Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Program biodiesel rakus CPO atau crude palm oil (minyak sawit mentah). Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyebut, program B35 butuh sekitar 12 juta ton CPO. Kebutuhan itu bertambah jadi 14 juta ton CPO (B40).
Belum lagi untuk kebutuhan pangan, termasuk minyak goreng, yang menembus 10,2 juta ton. Dua hal itu mengharuskan penambahan produksi CPO.
Jika intensifikasi produksi tak dapat dijangkau, cara paling gampang adalah ekspansi dengan membuka lahan baru.
Baca juga: Banjir dan Longsor: Bangkit dari Dua Lapis Kelemahan
Secara global, analisa lanskap global dari World Resources Institute menunjukkan, antara 2001-2015 sebanyak 10,5 juta hektare hutan beralih menjadi perkebunan kelapa sawit.
Deforestasi adalah bahaya laten yang mencekam dan terus mengintai negeri kita. Di masa kolonialisme Belanda, sekitar tahun 1901, sebanyak 84 persen Indonesia merupakan areal hutan luas. Angka itu tinggal 54 persen di tahun pertama Pemerintahan Joko Widodo (2015).
Tobias Ehrlich (2021) menyatakan, antara 1990-2015, hampir seperempat luas hutan di negeri kita terdeforestasi. Setiap menit di tahun 2014 dan 2015, hutan seluas dua kali lapangan sepak bola standar FIFA hilang.
Penelitian Tobias Ehrlich juga menemukan bahwa perkebunan kelapa sawit ternyata menjadi salah satu penyebab utama deforestasi. Perkebunan kelapa sawit sempat merambah hutan seluas 120.000 kilometer persegi atau 3,3 kali luas Taiwan.
Brutal dan ugal-ugalan. Jadi, kita tak perlu kaget dengan data berikut. Jika luasan deforestasi hutan tropis secara global diibaratkan sebagai sebuah negara, ia akan menduduki peringkat ketiga yang memuncratkan emisi setara karbon dioksida. Ini cuma kalah buruk dari emisi karbon yang ditumpahkan oleh China dan Amerika Serikat (wri-indonesia.org).
Sawit Watch dan koalisi masyarakat sipil telah membunyikan alarm lampu merah. Dengan mengkaji daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, ditemukan bahwa Sumatera telah defisit ekologis.
Di Sumatera, tutupan sawit telah meloncat hingga 10,70 juta hektare. Lebih tinggi dari batas ekologis sebesar 10,69 juta hektare. Padahal, kebutuhan ideal lahan sawit di Sumatera hanya 1,53 juta hektare.
Demikian juga secara nasional. Luas perkebunan sawit melesat jadi 25,33 juta hektare hingga tahun 2024. Itu jauh di atas daya dukung dan daya tampung lingkungan yang cuma 18,15 juta hektare.
Ketika batas ekologi dilampaui, bukan kebetulan jika banjir parah di Aceh menerjang lanskap yang di dalamnya terdapat 231.095 hektare kelapa sawit. Begitu juga di Mandailing Natal, Sumatera Utara dan Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
Banjir dan longsor yang menelan lebih dari 1.100 jiwa serta ratusan lagi hilang terjadi karena multifaktor. Perkebunan kelapa sawit yang merebut fungsi hutan alam diduga menjadi salah satu penyebab banjir Sumatera.
Faktor lainnya ditengarai karena aktivitas pertambangan, pembalakan liar dan lain-lain.
Baca juga: Guru Besar yang Tidak Besar
Namun, satu hal yang pasti: Hutan di Sumatera lenyap. Setiap hari sebanyak 100 hektare hutan di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat hilang selama tiga dekade (Kompas.id, 12 Desember 2025).
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya