"Kondisi Jani ini merupakan dampak dari tingginya tekanan terhadap habitat orangutan. Salah satu hal penting yang harus kita tingkatkan bersama adalah edukasi dan penyadartahuan kepada semua pihak untuk bersama-sama menjaga keanekaragaman hayati orangutan dan habitatqnya serta satwa liar lainnya," papar Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane.
Sebagai informasi, YIARI dan tim gabungan juga sempat melepasliarkan tiga orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) bernama Badul, Korwas, dan Asoka ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR), Resort Mentatai, Menukung, Melawi, Kalimantan Barat.
Kawasan ini dianggap aman bagi orangutan karena berstatus kawasan konservasi yang mendapat pengawasan rutin melalui patroli Balai TNBBBR.
Ketiga orangutan menjalani pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, penimbangan bobot badan rutin, hingga verifikasi identitas satwa melalui microchip. Setelah pelepasliaran, tim gabungan YIARI dan Balai TNBBBR bakal memantau kondisi ketiganya guna memastikan proses adaptasi berjalan baik.
Pemantauan mencakup kemampuan individu menemukan pakan, membuat sarang, hingga mempertahankan perilaku liar di lingkungan barunya. Orangutan merupakan penyebar biji dan pembuka ruang bagi tumbuhan hutan.
Penambahan individu orangutan di kawasan tersebut diharapkan dapat memperkuat populasi orangutan kalimantan dalam jangka panjang sekaligus menjaga kelestarian hutan di TNBBBR.
Badul, Korwas, dan Asoka adalah orangutan yang dititipkan BKSDA Kalbar di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Desa Sungai Awan Kiri, Ketapang. Tujuannya, mengembalikan perilaku alami agar mereka mampu mencari pakan, menjelajah, membuat sarang, membangun kembali perilaku liar dan menjaga jarak dari manusia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya