Kejadian banjir dan badai di Asia dengan 30 atau lebih kematian bertanggung jawab atas 511.875 korban yang tercatat selama tahun 1988–2024. Bahkan, hasil tersebut tanpa memperhitungkan peningkatan kejadian curah hujan ekstrem akibat krisis iklim.
Untuk penurunan angka kematian di Asia akibat banjir dan badai, Cael mengaku agak terkejut dengan besarnya perkiraan tersebut.
"Tentu saja penting untuk diingat bahwa hasil ini sangat umum dan berskala benua, meskipun hal itu sama sekali tidak berarti bahwa risiko banjir dan badai di Asia akibat krisis iklim bukanlah masalah besar," ucapnya.
Adapun Badai Daniel melanda wilayah Mediterania pada September 2023 dan merupakan siklon tropis mirip paling mematikan dalam sejarah. Badai ini menyebabkan sekitar 13.200 kematian, dengan mayoritas di Libya, tempat 30 juta meter kubik air terlepas akibat Bendungan Abu Mansour dan Bendungan Derna runtuh. Kerugian yang ditimbulkan setidaknya mencapai 21 miliar dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 352,2 triliun).
Baca juga:
Banjir mematikan di Afrika menjadi lebih sering terjadi seiring peningkatan populasi pada periode 1988-2024. Dengan mengecualikan BadaiDaniel, tidak ditemukan tren kematian akibat badai di Afrika selama tahun 1988-2024, menjadikannya hal luar biasa yang terjadi sekali dalam dua abad.
Sementara itu, gelombang panas di Eropa menjadi lebih mematikan dari waktu ke waktu. Gelombang panas di Eropa terjadi lebih sering daripada gelombang dingin.
Waktu terjadinya kematian cenderung bergeser dari musim gugur dan musim dingin (Oktober hingga Februari), menjadi ke musim semi dan musim panas (Mei hingga Agustus).
Gelombang panas menjadi lebih sering terjadi dibandingkan dengan gelombang dingin yang kurang mematikan. Namun, tampaknya hal itu bukan disebabkan oleh paparan cuaca ekstrem, mengingat populasi Eropa hanya tumbuh kurang dari empat persen sejak tahun 1988.
Selain itu, tidak ada tren kematian yang signifikan secara statistik di Amerika. Tinjauan baru tentang tren dan anomali iklim ini telah diterbitkan dalam Geophysical Research Letters .
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya