara bersamaan basah atau kering. Dan tentu saja hal itu memengaruhi ketersediaan air, produksi pangan, perdagangan pangan, semua hal global ini," ujar Scanton, salah satu penulis studi itu, dilansir dari Phys.org, Rabu (14/1/2026). 

Sebagai informasi, El Nino adalah fenomena alam ketika terjadi peningkatan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian timur, dilansir dari Ensiklopedia Fenomena Alam Seri III (2024) karya Tjahjono Tri via Kompas.com, Jumat (26/4/2024).

Sementara itu, La Nina adalah fenomena alam yang menyebabkan udara terasa lebih dingin atau mengalami curah hujan yang lebih tinggi, dilaporkan Kompas.com, Sabtu (12/4/2025).

El Nino dan La Nina sebabkan bencana bersamaan

Andalkan pengukuran gravitasi dari satelit

Fenomena El Nino dan La Nina bisa membuat kekeringan dan banjir terjadi secara bersamaan, menurut studi yang terbit di AGU Advances. freepik.com Fenomena El Nino dan La Nina bisa membuat kekeringan dan banjir terjadi secara bersamaan, menurut studi yang terbit di AGU Advances. 

Total penyimpanan air di area tertentu menjadi metrik iklim yang penting. Hal itu termasuk air permukaan di danau, sungai, lapisan salju, kelembapan tanah, serta yang berada di bawah tanah.

Studi tersebut juga melacak total ekstrem air dan ENSO di tingkat global. Asisten profesor riset di Biro Geologi Ekonomi di Sekolah Geosains Jackson UT, Ashraf Rateb mengatakan, hal tersebut memungkinkan para peneliti untuk mengamati bagaimana ekstrem air saling terkait.

Menurut dia, sebagian besar studi menghitung kejadian ekstrem atau mengukur seberapa parah dampaknya.

"Sebagian besar penelitian menghitung peristiwa ekstrem atau mengukur seberapa parahnya peristiwa tersebut, tapi secara definisi, peristiwa ekstrem itu langka. Hal itu memberikan sangat sedikit data untuk mempelajari perubahan seiring waktu," kata Rateb, dilansir dari Science Daily.

"Alih-alih, kami meneliti bagaimana peristiwa ekstrem terhubung secara spasial, yang memberikan informasi jauh lebih banyak tentang pola-pola yang mendasari kekeringan dan banjir secara global," tambah dia. 

Untuk memperkirakan total penyimpanan air, para peneliti mengandalkan pengukuran gravitasi dari satelit GRACE dan GRACE Follow-On (GRACE-FO) milik NASA.

Data ini memungkinkan para peneliti untuk mendeteksi perubahan massa air di area seluas sekitar 300 hingga 400 kilometer persegi atau seukuran negara bagian Indiana, Amerika Serikat.

Mereka mengklasifikasikan kondisi ekstrem basah sebagai tingkat penyimpanan air di atas persentil ke-90 untuk wilayah tertentu. Kondisi ekstrem kering didefinisikan sebagai tingkat di bawah persentil ke-10.

Baca juga:

Wilayah yang terpisah jauh bisa alami bencana bersamaan

Fenomena El Nino dan La Nina bisa membuat kekeringan dan banjir terjadi secara bersamaan, menurut studi yang terbit di AGU Advances. canva.com Fenomena El Nino dan La Nina bisa membuat kekeringan dan banjir terjadi secara bersamaan, menurut studi yang terbit di AGU Advances. 

Analisis para peneliti menunjukkan bahwa aktivitas abnormal ENSO dapat mendorong wilayah-wilayah yang terpisah jauh ke dalam kondisi ekstrem kering atau basah secara bersamaan.

Kondisi kering ekstrem dikaitkan dengan El Nino di beberapa wilayah dan La Nina di wilayah lain, dengan pola sebaliknya untuk kondisi basah ekstrem.

Misalnya, kekeringan ekstrem terjadi selama El Nino di Afrika Selatan pada pertengahan 2000-an dan di Amazon selama tahun 2015–2016.

Di sisi lain, La Nina bertepatan dengan kondisi yang sangat basah di Australia, Brasil bagian tenggara, dan Afrika Selatan selama tahun 2010–2011.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau