Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tanah Kaya Nitrogen Bikin Hutan Tropis Pulih Lebih Cepat

Kompas.com, 15 Januari 2026, 22:33 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Riset terbaru menunjukkan bahwa kandungan nitrogen di tanah bisa mempercepat pemulihan hutan setelah deforestasi hingga dua kali lipat. Hal tersebut berdampak signifikan terhadap iklim. 

Penelitian yang dipimpin oleh tim dari University of Leeds, Inggris, ini mengungkap bahwa hutan tropis mampu tumbuh kembali jauh lebih cepat jika tanahnya memiliki nitrogen yang cukup.

Baca juga:

"Penelitian kami menarik karena menunjukkan bahwa ada cara untuk meningkatkan penangkapan dan penyimpanan gas rumah kaca melalui reboisasi dengan mengelola nutrisi yang tersedia bagi pohon-pohon," ucap penulis utama studi, Wenguang Tang, yang melakukan penelitian ini saat menyelesaikan program PhD-nya di University of Leeds, dilansir dari SciTechDaily, Kamis (15/1/2026).

Para peneliti menjalankan eksperimen terbesar dan terlama yang pernah dilakukan untuk mempelajari pertumbuhan kembali hutan tropis.

Fokus utama penelitian yang terbit di Nature Communications ini adalah melihat peran nutrisi tanah dalam proses pemulihan hutan yang sebelumnya dibuka untuk penebangan, pertanian, dan aktivitas manusia lainnya.

Sebagai informasi, studi ini melibatkan kolaborator dari University of Glasgow, Smithsonian Tropical Research Institute, Yale University, Princeton University, Cornell University, the National University of Singapore, dan the Cary Institute of Ecosystem Studies. 

Nitrogen bisa percepat pemulihan hutan akibat deforestasi

Penelitian mengungkap nitrogen tanah bisa mempercepat pemulihan hutan tropis hingga dua kali lipat dan berdampak besar pada iklim.Unsplash/Vlas Hilitanu Penelitian mengungkap nitrogen tanah bisa mempercepat pemulihan hutan tropis hingga dua kali lipat dan berdampak besar pada iklim.

Para peneliti memilih 76 petak hutan yang tersebar di Amerika Tengah, Amerika Serikat. Setiap petak memiliki luas sekitar sepertiga lapangan sepak bola. Lokasi-lokasi ini mewakili hutan dengan tahap pemulihan yang berbeda-beda.

Pertumbuhan dan kematian pohon di setiap petak dipantau selama periode yang panjang, bahkan hingga 20 tahun. 

Setiap petak hutan mendapatkan perlakuan yang berbeda. Sebagian diberi pupuk nitrogen, sedangkan sebagian lainnya diberi fosfor.

Ada juga petak yang menerima kombinasi nitrogen dan fosfor. Sementara itu, satu petak dibiarkan tanpa perlakuan apa pun. Hal ini membantu peneliti memahami peran masing-masing nutrisi secara terpisah.

Baca juga:

Hutan dengan nitrogen cukup tumbuh dua kali lipat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nutrisi tanah sangat memengaruhi kecepatan pemulihan hutan tropis.

Dalam 10 tahun pertama masa pemulihan, hutan dengan nitrogen yang cukup tumbuh hampir dua kali lebih cepat dibandingkan hutan yang kekurangan nitrogen.

Adapun fosfor tidak menunjukkan dampak serupa jika diberikan sendiri. Temuan ini menegaskan bahwa nitrogen adalah faktor kunci dalam tahap awal pemulihan hutan.

Tidak disarankan pakai pupuk nitrogen

Penelitian mengungkap nitrogen tanah bisa mempercepat pemulihan hutan tropis hingga dua kali lipat dan berdampak besar pada iklim.Unsplash/Boudewijn Huysmans Penelitian mengungkap nitrogen tanah bisa mempercepat pemulihan hutan tropis hingga dua kali lipat dan berdampak besar pada iklim.

Meski pupuk nitrogen digunakan dalam eksperimen, para peneliti menyampaikan bahwa pemupukan hutan tidak disarankan sebagai praktik umum.

Pemberian pupuk dalam skala besar berisiko menimbulkan dampak buruk, termasuk meningkatnya emisi dinitrogen oksida. Gas ini merupakan gas rumah kaca yang sangat kuat.

Sebagai alternatif yang lebih aman, tim peneliti menyarankan penanaman pohon dari keluarga leguminosa atau kacang-kacangan. Jenis tanaman ini mampu meningkatkan kandungan nitrogen tanah secara alami.

Pilihan lain adalah memulihkan hutan di wilayah yang sudah memiliki kadar nitrogen cukup akibat polusi udara.

Baca juga:

Mengapa Pemulihan hutan itu penting?

Peran hutan tropis cukup signifikan untuk lingkungan. Dilansir dari laman International Climate and Forest Initiative Norwegia, hutan tropis merupakan sumber utama emisi gas rumah kaca akibat deforestasi.

Namun, sebaliknya, hutan tropis dapat menjadi bagian penting dari solusi perubahan iklim.

Pepohonan di hutan membantu menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Seiring pertumbuhannya, pepohonan tersebut melepaskan oksigen kembali ke atmosfer. 

Tidak hanya itu, hutan tropis termasuk wilayah dengan keanekaragaman hayati tertinggi dan paling beragam di bumi. 

Para peneliti memperkirakan, jika keterbatasan nitrogen terjadi di hutan tropis muda di seluruh dunia, bumi bisa kehilangan potensi penyimpanan sekitar 0,69 miliar ton karbon dioksida setiap tahunnya.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar dua tahun emisi karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya di Inggris.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
LSM/Figur
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
LSM/Figur
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Swasta
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Pemerintah
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau