Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Virus Nipah, Indikator Gagalnya Relasi Manusia dan Lingkungan

Kompas.com, 28 Januari 2026, 15:08 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Virus Nipah bukan kejadian acak

Dicky menganggap Virus Nipah bukanlah kejadian acak. Dengan demikian, kata dia, Virus Nipah sebetulnya sentinel disease atau kondisi penyakit yang dapat dicegah dan muncul sebagai sinyal peringatan untuk krisis One Health.

Diketahui, One Health merupakan pendekatan kolaboratif dan terpadu yang mengakui bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terhubung secara erat.

"Peternakan juga yang biosekuritinya buruk ya, mobilitas yang tinggi manusia ke daerah perkebunan, ke hutan, ya, bolak-balik, termasuk kombinasi atau interaksi dengan sistem kesehatan yang lemah. Jadi, lemahnya deteksi dini, lemahnya infection prevention control (pencegahan dan pengendalian infeksi) di fasilitas kesehatan termasuk rumah sakit," jelas Dicky.

Baca juga:

Krisis iklim memicu peningkatan risiko infeksi zoonosis

Sebelumnya, peneliti ahli muda Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arief Mulyono mengatakan, cuaca ekstrem akibat krisis iklim memicu penularan virus yang mematikan, seperti Hendra dan Nipah.

Krisis iklim memicu peningkatan risiko infeksi zoonosis atau penyakit dari hewan yang bisa menginfeksi manusia.

Di dalam ekosistem, kelelawar memiliki peran sebagai inang reservoir atau agen pembawa patogen yang terdiri dari virus, parasit, bakteri, sampai infeksi jamur.

Kelelawar mempunyai umur antara 10-15 tahun dan terbang hingga 60 kilometer untuk mengembangkan koloni sosialnya.

Kenaikan suhu akibat krisis iklim berdampak terhadap ekologi kelelawar karena hewan mamalia ini tergolong cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Krisis iklim dorong kelelawar berpindah habitat dan meningkatkan kontak dengan manusia. Kondisi ini memperbesar risiko penularan virus Nipah.Shutterstock/Independent birds Krisis iklim dorong kelelawar berpindah habitat dan meningkatkan kontak dengan manusia. Kondisi ini memperbesar risiko penularan virus Nipah.

Kelelawar akan terus bermigrasi secara besar-besaran dari wilayah yang nyaman baginya.

Krisis iklim mendorong kelelawar untuk menginvasi daerah-daerah yang dulunya tidak bersahabat. Namun, ketika bermigrasi, tentunya kelelawar juga membawa patogen sehingga berpotensi menimbulkan penyebaran zoonosis.

Selain itu, kekeringan yang dipicu krisis iklim juga mengakibatkan kelelawar stress secara biologis dan daya tahannya semakin melemah.

Saat daya tahannya melemah, kelelawar mengeluarkan patogen ke berbagai tempat yang didatanginya dan berpotensi menginfeksi makhluk hidup lain, termasuk manusia.

Di sisi lain, kerusakan habitat kelelawar justru mendekatkannya dengan manusia dan meningkatkan interaksi di antara keduanya. Peningkatan interaksi antara manusia dengan kelelawar menyebabkan kenaikan kasus zoonosis.

"Peningkatan suhu (akibat krisis iklim mengakibatkan kelelawar) bermigrasi ke daerah-daerah yang dulunya dingin, sekarang menjadi hangat, seperti Pteropus lylei (kelelawar yang umum di Indonesia) yang berekspansi ke Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Diperkirakan tahun 2070, ini semakin luas lagi pergerakannya," ujar Arief.

Ia menganggap penting untuk menjaga kelestarian hutan primer dan sekunder sebagai habitat dari kelelawar agar hewan mamalia itu tidak bermigrasi ke tempat tinggal manusia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
LSM/Figur
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Swasta
Prakiraan Cuaca  yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Prakiraan Cuaca yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Pemerintah
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
LSM/Figur
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau