Penulis
Aan menjelaskan bahwa lamun memiliki kemampuan alami untuk menyaring sedimen. Namun, kemampuan tersebut memiliki batas.
Jika jumlah sedimen yang masuk terlalu besar, keseimbangan ekosistem akan terganggu. Pertumbuhan lamun terhambat dan akhirnya mengalami degradasi.
"Sederhananya, ketika lamun sehat, karbon diserap dan disimpan. Namun, ketika rusak misalnya karena reklamasi atau pengerukan (maka) daun, akar, dan bagian lamun lainnya mengalami pembusukan," jelas Aan.
Proses pembusukan ini memicu dekomposisi. Dalam proses tersebut, karbon dioksida dilepaskan kembali ke atmosfer.
Baca juga:
Sebaliknya, wilayah seperti Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, dan Maluku menunjukkan nilai faktor emisi karbon yang lebih rendah.
Hal ini berkaitan dengan tekanan manusia yang masih lebih kecil. Aktivitas pesisir di kawasan tersebut belum sepadat wilayah barat Indonesia.
Padang lamun yang masih relatif terjaga mampu mempertahankan fungsi penyimpanan karbon dengan lebih stabil.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya