Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jalur Kimia Baru Pembentuk Partikel Polusi Udara Ditemukan

Kompas.com, 23 Januari 2026, 18:43 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Studi terbaru mengungkap misteri jalur kimia dalam pembentukan partikel polusi udara di lingkungan, yang dipengaruhi emisi alami dan buatan manusia.

Studi tersebut menggambarkan kelas senyawa organik yang mengandung sulfur, organosulfat teroksigenasi (OOS), dapat terbentuk langsung pada fase gas dalam emisi aerosol dan bertindak sebagai benih yang kuat untuk pembentukan partikel baru di atmosfer.

Baca juga:

Partikel-partikel itu bisa tumbuh menjadi materi partikulat halus yang memengaruhi pembentukan awan, serta berdampak buruk pada kualitas udara, kesehatan manusia, dan kesejahteraan iklim, dilansir dari Phys.org, Jumat (23/1/2026).

Temuan studi yang diterbitkan dalam Geophysical Research Letters itu bisa membentuk kembali cara para ilmuwan memahami kualitas udara dan dampaknya terhadap iklim.

"Penelitian ini merupakan terobosan dalam ilmu aerosol. Studi selanjutnya akan berfokus pada bagaimana proses-proses ini memengaruhi kualitas udara di kota-kota dan bagaimana sumber emisi baru dapat lebih memengaruhi pembentukan partikel," ujar pemimpin studi ini sekaligus profesor Ilmu Atmosfer dan Bumi di Universitas Alabama di Huntsville (UAH), Shanhu Lee.

Penemuan jalur kimia membentuk partikel polusi udara

Muncul secara tidak terduga

Studi menemukan jalur kimia baru yang memungkinkan partikel polusi udara terbentuk langsung di atmosfer, berdampak pada kualitas udara.freepik Studi menemukan jalur kimia baru yang memungkinkan partikel polusi udara terbentuk langsung di atmosfer, berdampak pada kualitas udara.

Penemuan jalur kimia baru ini muncul secara tak terduga dari eksperimen laboratorium yang dirancang untuk meniru lingkungan hutan di Amerika Serikat (AS).

Lingkungan hutan tersebut kerap terpapar polusi antropogenik, jenis kontaminasi udara, air, atau tanah yang disebabkan oleh aktivitas manusia, dari transportasi jarak jauh.

Mulanya, para peneliti tidak bermaksud mempelajari OOS dan bertujuan menyelidiki proses pembentukan aerosol di lingkungan menyerupai hutan AS yang terus-menerus terpapar polusi antropogenik.

"Selama percobaan, kami secara tak terduga mengamati bahwa pencampuran senyawa biogenik dengan ozon dan sulfur dioksida menghasilkan OOS dalam fase gas, yang mengejutkan, karena organosulfat dianggap sebagian besar terbentuk dalam partikel," tutur Lee.

Pada fase gas, termasuk senyawa dengan volatilitas rendah, ada di atmosfer sebelum atau selama konversinya menjadi partikel aerosol padat dan cair, yang memengaruhi pembentukan, pertumbuhan, dan reaksi kimia.

Lee berkolaborasi dengan Jonas Elm dan timnya di Universitas Aarhus di Denmark untuk menentukan apakah pembentukan fase gas ini secara kimiawi memungkinkan.

Dengan menggunakan perhitungan kimia kuantum tingkat lanjut, para peneliti mengidentifikasi jalur reaksi tanpa hambatan yang sebelumnya tidak diketahui. Cara ini memungkinkan OOS terbentuk langsung dari senyawa atmosfer umum.

Studi menemukan jalur kimia baru yang memungkinkan partikel polusi udara terbentuk langsung di atmosfer, berdampak pada kualitas udara.SHUTTERSTOCK/HOLIDAY62 Studi menemukan jalur kimia baru yang memungkinkan partikel polusi udara terbentuk langsung di atmosfer, berdampak pada kualitas udara.

"Ini adalah penemuan yang mengejutkan. Perhitungan menunjukkan bahwa reaksi ini dapat terjadi secara efisien dalam fase gas, membentuk OOS yang stabil yang belum pernah dipertimbangkan sebelumnya," ucapnya.

Dengan menggunakan spektrometer massa canggih, Lee dan timnya mendeteksi lebih dari 200 OOS pada fase gas yang berbeda.

Mereka menemukan bahwa senyawa-senyawa ini berkontribusi secara signifikan terhadap nukleasi aerosol, langkah pertama yang penting dalam pembentukan partikel baru.

Nukleasi aerosol adalah proses partikel padat atau cair kecil baru (aerosol) terbentuk langsung dari molekul gas, kemudian menciptakan benih awal untuk kabut, awan, dan polusi.

Prosesnya melibatkan gas-gas, seperti asam sulfat, amonia, dan senyawa organik dengan volatilitas rendah. Prosesnya juga melibatkan uap organik yang bertabrakan untuk membentuk gugus stabil dan tumbuh menjadi nanopartikel.

"Penemuan ini muncul dari eksperimen yang dirancang untuk meniru campuran atmosfer nyata. Dengan menggabungkan emisi alami dengan polutan antropogenik umum dan menerapkan pengukuran canggih serta perhitungan teoretis, kami menemukan bahwa OOS tidak hanya terbentuk dalam fase gas, tapi juga sangat efektif dalam mendorong pembentukan partikel," ujar Lee.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Pemerintah
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Pemerintah
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Pemerintah
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
Pemerintah
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
LSM/Figur
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Pemerintah
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
BUMN
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Pemerintah
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
Pemerintah
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Pemerintah
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Pemerintah
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Pemerintah
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
LSM/Figur
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
LSM/Figur
PBB Peringatkan AI Perparah Bias Gender dan Kekerasan di Dunia Maya
PBB Peringatkan AI Perparah Bias Gender dan Kekerasan di Dunia Maya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau