Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Madu Hutan, Warisan Herbal dalam Ikhtiar Sehat Keluarga Indonesia

Kompas.com, 24 Januari 2026, 22:14 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Bagi banyak keluarga Indonesia, madu kerap hadir bukan sekadar sebagai pemanis alami.

Lebih dari itu, cairan kental berwarna keemasan tersebut telah menjadi bagian dari kebiasaan merawat tubuh, baik saat dicampur air hangat pada pagi hari, diminum ketika stamina menurun, ataupun diberikan ketika tubuh terasa tidak enak badan. Praktik ini diwariskan lintas generasi jauh sebelum istilah suplemen kesehatan dikenal luas.

Di antara beragam jenis madu, madu hutan menempati posisi tersendiri. Dihasilkan oleh lebah liar Apis dorsata, madu ini dipanen dari hutan-hutan tropis Indonesia yang membentang dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua dan Nusa Tenggara.

Kehadirannya tak hanya mencerminkan kekayaan hayati Nusantara, tetapi juga menyimpan jejak panjang pemanfaatan herbal alami sebagai bagian dari ikhtiar sehat masyarakat.

Dalam berbagai literatur, madu disebut sebagai salah satu bahan pangan dengan kandungan nutrisi yang relatif lengkap.

Buku Aplikasi Madu sebagai Aktivator Stem Cell karya Erma Safitri dan Hery Purnobasuki yang diterbitkan Airlangga University Press pada 2022 mencatat bahwa madu mengandung gula alami, mineral, vitamin, protein, serta senyawa bioaktif, seperti polifenol dan flavonoid.

Baca juga: Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu

Kandungan tersebut membuat madu kerap dimanfaatkan sebagai sumber energi, pendukung stamina, sekaligus bagian dari pola hidup sehat.

Penulis buku tersebut juga menjelaskan bahwa madu memiliki sifat antibakteri alami dan antioksidan yang diyakini berperan dalam menjaga fungsi tubuh.

Madu diketahui mengandung vitamin E dan C, vitamin B kompleks, serta enzim, seperti glukosa oksidase dan invertase yang membantu proses metabolisme gula agar lebih mudah diserap tubuh. Tak heran, madu sejak lama digunakan sebagai bagian dari perawatan kesehatan, mulai dari menjaga kebugaran hingga membantu proses pemulihan luka.

Ketika ikhtiar sehat menjadi pilihan

Bagi sebagian orang, warisan herbal, seperti madu, kembali dilirik ketika tubuh memberi sinyal tertentu. Hal itulah yang dialami Alula Hasbi (32), ibu rumah tangga asal Majalengka, Jawa Barat. Perjalanannya bermula dari keluhan yang ia alami selama bertahun-tahun.

“Awalnya saya tidak haid selama lima tahun. Saya ke puskesmas dengan niat konsultasi supaya bisa haid lagi,” ujar Alula saat dihubungi Kompas.com, Rabu (21/1/2026).

Setelah menjalani pemeriksaan lanjutan, termasuk USG, dokter menyampaikan keberadaan kista di rahimnya. Ia sempat mendapatkan obat untuk melancarkan haid. Namun, setelah obat habis, perubahan yang diharapkan belum juga datang.

Baca juga: Dorong Capaian SDGs, ITS Gelar Pemeriksaan Gratis Deteksi Kanker untuk Perempuan

Di tengah rasa khawatir, Alula tetap menjalani pemeriksaan medis. Pada saat yang sama, ia juga berbagi cerita dengan lingkungan sekitarnya. Dari sana, ia mulai kembali melirik pendekatan alami yang sebenarnya tidak asing baginya.

“Saya memang sering minum rebusan jahe, kunyit, lengkuas, serai, cengkeh, kayu manis, dan madu untuk menjaga daya tahan,” katanya.

Bagi Alula, konsumsi herbal bukan hal baru. Ia kemudian memutuskan menambahkan madu herbal sebagai bagian dari rutinitasnya sembari tetap memantau kondisi kesehatan lewat pemeriksaan dokter.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau