Penulis
KOMPAS.com - Serangga sering dianggap sebagai pengganggu, misalnya tawon kaki kuning (yellow-legged hornet) dan kepik harlequin. Namun, sesungguhnya serangga turut menjadi korban dari invasi spesies asing.
Dipimpin oleh UK Center for Ecology & Hydrology (UKCEH), sebuah studi dinilai sebagai analisis global pertama yang secara khusus meneliti dampak spesies asing invasif terhadap serangga darat.
Baca juga:
"Serangga berperan penting dalam fungsi ekosistem, tapi menghadapi berbagai ancaman, dengan spesies asing invasif kemungkinan menjadi salah satu ancaman terparah," tulis studi yang terbit di jurnal Nature Communications, dilansir dari Nature, Minggu (18/1/2026).
"Seiring dengan terus berkurangnya populasi serangga, terdapat kebutuhan yang semakin mendesak untuk mensintesis bukti mengenai dampak spesies asing invasif terhadap serangga karena penelitian secara historis lebih fokus pada serangga sebagai penyerang daripada sebagai korban."
Sebagai informasi, spesies asing (alien species) atau spesies invasif merupakan hewan, mikroba, penyakit, atau tumbuhan non-asli yang bersifat hama.
Hama-hama ini tidak asli di wilayah di mana mereka menimbulkan masalah dan dianggap "invasif'' karena mereka menyerang dan membentuk populasi di wilayah baru, dikutip dari laman UC Riverside, Center of Invasive Species Research.
Beberapa contoh spesies invasif, antara lain kumbang bercula panjang asia (asian long-horned beetle) dan kutu kasur (bed bug).
Baca juga:
Ilustrasi kepik. Studi menunjukkan, serangga tidak hanya penyerbu, tapi juga korban invasi spesies asing yang mengancam ekosistem dunia.Berdasarkan analisis global yang melibatkan data dari enam benua, spesies asing invasif terbukti menurunkan jumlah serangga secara signifikan.
"Di sini kami melakukan meta-analisis global yang mencakup 318 ukuran dampak dari 52 studi, mengevaluasi dampak spesies asing invasif terhadap ordo serangga darat (Coleoptera, Hemiptera, Hymenoptera, dan Orthoptera), serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi dampak-dampak tersebut," tulis studi tersebut.
Rata-rata kelimpahan serangga darat turun hingga 31 persen. Jumlah jenis serangga juga berkurang sekitar 21 persen, dilansir dari Phys.org.
Penurunan ini terjadi karena beberapa faktor. Hewan invasif sering bersaing langsung dengan serangga lokal, dengan sebagian memangsa serangga dan sebagian lagi mengambil sumber makanan mereka.
Di sisi lain, tumbuhan invasif menggantikan tanaman asli yang menjadi sumber pakan serangga. Akibatnya, banyak serangga kehilangan tempat hidup dan sumber energi.
Penelitian ini mengungkap bahwa tidak semua serangga terdampak dengan tingkat yang sama. Beberapa kelompok mengalami penurunan jauh lebih besar.
Kelompok Hemiptera atau serangga sejati seperti kepik mengalami penurunan paling tinggi. Jumlahnya rata-rata turun hingga 58 persen.
Sementara itu, kelompok Hymenoptera yang mencakup lebah, semut, tawon, dan lebah gergaji turun sekitar 37 persen. Padahal kelompok ini memiliki peran besar dalam penyerbukan dan keseimbangan ekosistem.
Kelompok Orthoptera seperti belalang dan jangkrik menurun sekitar 27 persen, lalu kumbang dari kelompok Coleoptera mengalami penurunan sekitar 12 persen.
Studi menunjukkan, serangga tidak hanya penyerbu, tapi juga korban invasi spesies asing yang mengancam ekosistem dunia.Para peneliti menekankan bahwa dampak spesies invasif tidak selalu sama di setiap tempat. Hasilnya bergantung pada kondisi lingkungan lokal.
Dalam beberapa kasus tertentu, tanaman invasif bahkan bisa mendukung keberadaan serangga. Hal ini bisa terjadi jika vegetasi asli telah hilang sebelumnya.
Namun, kondisi seperti ini bukan solusi jangka panjang dan tetap membawa risiko besar bagi keseimbangan ekosistem.
Baca juga:
Serangga bukan sekadar makhluk kecil di alam. Mereka memiliki peran vital bagi kehidupan manusia.
Serangga membantu penyerbukan tanaman pangan, mengendalikan hama secara alami, dan menjaga keseimbangan rantai makanan.
Jika populasi serangga terus menurun, dampaknya akan terasa langsung pada produksi pangan, stabilitas ekosistem, dan kesehatan lingkungan.
"Sangat penting bagi kita untuk mengakui serangga tidak hanya sebagai penyerang, tapi juga sebagai korban invasi," ucap ilmuwan data di UKCEH yang memimpin studi tersebut, Grace Skinner.
"Populasi serangga mengalami penurunan yang mengkhawatirkan di seluruh dunia, dan seiring berlanjutnya tren ini, layanan ekosistem yang esensial akan semakin terancam," tambah dia.
Menurutnya, mengidentifikasi serangga yang paling rentan terhadap invasi biologis akan mendukung prioritas yang lebih baik dalam pengelolaan habitat, serta mencegah dan mengendalikan spesies asing yang invasif.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya