Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jakarta Masuk Daftar Kota dengan Tekanan Air Ekstrem

Kompas.com, 23 Januari 2026, 10:41 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Memasuki masa kebangkrutan air

Direktur United Nations University Institute for Water, Environment, and Health (UNU-INWEH), Kaveh Madani mengatakan, pengelolaan air yang buruk menjadi penyebab utama "kebangkrutan air" (water bankruptcy).

Ia menganggap krisis iklim jarang menjadi satu-satunya alasan kebangkrutan air.

“Perubahan iklim seperti resesi di atas pengelolaan bisnis yang buruk," tutur Madani.

Bank Dunia telah menyuarakan kekhawatiran cadangan air tawar global yang telah anjlok tajam selama 20 tahun terakhir.

Bumi kehilangan sekitar 324 miliar meter kubik air tawar setiap tahun, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tahunan 280 juta orang atau setara populasi Indonesia. Kehilangan tersebut memengaruhi cekungan sungai utama di setiap benua.

Sebelumnya, pada Selasa (20/1/2026), United Nations (Perserikatan Bangsa-Bangsa/PBB) mengumumkan bahwa dunia telah memasuki keadaan kebangkrutan air.

Baca juga: 

Laporan PBB mendefinisikan istilah kebangkrutan air sebagai suatu keadaan ketika penggunaan air jangka panjang melebihi pasokan dan merusak alam. Bahkan, kerusakan sumber daya air yang sedemikian parah berdampak permanen dan tidak dapat dipulihkan.

"Laporan ini mengungkapkan kenyataan yang tidak nyaman: Banyak wilayah hidup melampaui batas kemampuan hidrologisnya, dan banyak sistem air kritis sudah bangkrut," ujar Madani, penulis utama laporan tersebut, dilansir dari laman Universitas PBB, Rabu (21/1/2026).

Selain penggunaan air secara berlebihan, laporan PBB itu menilai, polusi dan krisis iklim juga telah mendorong banyak sistem air hingga melampaui titik pemulihan.

Ke depannya, kebangkrutan air akan resmi diartikan sebagai penarikan berlebihan secara berkelanjutan dari air permukaan maupun air tanah, dibandingkan dengan aliran masuk yang dapat diperbarui dan tingkat deplesinya aman.

Kebangkrutan air juga akan bermakna kerugian sumber daya alam terkait air yang tidak dapat dipulihkan atau terlalu mahal untuk diperbaiki.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau