Dicky menganggap Virus Nipah bukanlah kejadian acak. Dengan demikian, kata dia, Virus Nipah sebetulnya sentinel disease atau kondisi penyakit yang dapat dicegah dan muncul sebagai sinyal peringatan untuk krisis One Health.
Diketahui, One Health merupakan pendekatan kolaboratif dan terpadu yang mengakui bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terhubung secara erat.
"Peternakan juga yang biosekuritinya buruk ya, mobilitas yang tinggi manusia ke daerah perkebunan, ke hutan, ya, bolak-balik, termasuk kombinasi atau interaksi dengan sistem kesehatan yang lemah. Jadi, lemahnya deteksi dini, lemahnya infection prevention control (pencegahan dan pengendalian infeksi) di fasilitas kesehatan termasuk rumah sakit," jelas Dicky.
Baca juga:
Sebelumnya, peneliti ahli muda Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arief Mulyono mengatakan, cuaca ekstrem akibat krisis iklim memicu penularan virus yang mematikan, seperti Hendra dan Nipah.
Krisis iklim memicu peningkatan risiko infeksi zoonosis atau penyakit dari hewan yang bisa menginfeksi manusia.
Di dalam ekosistem, kelelawar memiliki peran sebagai inang reservoir atau agen pembawa patogen yang terdiri dari virus, parasit, bakteri, sampai infeksi jamur.
Kelelawar mempunyai umur antara 10-15 tahun dan terbang hingga 60 kilometer untuk mengembangkan koloni sosialnya.
Kenaikan suhu akibat krisis iklim berdampak terhadap ekologi kelelawar karena hewan mamalia ini tergolong cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Krisis iklim dorong kelelawar berpindah habitat dan meningkatkan kontak dengan manusia. Kondisi ini memperbesar risiko penularan virus Nipah.Kelelawar akan terus bermigrasi secara besar-besaran dari wilayah yang nyaman baginya.
Krisis iklim mendorong kelelawar untuk menginvasi daerah-daerah yang dulunya tidak bersahabat. Namun, ketika bermigrasi, tentunya kelelawar juga membawa patogen sehingga berpotensi menimbulkan penyebaran zoonosis.
Selain itu, kekeringan yang dipicu krisis iklim juga mengakibatkan kelelawar stress secara biologis dan daya tahannya semakin melemah.
Saat daya tahannya melemah, kelelawar mengeluarkan patogen ke berbagai tempat yang didatanginya dan berpotensi menginfeksi makhluk hidup lain, termasuk manusia.
Di sisi lain, kerusakan habitat kelelawar justru mendekatkannya dengan manusia dan meningkatkan interaksi di antara keduanya. Peningkatan interaksi antara manusia dengan kelelawar menyebabkan kenaikan kasus zoonosis.
"Peningkatan suhu (akibat krisis iklim mengakibatkan kelelawar) bermigrasi ke daerah-daerah yang dulunya dingin, sekarang menjadi hangat, seperti Pteropus lylei (kelelawar yang umum di Indonesia) yang berekspansi ke Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Diperkirakan tahun 2070, ini semakin luas lagi pergerakannya," ujar Arief.
Ia menganggap penting untuk menjaga kelestarian hutan primer dan sekunder sebagai habitat dari kelelawar agar hewan mamalia itu tidak bermigrasi ke tempat tinggal manusia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya