KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem di Indonesia berlangsung selama lima hari ke depan.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani mengungkapkan hal itu akibat pergerakan bibit siklon tropis 91S dan 92P yang terpantau di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat, serta Teluk Carpentaria.
"Dalam sepekan ke depan, BMKG memperkirakan pengaruh dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal masih signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia," kata Andri dalam keterangannya, Sabtu (25/1/2026).
Baca juga: BPBD DKI Semai 800 Kg Kalsium Oksida di Bekasi untuk Cegah Banjir
Bibit siklon tropis 91S terpantau berada di Samudra Hindia selatan Sumbawa dengan tekanan udara minimum sekitar 1004 hPa, kecepatan angin maksimum 30 knot, serta bergerak ke arah selatan-tenggara.
Andri menyatakan, bibit siklon tropis tersebut menyebabkan peningkatan kecepatan angin di atas 25 knot di Samudra Hindia Selatan Jawa Timur hingga Sumba, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Perairan Utara Madura hingga Flores.
"Selain itu, membentuk daerah pertemuan angin atau konfluensi dan perlambatan angin atau konvergensi di Perairan Selatan Jawa Timur, Pulau Timor, dan sekitar bibit siklon tropis," jelas dia.
Sementara, siklon 92 P saat ini terlihat di Teluk Carpentaria dengan tekanan udara minimum sebesar 1008 hPa, kecepatan angin sebesar 15 knot, serta bergerak ke arah selatan-tenggara. Dampaknya, meningkatan kecepatan angin lebih dari 25 knot di Wilayah Laut Banda, Laut Arafuru, Maluku bagian Selatan hingga Tenggara, dan Papua Selatan bagian selatan.
Baca juga: Cuaca Ekstrem Bikin Jalur Pendakian Dunia Kian Berbahaya
Ia menjelaskan bahwa pada skala global, El Nino Southern Oscillation (ENSO) terpantau menguat pada fase negatif yang mengindikasikan La Nina lemah, dengan nilai Southern Oscillation Index (SOI) yang cenderung positif.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di sebagian wilayah terutama bagian timur Indonesia.
BMKG lalu memperkirakan, aktivitas madden julian oscillation (MJO) bakal aktif melintas perairan Timur Lampung, Lampung, perairan Kepulauan Seribu, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara.
Lainnya, gelombang rossby ekuator aktif di Samudra Hindia Barat Sumatera Utara hingga Lampung.
"Dengan memperhatikan faktor-faktor pendukung tersebut, potensi terjadi cuaca ekstrem diprediksi masih tinggi," papar Andri.
Andri mangatakan, periode 24-29 Januari di Indonesia umumnya didominasi kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Wilayah yang perlu waspada hujan sedang-lebat antara lain Sumatera Selatan, Bengkulu, Jawa Barat, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku, Papua Tengah, Papua Pegunungan dan Papua.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang dapat terjadi di Lampung, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, Banten, serta Jakarta.
"BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu serta potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem," ucap Andri.
Anda dapat memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem resmi dari BMKG melalui laman www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya