KOMPAS.com - Saat melihat air yang sepintas tampak tenang dan jernih, jangan buru-buru menyentuh atau bahkan memanfaatkannya untuk kehidupan sehari-hari. Bisa jadi ada free-living amoebas (amoeba yang hidup bebas) di air tersebut.
Dalam studi yang terbit di jurnal Biocontaminant, para peneliti mengingatkan bahwa organisme kecil tersebut bisa menimbulkan risiko serius terhadap kesehatan. Apalagi perubahan iklim memudahkan amoeba ini untuk tumbuh dan menyebar.
Baca juga:
"Meskipun sering diabaikan dalam penelitian biosekuriti konvensional, protozoa ini dapat bertahan hidup dalam kondisi lingkungan ekstrem, termasuk pH tinggi, suhu tinggi, dan konsentrasi klorin tinggi sehingga membuatnya resisten terhadap pendekatan pengolahan air standar," tulis para peneliti, dilansir dari laman Maxpress, Selasa (27/1/2026).
Amoeba merupakan organisme kecil bersel tunggal yang bisa ditemukan di tanah, danau, sungai, dan sistem air keran. Amoeba yang hidup bebas pun bisa ditemukan di seluruh dunia.
Namun, sistem pengelolaan air yang buruk, kenaikan suhu, dan metode pengujian yang lemah memungkinkan organisme-organisme ini tumbuh tanpa disadari.
Banyak negara tidak memantau mikroba ini secara ketat, yang mana membuat deteksi dini menjadi sulit dilakukan.
Meningoensefalitis amoeba disebabkan oleh Naegleria fowleri. Air yang terlihat jernih dan tenang belum tentu aman. Perubahan iklim membuat amoeba di air tumbuh dan meluas, termasuk amoeba pemakan otak.Sebagian besar jenis amoeba tidak mematikan, tapi ada beberapa yang harus diperhatikan, dilansir dari Earth.com.
Dalam studi tersebut, disebutkan beberapa amoeba hidup bebas yang harus diwaspadai yaitu Naegleria fowleri and Acanthamoeba spp.
Naegleria fowleri, misalnya, dapat menyebabkan penyakit parah. Amoeba ini sering disebut sebagai amoeba pemakan otak.
Naegleria fowleri dapat menyebabkan infeksi otak yang langka ketika air yang terkontaminasi masuk ke hidung. Berenang, menyelam, atau menggunakan air yang tidak bersih untuk membersihkan hidung meningkatkan risikonya.
Setelah infeksi dimulai, kemungkinan untuk bertahan hidup menjadi sangat kecil. Meskipun kasusnya jarang, hasil yang fatal menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan ahli kesehatan.
Amoeba yang hidup bebas bertahan hidup di air hangat, menjadikan peningkatan suhu global sebagai faktor risiko penting.
Cuaca yang lebih panas memungkinkan organisme ini untuk menyebar ke area baru di mana sebelumnya kondisi yang lebih dingin mengendalikan pertumbuhannya.
"Yang membuat organisme ini sangat berbahaya adalah kemampuannya untuk bertahan hidup dalam kondisi yang membunuh banyak mikroba lain," kata penulis dan peneliti di Universitas Sun Yat-sen, Longfei Shu.
"Mereka dapat menolerir suhu tinggi, disinfektan kuat seperti klorin, dan bahkan hidup di dalam sistem distribusi air yang dianggap aman oleh masyarakat," imbuh dia.
Baca juga:
Sitoplasma cairan serebrospinal dengan Naegleria fowleri yang diwarnai (tanda panah). Air yang terlihat jernih dan tenang belum tentu aman. Perubahan iklim membuat amoeba di air tumbuh dan meluas, termasuk amoeba pemakan otak.Sistem pengolahan air biasanya menggunakan klorin untuk membunuh kuman yang dapat membuat orang sakit. Metode ini bekerja dengan baik untuk banyak bakteri dan virus, tapi amoeba yang hidup bebas dapat bertahan hidup bahkan setelah pengolahan klorin.
Karena organisme ini tetap berada di dalam sistem air, orang mungkin tetap terpapar tanpa menyadarinya. Air dapat terlihat bersih, berbau normal, dan rasanya enak, tapi tetap mengandung mikroba berbahaya.
Amoeba yang hidup bebas juga menciptakan masalah serius lainnya. Organisme ini dapat melindungi mikroba berbahaya lainnya di dalam sel mereka.
Mikroba yang bertahan hidup di dalam amoeba beradaptasi dan menjadi lebih sulit dibunuh. Hal ini makin meningkatkan risiko jangka panjang bagi kesehatan masyarakat dan perawatan medis.
Air yang terlihat jernih dan tenang belum tentu aman. Perubahan iklim membuat amoeba di air tumbuh dan meluas, termasuk amoeba pemakan otak.Perubahan iklim meningkatkan suhu air di seluruh dunia. Air hangat mendukung pertumbuhan amoeba yang menyukai panas.
Seiring meningkatnya suhu global, para ahli memperkirakan penyebaran yang lebih luas dan tingkat paparan yang lebih tinggi kecuali metode pencegahan yang lebih kuat segera dimulai.
Danau, kolam renang, dan taman air menciptakan kondisi ideal untuk paparan, terutama selama gelombang panas. Wilayah yang sebelumnya tidak pernah menghadapi masalah ini mungkin saat ini mengalami infeksi baru.
Baca juga:
Para peneliti menyerukan strategi One Health. Pendekatan ini menghubungkan kesehatan manusia, ilmu lingkungan, dan pengelolaan air menjadi satu upaya terkoordinasi.
Sistem pemantauan yang lebih baik dapat membantu melacak amoeba sebelum infeksi terjadi.
Alat diagnostik yang lebih baik dapat mendukung deteksi yang lebih cepat pada pasien dan pasokan air.
Metode pengolahan air yang baik juga dapat mengurangi risiko. Kerja sama yang kuat antara ilmuwan, petugas kesehatan, dan otoritas air tetap penting.
"Amoeba bukan hanya masalah medis atau masalah lingkungan tapi berada di persimpangan keduanya. Mengatasinya memerlukan solusi terpadu yang melindungi kesehatan masyarakat dari sumbernya," kata Shu.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya