Menurut Alula, perubahan mulai ia rasakan setelah menjalani rutinitas tersebut. Ia kembali melakukan USG beberapa bulan kemudian.
“Hasil USG berikutnya menunjukkan ukuran kista mengecil. Nyeri juga sudah tidak terasa dan haid mulai teratur,” ujarnya.
Meski demikian, Alula menegaskan bahwa apa yang ia lakukan adalah bagian dari ikhtiar pribadi, bukan jalan instan.
“Saya tetap periksa ke dokter. Herbal buat saya itu pendamping, bukan pengganti,” tutur Alula.
Pendekatan semacam itu sejalan dengan pandangan dokter umum sekaligus konten kreator edukasi kesehatan lulusan Universitas Padjadjaran dr Haidar An Nuridy. Ia memandang madu sebagai salah satu herbal alami yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mendukung kesehatan, selama digunakan secara bijak.
“Madu merupakan herbal alami yang bermanfaat untuk mendukung kesehatan dan daya tahan tubuh. Madu bisa menjadi pelengkap gaya hidup sehat karena mengandung zat alami yang membantu menjaga stamina, pencernaan, dan imunitas,” kata dr Haidar.
Ia menjelaskan, madu mengandung antioksidan, enzim, vitamin, mineral, serta senyawa antibakteri alami. Secara sederhana, zat-zat tersebut membantu melawan radikal bebas, mendukung sistem imun, dan membantu proses perbaikan sel di dalam tubuh.
Baca juga: Kebijakan Pencegahan Kanker Serviks di Indonesia Dinilai Belum Menyeluruh
Namun, Haidar menekankan bahwa madu dan herbal lain sebaiknya ditempatkan sebagai pendamping, bukan pengganti pengobatan medis.
“Untuk keluhan ringan atau menjaga daya tahan tubuh, madu bisa bermanfaat. Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk kondisi serius, seperti kista atau benjolan, agar penyebabnya jelas dan terapinya tepat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya memperhatikan kualitas madu, dosis konsumsi, serta kondisi kesehatan masing-masing individu. Penderita diabetes, ibu hamil, atau pasien dengan penyakit tertentu disarankan berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum rutin mengonsumsi herbal.
“Kombinasi herbal dan medis akan lebih aman dan optimal untuk kesehatan jangka panjang,” kata Haidar.
Di tengah peningkatan kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup preventif, madu hutan tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia.
Spesies Apis dorsata yang hidup liar di hutan tropis Indonesia menghasilkan madu dengan karakteristik berbeda ketimbang madu ternak. Keberadaannya pun berkaitan erat dengan kelestarian hutan dan ekosistem.
Bagi masyarakat Indonesia, madu hutan bukan sekadar komoditas, melainkan bagian dari ingatan kolektif tentang cara merawat tubuh secara alami. Praktik ini sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 3, yakni memastikan kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua usia melalui pendekatan promotif dan preventif.
Baca juga: Pertagas Kembangkan Budidaya Madu hingga Ikan Keramba untuk Berdayakan Masyarakat Riau
Dalam konteks modern, warisan herbal tersebut mulai diadaptasi dalam bentuk yang lebih praktis dan terstandar, salah satunya melalui produk Zymuno.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya