Penulis
KOMPAS.com - Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq menuturkan, aspek urbanisasi termasuk faktor perubahan tata guna lahan yang terjadi di sekitar area longsor Cisarua di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
"Sebenarnya ini aspek dari urbanisasi yang cukup masif di kota-kota sehingga membawa perubahan pola makan yang bukan kebiasaan kita, seperti kentang, kol, paprika, itu semua di daerah subtropis," kata Hanif, dilansir dari Antara, Senin (26/1/2026).
Baca juga:
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq saat meninjau kondisi lahan di area longsor Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pada Minggu (25/1/2026). Hanif menerangkan bahwa tanaman subtropis tersebut biasanya tumbuh di ketinggian 800-2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), sedangkan karakter di wilayah setempat berbeda.
“Kita sebenarnya karakternya tidak seperti itu. Tahun 2025 dulu tidak semasif ini sehingga ini membawa dampak pertanian naik ke gunung dan membuka lahan pertanian seperti ini,” ucap dia.
Sebagai informasi, longsor tersebut terjadi pada Sabtu (24/1/2026). Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jawa Barat, tercatat 10 orang meninggal dunia dan 82 orang masih dalam pencarian, dilaporkan oleh Kompas.com, Senin (26/1/2026).
Hanif menyampaikan, pihaknya akan menurunkan tim ahli untuk melakukan kajian mendalam terhadap kondisi lingkungan pascabencana.
Langkah ini dilakukan agar pemerintah memahami secara utuh penyebab longsor dan potensi risiko lanjutan yang mungkin muncul.
"Kami menurunkan tim ahli sebagaimana kami lakukan di Sumatera karena kalau bicara lingkungan ini harus saintis, tidak bisa main kira-kira guna menentukan langkah-langkah penanganan lebih lanjut," ucap dia.
Langkah ini menjadi penting karena longsor tidak hanya berdampak pada kerusakan fisik wilayah. Bencana juga berpengaruh pada keseimbangan ekosistem di Cisarua.
Baca juga:
Lanskap lokasi longsor dan lahan perkebunan di lereng Gunung Burangrang, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, Minggu (25/1/2026). ?Tim ahli yang diturunkan Kementerian LH tidak hanya fokus pada titik longsor. Kajian akan dilakukan secara menyeluruh terhadap lanskap kawasan terdampak.
Menurut Hanif, kajian akan mencakup kondisi tanah, vegetasi, serta potensi terjadinya bencana susulan. Semua data akan dikaji secara ilmiah agar mitigasi dapat dilakukan secara tepat.
Kajian ini diharapkan mampu memberikan gambaran nyata mengenai daya dukung lingkungan. Dengan begitu, langkah penanganan tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga preventif.
Pendekatan saintifik menjadi kunci utama agar kejadian serupa tidak kembali terulang pada masa depan.
Baca juga:
Kementerian LH memastikan kajian tidak dilakukan secara terburu-buru. Tim ahli akan bekerja bersama pemerintah daerah agar data yang dikumpulkan benar-benar akurat.
Untuk itu, tim akan segera bergabung dengan pemerintah kabupaten di bawah pimpinan bupati setempat. Kolaborasi ini penting agar kebijakan yang diambil selaras antara pusat dan daerah.
"Kita akan melakukan pendalaman sangat detil terhadap landscape ini, dan kemudian akan dilakukan langkah-langkah penanganan lebih lanjut," kata Hanif.
"Kami mungkin perlu waktu satu-dua minggu untuk menyelesaikan kajian detil bersama para ahli dari akademisi, dari badan riset dan lain-lain," tambah dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya