KOMPAS.com - Tahun 2025 termasuk tahun terpanas di dunia, tepatnya di urutan ketiga, setelah tahun 2024 dan tahun 2023. Tidak hanya itu, tahun 2025 juga memperpanjang periode panas yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Untuk pertama kalinya, suhu global melebihi 1,5 derajat celsius relatif terhadap masa pra-industri rata-rata selama tiga tahun terakhir. Hal tersebut menurut Copernicus Climate Change Service dari Uni Eropa and organisasi riset non-profit, Berkeley Earth.
Baca juga:
"Peningkatan suhu yang ekstrem yang diamati antara tahun 2023 hingga 2025 menunjukkan percepatan laju pemanasan Bumi," tulis pernyataan dari Berkeley Earth, dilansir dari AFP, Kamis (15/1/2026).
Perjanjian Paris 2015 mewajibkan negara-negara dunia untuk membatasi pemanasan global hingga jauh di bawah dua derajat celsius.
Perjanjian tersebut juga berupaya mempertahankan batas suhu global pada 1,5 derajat celsius, sebagai target jangka panjang yang akan membantu menghindari konsekuensi terburuk dari krisis iklim.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres memperingatkan pada Oktober 2025 bahwa melampaui batas suhu 1,5 derajat celsius merupakan hal yang tak bisa dihindari.
Kendati demikian, para pemimpin dunia dunia dapat membatasi hal tersebut dengan memangkas emisi gas rumah kaca secepat mungkin.
Di sisi lain, upaya untuk menahan laju pemanasan global mengalami berbagai kemunduran. Misalnya, pemimpin negara penyumbang pemanasan global kedua di dunia setelah China, Presiden Donald Trump menarik Amerika Serikat keluar dari perjanjian iklim PBB.
Baca juga: Trump Tarik Amerika Serikat dari PBB, Pendanaan Organisasi Lingkungan Dihentikan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menggelar konferensi pers mengenai serangan AS ke Venezuela, di kediamannya di Mar-a-Lago, Palm Beach, Negara Bagian Florida, 3 Januari 2026.Pada tahun 2025, suhu global tercata 1,47 derajat celsius di atas masa pra-industri atau hanya sedikit lebih dingin daripada pada 2023.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) yang diaungi PBB melaporkan, dua dari delapan kumpulan data yang dianalisis menunjukkan 2025 sebagai tahun terpanas kedua. Namun, enam kumpulan data lainnya memposisikan 2025 sebagai tahun terpanas ketiga.
WMO menetapkan rata-rata suhu periode 2023-2025 sebesar 1,48 derajat celsius, dengan margin ketidakpastian plus-minus 0,13 derajat celsius.
"(Meskipun terjadi fenomena La Nina yang mendinginkan, tahun 2025) masih menjadi salah satu tahun terpanas dalam catatan secara global karena penumpukan gas rumah kaca yang menangkap panas di atmosfer kita," ucap Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo.
Menurut Berkeley Earth, sekitar 770 juta orang mengalami kondisi tahunan terpanas yang pernah tercatat di tempat tinggal mereka. Tidak ada rata-rata suhu tahunan terdingin yang tercatat di mana pun.
Baca juga:
Tahun 2025 menjadi tahun terpanas ketiga di dunia, setelah tahun 2024 dan tahun 2023. Bagaimana tahun 2026?Copernicus Climate Change Service dan Berkeley Earth memprediksi tahun 2026 tidak akan mematahkan tren tahun terpanas di dunia.
Jika fenomena cuaca El Nino yang menyebabkan pemanasan muncul tahun ini maka bisa memecahkan rekor baru untuk tren tersebut.
"Suhu sedang meningkat. Jadi kita pasti akan melihat rekor baru. Apakah itu akan terjadi pada tahun 2026, 2027, atau 2028, itu tidak terlalu penting. Arah perubahannya sangat, sangat jelas," ucap Direktur Copernicus Climate Change Service, Carlo Buontempo.
Berkeley Earth memperkirakan tahun 2026 akan mirip dengan tahun 2025, dengan kemungkinan besar menjadi tahun terpanas keempat sejak tahun 1850.
Baca juga: Panas Ekstrem dan Kelembapan Bisa Berdampak pada Janin
Tahun 2025 menjadi tahun terpanas ketiga di dunia, setelah tahun 2024 dan tahun 2023. Bagaimana tahun 2026?Laporan tentang tahun terpanas muncul saat upaya mengurangi emisi gas rumah kaca di negara-negara maju mengalami kemunduran.
Emisi gas rumah kaca di Amerika Serikat meningkat tahun lalu, mengakhiri penurunan selama dua tahun berturut-turut. Musim dingin yang ekstrem dan perkembangan AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) memicu permintaan energi di Amerika Serikat.
Selain Amerika Serikat, laju pengurangan emisi gas rumah kaca juga melambat di Jerman dan Perancis.
Baca juga:
"Meskipun emisi gas rumah kaca tetap menjadi faktor utama penyebab pemanasan global, besarnya lonjakan terbaru ini menunjukkan bahwa faktor-faktor tambahan telah memperkuat pemanasan terbaru melampaui apa yang kita harapkan dari emisi gas rumah kaca dan variabilitas alami saja,” kata ilmuwan utama Berkeley Earth, Robert Rohde.
Sebelumnya dilaporkan, pengurangan emisi gas rumah kaca Perancis pada tahun 2025 melambat dan masih jauh dari target untuk mencapai tujuan iklimnya.
Perlambatan terjadi karena komitmen pemerintah Perancis untuk mengatasi krisis iklim, melemah.
Tidak hanya itu, Perancis dan negara-negara berpenghasilan tinggi lainnya dinilai kesulitan memenuhi janji mereka dalam mengurangi emisi gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global.
"Emisi (GRK) Prancis diperkirakan menurun 1,6 persen dari tahun ke tahun," demikian keterangan Citepa, organisasi nirlaba yang ditugaskan oleh Kementerian Ekologi Prancis untuk menghitung inventaris emisi gas rumah kaca negara itu.
Tahun 2025 menjadi tahun terpanas ketiga di dunia, setelah tahun 2024 dan tahun 2023. Bagaimana tahun 2026?Citepa sebelumnya memperkirakan penurunan hanya 0,8 persen pada tahun 2025. Namun, data terbaru dan metode perhitungan yang diperbarui memungkinkan perkiraan yang lebih akurat untuk sepanjang tahun.
Pengurangan emisi gas rumah kaca Perancis sebesar 5,8 juta ton karbon dioksida ekuivalen, sangat jauh di bawah laju yang dibutuhkan untuk mencapai target tahun 2030.
Padahal Perancis perlu mengurangi emisi gas rumah kaca hampir tiga kali lipat lebih besar dari capaian tersebut.
Rendahnya capaian Perancis tersebut mencerminkan perlambatan di negara tetangganya, Jerman.
Berdasarkan laporan Agora Energiewend, Jerman hanya mampu menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 1,5 persen pada tahun 2025.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya