Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim, Banjir dan Badai di Asia Makin Sering Sejak 1988

Kompas.com, 26 Januari 2026, 14:16 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys

KOMPAS.com - Banjir dan badai di Asia dinilai sering terjadi, tapi semakin sedikit menelan korban jiwa, menurut studi terbaru. 

Studi tersebut menghitung peningkatan jumlah korban meninggal dunia akibat banjir, badai, dan suhu ekstrem yang dipicu krisis iklim sejak tahun 1988.

Baca juga:

Studi menggunakan Basis Data Kejadian Darurat (EM-DAT) dan memangkas dari subset 1.974 bencana melalui empat cara.

Pertama, kejadian bencana sebelum tahun 1988 dan setelah 2024 tidak dipertimbangkan. Kedua, kejadian bencana dengan 30 kematian atau lebih yang disertakan atau mencakup 95 persen dari semua kematian.

Sementara itu, ketiga, hanya bencana terkait dengan iklim yang diperhatikan, seperti klimatologi, hidrologi, dan meteorologi. Jadi, tidak termasuk korban gempa bumi, gunung berapi, pandemi, wabah penyakit, kebakaran hutan, kekeringan, dan luapan danau glasial.

Keempat, kejadian bencana dikelompokkan berdasarkan jenisnya dan benuanya, dengan mengecualikan Amerika Selatan dan Australia.

Setelah disaring, ditemukan 300 kejadian terkait suhu ekstrem, 1.088 banjir, dan 586 badai, dengan total 940.9895 kematian.

Berdasarkan benua, terdapat 270 kejadian di Afrika, 1.215 di Asia, 181 di Eropa, 220 di Amerika Latin, serta 88 di Amerika Utara. 

Bencana di Asia terjadi lebih sering

Tercatat lebih sedikit korban jiwa 

Banjir dan badai ekstrem di Asia menjadi sering terjadi, tetapi kurang menelan jiwa. Apa sebabnya? Pexels/Guilherme Christmann Banjir dan badai ekstrem di Asia menjadi sering terjadi, tetapi kurang menelan jiwa. Apa sebabnya?

Untuk menentukan besarnya jumlah kematian, studi memakai Generalized Pareto Distribution, dengan setiap kejadian bencana terkait iklim akan mewakili jumlah kematian yang tersebar sepanjang garis waktu.

Untuk menganalisis ujung ekor (nilai besar atau kecil) dari distribusi lain, studi menggunakan Generalized Pareto Distribution Secara matematis, dapat dibuktikan bahwa ekor dari banyak distribusi konvergen ke Generalized Pareto Distribution dan Generalized Pareto Distribution sering dipakai untuk menganalisis bahaya iklim.

Hasil matematis tersebut akan menjadi perkiraan akurat dari distribusi kematian sebenarnya karena yang dipertimbangkan hanyalah kejadian bencana paling mematikan.

Observasi yang telah difilter dapat dijelaskan sebagai distribusi Generalized Pareto Distribution, dengan Generalized Pareto Distribution untuk setiap wilayah dari masing-masing jenis kejadian. 

Hal itu nantinya dipakai untuk memperkirakan apakah kejadian dari jenis tertentu di wilayah tertentu menjadi lebih atau kurang mematikan dari waktu ke waktu.

Hasil temuan studi mengungkapkan, banjir dan badai ekstrem di Asia menjadi sering terjadi tetapi kurang mematikan. Bencana itu disebabkan berkurangnya kerentanan akibat peningkatan kapasitas adaptasi, dengan menyelamatkan sekitar 350.000 jiwa dalam periode tahun 1988-2024.

Secara khusus, analisis statistiknya menemukan adanya probabilitas 95 persen dengan jumlah yang terselamatkan berada antara 220.000 dan 560.000 jiwa. Jumlah nyawa yang terselamatkan sangat besar secara absolut dan relatif.

"Pengurangan kerentanan yang didorong oleh pembangunan di Asia selama periode 1988–2024 telah mengakibatkan ratusan ribu orang lebih sedikit meninggal akibat banjir dan badai dibandingkan dengan skenario di mana kerentanan tetap konstan dan populasi Asia terus tumbuh dengan laju seperti yang terjadi," ujar penulis studi, BB Cael, dari Departemen Ilmu Geofisika di Universitas Chicago, dilansir dari Phys, Senin (26/1/2026). 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau