KOMPAS.com - Pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) Perancis pada tahun 2025 dinilai melambat dan masih jauh dari target untuk mencapai tujuan iklimnya.
Perlambatan terjadi karena melemahnya komitmen Pemerintah Perancis untuk mengatasi krisis iklim. Tidak hanya itu, negara-negara berpenghasilan tinggi lainnya kesulitan memenuhi janji mereka dalam mengurangi emisi GRK yang berkontribusi terhadap pemanasan global.
Baca juga:
"Emisi (GRK) Perancis diperkirakan menurun 1,6 persen dari tahun ke tahun," demikian keterangan Citepa, organisasi nirlaba yang ditugaskan oleh Kementerian Ekologi Perancis untuk menghitung inventaris emisi gas rumah kaca negara itu, dilansir dari AFP, Rabu (14/1/2026).
Pengurangan emisi gas rumah kaca Perancis sebesar 5,8 juta ton CO2 ekuivalen jauh di bawah laju yang dibutuhkan untuk mencapai target 2030.Citepa sebelumnya memperkirakan penurunan hanya 0,8 persen pada tahun 2025.
Namun, data terbaru dan metode perhitungan yang diperbarui memungkinkan perkiraan yang lebih akurat untuk sepanjang tahun.
Pengurangan emisi GRK Perancis sebesar 5,8 juta ton karbon dioksida ekuivalen cukup jauh di bawah laju yang dibutuhkan untuk mencapai target tahun 2030.
Padahal Perancis perlu mengurangi emisi gas rumah kaca hampir tiga kali lipat lebih besar dari capaian tersebut.
"Penurunan emisi dikonfirmasi untuk tahun 2025. Ini adalah tanda yang menggembirakan tetapi belum cukup," ujar Menteri Transisi Ekologi Prancis, Monique Barbut.
Barbut meminta semua sektor di Perancis menggandakan upaya mereka untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Perancis merilis jalur terbaru untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2050 pada bulan Desember. Untuk tetap berada di "jalur yang benar", emisi gas rumah kaca perlu turun rata-rata 4,6 persen setiap tahun hingga tahun 2030.
Perancis mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 3,9 persen pada tahun 2022 dan 6,8 persen pada tahun 2023. Laju penurunan emisi gas rumah kaca Perancis melambat tajam menjadi 1,8 persen pada tahun 2024.
Prancis mendorong penghematan energi usai invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Akan tetapi, sejak saat itu, Perancis dinilai malah mengalami kemunduran dalam dekarbonisasi beberapa industri penghasil emisi gas rumah kaca terbesarnya.
"Meskipun peningkatan tercatat pada tahun 2025 di sektor-sektor penghasil emisi tinggi seperti industri, pertanian, dan transportasi, sektor energi dan pengolahan limbah tetap stagnan," demikian keterangan Citepa.
Baca juga:
Pencurian di Museum Louvre, Paris, Perancis. Pengurangan emisi gas rumah kaca Perancis sebesar 5,8 juta ton CO2 ekuivalen jauh di bawah laju yang dibutuhkan untuk mencapai target 2030.Direktur di Climate Action Network France, Anne Bringault, mendesak Prancis secara bertahap menghentikan penggunaan energi fosil.
"Sudah saatnya untuk menanggapi risiko iklim dengan serius, tapi juga risiko geopolitik yang membuat kita menderita akibat ketergantungan kita pada bahan bakar fosil, yang sebagian besar diimpor," ucap Bringault.
Baca juga: Prancis Berencana Jadikan Spare Part PLTN yang Ditutup jadi Alat Dapur, Amankah?
Rendahnya capaian Perancis mencerminkan perlambatan di negara tetangganya, Jerman.
Berdasarkan laporan tahunan ahli kelompok ahli Agora Energiewend, Jerman hanya mampu menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 1,5 persen pada tahun 2025.
Di sisi lain, emisi GRK di Amerika Serikat (AS) justru meningkat 2,4 persen pada tahun 2025. Lembaga think tank Rhodium Group menyebut, peningkatan emisi gas rumah kaca AS didorong oleh permintaan pemanasan dan listrik untuk booming AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) pada ekonomi terbesar di dunia.
Negara-negara penghasil emisi gas rumah kaca tertinggi menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas krisis iklim. Negara-negara tersebut berada di bawah tekanan untuk mempercepat pengurangan emisi GRK, mengingat suhu global yang memecahkan rekor dan cuaca ekstrem yang lebih sering terjadi.
Bahkan, tahun 2023, 2024, dan 2025 telah menjadi tahun-tahun terpanas di dunia yang pernah tercatat.
Baca juga: Perancis Hibahkan 500.000 Euro, Dukung Kawasan Konservasi Perairan Hiu Paus Sumbawa
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya