Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penurunan Tanah di Demak, Tanggul dan Mangrove Disebut Bukan Solusi

Kompas.com, 17 Januari 2026, 21:42 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Demak, sebuah kabupaten di pesisir utara Jawa Tengah, menghadapi ancaman penurunan muka tanah (land subsidence) yang semakin serius, bahkan pernah disebut lebih parah dari Jakarta. 

Wilayah pesisir utara Jawa Tengah mengalami penurunan muka tanah hingga 20 sentimeter setiap tahunnya, dibandingkan dengan Jakarta yang hingga 10 sentimeter per tahun, dilaporkan oleh Kompas.com, Rabu (24/4/2024).

Baca juga:

Wilayah Demak tergolong dataran rendah, yang mana jika penurunan permukaan tanah terjadi terus-menerus, ketinggiannya berisiko menjadi berada di bawah laut. Dengan kondisi tersebut, air laut bisa tumpah ke daratan atau dikenal sebagai banjir rob.

Masalah banjir rob akibat kenaikan permukaan laut dan penurunan muka tanah di Demak disebut sudah terjadi sejak tahun 1980, dilansir dari Kompas.com, Rabu (4/6/2025). 

Di sisi lain, curah hujan semakin tinggi yang dipicu krisis iklim akan memperparah situasi di Demak ke depannya. Air hujan senantiasa mengalir ke daratan yang lebih rendah dari daerah sekitarnya.

Penurunan permukaan tanah secara berkesinambungan membentuk cekungan subsidence, yang menyebabkan Demak semakin rentan terhadap banjir fluvial setelah diguyur hujan. Banjir fluvial terjadi akibat aliran air yang melebihi kapasitas sungai dan meluap ke daratan.

"Jadi istilahnya (Demak) 'diserang' dari hilir dan dari pantai. Nah, bisa lebih parah ya, kalau situasinya seperti ini. Bertambah parah karena tanahnya terus turun, air lautnya terus naik, dan krisis iklim semakin ekstrem," kata dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Heri Andreas kepada Kompas.com, Sabtu (17/1/2026).

"Kalau tidak ada upaya penanganan, mitigasi ya, (bisa) semakin parah," imbuh dia. 

Baca juga:

Penurunan muka tanah di Demak

Suasana Masjid Agung Demak jelang Ramadhan pada Sabtu (28/2/2025). Curah hujan tinggi yang dipicu krisis iklim akan memperparah situasi penurunan tanah di Demak ke depannya. Apa yang bisa jadi solusi?KOMPAS.COM/NUR ZAIDI Suasana Masjid Agung Demak jelang Ramadhan pada Sabtu (28/2/2025). Curah hujan tinggi yang dipicu krisis iklim akan memperparah situasi penurunan tanah di Demak ke depannya. Apa yang bisa jadi solusi?

Siklus iklim La Nina disebut bisa memperburuk kondisi banjir di Demak karena meningkatkan curah hujan dan gelombang pasang. 

Heri menilai, dari segi upaya mitigasi dan tingkat keparahan, Demak lebih parah ketimbang daerah-daerah lain di Jawa yang mengalami permasalahan penurunan permukaan tanah.

Kenaikan permukaan air laut memang terjadi secara global. Kondisi tersebut memperparah daerah-daerah di pesisir Jawa yang malah mengalami penurunan permukaan tanah. Mulai dari Serang, Jakarta, Demak, Pekalongan, Semarang, Purbalingga, sampai Probolinggo.

Mulanya, penurunan permukaan tanah terparah terjadi di Jakarta yang disebabkan eksploitasi air tanah. Setelah dua dekade mengalami penurunan permukaan tanah, Jakarta sudah mulai meredamnya.

Selanjutnya, daerah-daerah dengan penurunan permukaan tanah terparah bergeser ke Jawa Tengah, seperti Pekalongan, Semarang, dan Demak.

"Semarang dan Pekalongan sudah ada tanggul. Demak sedikit doang sehingga kalau saya lihat di lapangan saat ini, Demak ini yang paling mengkhawatirkan. Turunnya juga sama dengan penurunan tanah di Semarang dan Pekalongan, rata-rata 10 cm (sentimeter) per tahun," tutur Heri.

Kata dia, penurunan permukaan tanah di Purbalingga sebenarnya cukup parah, meski luas wilayah terdampak masih kecil.

Ke depannya, Tegal dan Brebes berpotensi mengikuti jejak Demak, mengingat adanya percepatan penurunan permukaan tanah.

"Nah, jadi semuanya itu dinamis secara spasial dan temporal ya," ucapnya.

Mitigasi belum efektif

Tanggul disebut hanya bersifat sementara

Kondisi akses jalan ke Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah putus akibat diterjang ombak. dok. Kumaidi Kondisi akses jalan ke Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah putus akibat diterjang ombak.

Menurut Heri, mitigasi penurunan muka tanah di Demak belum efektif, masih bersifat parsial, dan tidak menyentuh akar masalahnya.

Sebagai contoh, banjir rob akibat penurunan permukaan tanah justru dijawab dengan pembangunan tanggul. Padahal semestinya mitigasi banjir rob tersebut dilakukan dengan pengendalian penurunan permukaan tanah.

Tanggul dinilai hanya akan ikut ambles seiring penurunan permukaan tanah. Bahkan, meninggikan tanggul dua sampai empat kali lipat masih saja akan tenggelam, seperti di Jakarta, Pekalongan, Semarang, dan daerah di pantai utara Jawa (pantura) lainnya.

"Kalau tanggul itu ya berarti dia hanya obat sementara atau painkiller. Kenapa? Karena tanggul dan tanahnya kan terus turun. Nah, itu yang terjadi di Demak," tutur Heri.

Mangrove bukan solusi banjir rob

Rehabilitasi mangrove, lanjut Heri, juga bukanlah "obat" untuk banjir rob.

Di wilayah pesisir Jawa, terdapat permasalahan banjir rob, erosi, abrasi, serta sedimentasi. Abrasi dan banjir rob menjadi dampak buruk yang paling dominan.

Bedanya, banjir rob dipicu penurunan permukaan tanah dan abrasi akibat gelombang laut.

"Mangrove itu akan efektif untuk mengurangi abrasi. Tapi bukan solusi untuk banjir rob karena kalau tanahnya turun, mangrovenya ikut turun, banjir robnya itu tetap datang ya sehingga mangrove itu ya bukan obat yang cocok untuk banjir rob. Tapi dia obatnya yang cocok untuk abrasi. Nah, apa yang kita saksikan di Demak, itu dominannya banjir rob, bukan abrasi," jelas Heri.

Baca juga:

Jika banjir rob, pengendalian penurunan permukaan tanah dengan sistem manajemen air yang lebih baik. Termasuk, mengendaikan eksploitasi air tanah.

"Pendekatan mangrove, kalau saya boleh bilang obat yang salah ya, meskipun banyak yang protes. Jika dominannya banjir rob, berarti bukan mangrove solusinya. Nah, solusinya harus yang lebih komprehensif," tutur Heri.

Eksploitasi air tanah menjadi faktor utama penurunan permukaan tanah di Demak. Meski industri tidak terlalu banyak, sektor pertanian dan pertambakan, serta masyarakat baik secara individu maupun komunal, juga mengeksploitasi air tanah di Demak.

Jakarta saat ini termasuk contoh best practice untuk pengendalian permukaan tanah.

Strateginya, mengganti ketergantungan pada sumur bor air tanah dengan penyediaan air bersih melalui jaringan perpipaan yang bersumber dari air permukaan, seperti sungai dan waduk.

"Ditambah suplai dari pipanisasi dari Ciliwung, terus pipanisasinya dikebut hingga 2030 ya, harapannya 100 persen pipanisasi menjangkau seluruh wilayah Jakarta sehingga mengurangi eksploitasi. Nah, itu sedang dikerjakan. Di luar Jakarta, di seluruh pantura belum mengerjakan," tutur Heri.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau