KOMPAS.com - Krisis iklim telah mengubah perilaku, pergerakan, dan lokasi tempat tinggal kelelawar di Indonesia. Adapun kelelawar bisa membawa beragam virus, termasuk virus Nipah.
Pergeseran habitat berdampak terhadap semakin besarnya kemungkinan kontak antara manusia dengan kelelawar domestik. Imbasnya, krisis iklim meningkatkan risiko penularan berbagai penyakit yang dibawa kelelawar.
Baca juga:
Kondisi itu diperparah dengan adanya pola interaksi antara manusia dan kelelawar di Indonesia baik melalui memelihara maupun mengonsumsinya.
Alih fungsi hutan untuk pertanian atau peternakan turut meningkatkan risiko penularan berbagai penyakit dari kelelawar ke manusia.
Alih fungsi hutan tersebut mendekatkan manusia dengan habitat kelelawar. Apalagi kelelawar sudah ribuan tahun menghuni kawasan hutan yang dialihfungsikan itu.
Salah satu contohnya, kelelawar pemakan buah yang memang menjadikan kawasan hutan tersebut sebagai tempat untuk mencari makan.
"(Ketika tutupan) Hutan berubah menjadi peternakan misalnya, ya tapi kelelawarnya tetap ke situ ya dan kotorannya akhirnya mencemari, mengkontaminasi kandang, makanan dari hewan (ternak) atau makanan yang dikonsumsi manusia," ujar Epidemiolog sekaligus peneliti Global Health Security dari Griffith University, Dicky Budiman kepada Kompas.com, Rabu (28/1/2026).
Krisis iklim dorong kelelawar berpindah habitat dan meningkatkan kontak dengan manusia. Kondisi ini memperbesar risiko penularan virus Nipah.Peternakan yang dulunya kawasan hutan, berisiko tinggi menjadi tempat penularan berbagai penyakit dari kelelawar lewat kotorannya.
Berbagai penyakit dapat ditularkan, dengan perantara hewan ternak, seperti babi atau mamalia lainnya, yang berinteraksi langsung dengan manusia.
Berbagai penyakit juga bisa ditularkan kelelawar ke manusia melalui kotorannya secara langsung, dengan mencemari makanan atau minuman manusia.
Kelelawar membawa berbagai penyakit dengan risiko yang potensi bahayanya, seperti virus Nipah. Menurut Dicky, kerusakan hutan di Indonesia berkontribusi terhadap penyebaran berbagai penyakit yang dibawa kelelawar.
"Sekali lagi, bukan hanya virus Nipah. Tetapi, juga virus-virus lain yang selama ini masih ada, belum muncul di hewan-hewan ini dan berpotensi akhirnya menimbulkan spillover (penularan silang atau patogen ditularkan dari spesies reservoir ke spesies lain), potensi penyakit baru yang lahir ya," ucapnya.
Krisis iklim dorong kelelawar berpindah habitat dan meningkatkan kontak dengan manusia. Kondisi ini memperbesar risiko penularan virus Nipah.Indonesia disebut sebagai hotspot dan zona merah (red zone) bagi munculnya penyakit-penyakit baru.
"(Itu) karena Indonesia dengan alam liarnya, dengan hutannya, itu sebetulnya kaya dengan banyak virus di hewan-hewan, seperti kelelawar itu. Tapi, ketika itu dirusak, ya artinya akan ada kontak pada manusia yang bisa menimbulkan masalah kesehatan baru," tutur Dicky.
Ia menambahkan, hal yang luput dari perhatian pemerintah dan masyarakat adalah virus Nipah bukanlah sekadar permasalahan medis.
Virus Nipah merupakan hasil interaksi kompleks antara kerusakan ekosistem, deforestasi, urbanisasi, perubahan pola makan manusia, serta gaya hidup tidak higienis dan sanitasi yang buruk.
Interaksi kompleks yang memunculkan Virus Nipah tersebut, adalah indikator kegagalan relasi manusia dengan lingkungan.
Baca juga:
Krisis iklim dorong kelelawar berpindah habitat dan meningkatkan kontak dengan manusia. Kondisi ini memperbesar risiko penularan virus Nipah.Dicky menganggap Virus Nipah bukanlah kejadian acak. Dengan demikian, kata dia, Virus Nipah sebetulnya sentinel disease atau kondisi penyakit yang dapat dicegah dan muncul sebagai sinyal peringatan untuk krisis One Health.
Diketahui, One Health merupakan pendekatan kolaboratif dan terpadu yang mengakui bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terhubung secara erat.
"Peternakan juga yang biosekuritinya buruk ya, mobilitas yang tinggi manusia ke daerah perkebunan, ke hutan, ya, bolak-balik, termasuk kombinasi atau interaksi dengan sistem kesehatan yang lemah. Jadi, lemahnya deteksi dini, lemahnya infection prevention control (pencegahan dan pengendalian infeksi) di fasilitas kesehatan termasuk rumah sakit," jelas Dicky.
Baca juga:
Sebelumnya, peneliti ahli muda Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arief Mulyono mengatakan, cuaca ekstrem akibat krisis iklim memicu penularan virus yang mematikan, seperti Hendra dan Nipah.
Krisis iklim memicu peningkatan risiko infeksi zoonosis atau penyakit dari hewan yang bisa menginfeksi manusia.
Di dalam ekosistem, kelelawar memiliki peran sebagai inang reservoir atau agen pembawa patogen yang terdiri dari virus, parasit, bakteri, sampai infeksi jamur.
Kelelawar mempunyai umur antara 10-15 tahun dan terbang hingga 60 kilometer untuk mengembangkan koloni sosialnya.
Kenaikan suhu akibat krisis iklim berdampak terhadap ekologi kelelawar karena hewan mamalia ini tergolong cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Krisis iklim dorong kelelawar berpindah habitat dan meningkatkan kontak dengan manusia. Kondisi ini memperbesar risiko penularan virus Nipah.Kelelawar akan terus bermigrasi secara besar-besaran dari wilayah yang nyaman baginya.
Krisis iklim mendorong kelelawar untuk menginvasi daerah-daerah yang dulunya tidak bersahabat. Namun, ketika bermigrasi, tentunya kelelawar juga membawa patogen sehingga berpotensi menimbulkan penyebaran zoonosis.
Selain itu, kekeringan yang dipicu krisis iklim juga mengakibatkan kelelawar stress secara biologis dan daya tahannya semakin melemah.
Saat daya tahannya melemah, kelelawar mengeluarkan patogen ke berbagai tempat yang didatanginya dan berpotensi menginfeksi makhluk hidup lain, termasuk manusia.
Di sisi lain, kerusakan habitat kelelawar justru mendekatkannya dengan manusia dan meningkatkan interaksi di antara keduanya. Peningkatan interaksi antara manusia dengan kelelawar menyebabkan kenaikan kasus zoonosis.
"Peningkatan suhu (akibat krisis iklim mengakibatkan kelelawar) bermigrasi ke daerah-daerah yang dulunya dingin, sekarang menjadi hangat, seperti Pteropus lylei (kelelawar yang umum di Indonesia) yang berekspansi ke Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Diperkirakan tahun 2070, ini semakin luas lagi pergerakannya," ujar Arief.
Ia menganggap penting untuk menjaga kelestarian hutan primer dan sekunder sebagai habitat dari kelelawar agar hewan mamalia itu tidak bermigrasi ke tempat tinggal manusia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya