Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Moh Samsul Arifin
Broadcaster Journalist

Sejak 2006 berkecimpung di dunia broadcast journalism, dari Liputan6 SCTV, ANTV dan Beritasatu TV. Terakhir menjadi produser eksekutif untuk program Indepth, NewsBuzz, Green Talk dan Fakta Data

Sebelum Terbakar Revolusi Biodiesel

Kompas.com, 27 Januari 2026, 17:30 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Program biodiesel rakus CPO atau crude palm oil (minyak sawit mentah). Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyebut, program B35 butuh sekitar 12 juta ton CPO. Kebutuhan itu bertambah jadi 14 juta ton CPO (B40).

Belum lagi untuk kebutuhan pangan, termasuk minyak goreng, yang menembus 10,2 juta ton. Dua hal itu mengharuskan penambahan produksi CPO.

Jika intensifikasi produksi tak dapat dijangkau, cara paling gampang adalah ekspansi dengan membuka lahan baru.

Baca juga: Banjir dan Longsor: Bangkit dari Dua Lapis Kelemahan

Secara global, analisa lanskap global dari World Resources Institute menunjukkan, antara 2001-2015 sebanyak 10,5 juta hektare hutan beralih menjadi perkebunan kelapa sawit.

Deforestasi adalah bahaya laten yang mencekam dan terus mengintai negeri kita. Di masa kolonialisme Belanda, sekitar tahun 1901, sebanyak 84 persen Indonesia merupakan areal hutan luas. Angka itu tinggal 54 persen di tahun pertama Pemerintahan Joko Widodo (2015).

Tobias Ehrlich (2021) menyatakan, antara 1990-2015, hampir seperempat luas hutan di negeri kita terdeforestasi. Setiap menit di tahun 2014 dan 2015, hutan seluas dua kali lapangan sepak bola standar FIFA hilang.

Penelitian Tobias Ehrlich juga menemukan bahwa perkebunan kelapa sawit ternyata menjadi salah satu penyebab utama deforestasi. Perkebunan kelapa sawit sempat merambah hutan seluas 120.000 kilometer persegi atau 3,3 kali luas Taiwan.

Brutal dan ugal-ugalan. Jadi, kita tak perlu kaget dengan data berikut. Jika luasan deforestasi hutan tropis secara global diibaratkan sebagai sebuah negara, ia akan menduduki peringkat ketiga yang memuncratkan emisi setara karbon dioksida. Ini cuma kalah buruk dari emisi karbon yang ditumpahkan oleh China dan Amerika Serikat (wri-indonesia.org).

Sawit Watch dan koalisi masyarakat sipil telah membunyikan alarm lampu merah. Dengan mengkaji daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, ditemukan bahwa Sumatera telah defisit ekologis.

Di Sumatera, tutupan sawit telah meloncat hingga 10,70 juta hektare. Lebih tinggi dari batas ekologis sebesar 10,69 juta hektare. Padahal, kebutuhan ideal lahan sawit di Sumatera hanya 1,53 juta hektare.

Demikian juga secara nasional. Luas perkebunan sawit melesat jadi 25,33 juta hektare hingga tahun 2024. Itu jauh di atas daya dukung dan daya tampung lingkungan yang cuma 18,15 juta hektare.

Ketika batas ekologi dilampaui, bukan kebetulan jika banjir parah di Aceh menerjang lanskap yang di dalamnya terdapat 231.095 hektare kelapa sawit. Begitu juga di Mandailing Natal, Sumatera Utara dan Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Banjir dan longsor yang menelan lebih dari 1.100 jiwa serta ratusan lagi hilang terjadi karena multifaktor. Perkebunan kelapa sawit yang merebut fungsi hutan alam diduga menjadi salah satu penyebab banjir Sumatera.

Faktor lainnya ditengarai karena aktivitas pertambangan, pembalakan liar dan lain-lain.

Baca juga: Guru Besar yang Tidak Besar

Namun, satu hal yang pasti: Hutan di Sumatera lenyap. Setiap hari sebanyak 100 hektare hutan di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat hilang selama tiga dekade (Kompas.id, 12 Desember 2025).

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau