KOMPAS.com - Untuk pertama kalinya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan rekomendasi untuk makanan sehat dan bergizi untuk sekolah-sekolah di seluruh dunia.
Panduan global terbaru mengenai kebijakan dan intervensi berbasis bukti menunjukkan bahwa makanan sehat di sekolah dapat membantu anak-anak membangun kebiasaan makan yang sehat seumur hidup.
Baca juga:
"Makanan yang dikonsumsi anak-anak di sekolah, serta lingkungan yang membentuk apa yang mereka makan, dapat memberikan dampak yang dalam pada pembelajaran mereka, dan konsekuensi seumur hidup bagi kesehatan serta kesejahteraan mereka," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus lewat keterangan resmi, dikutip Rabu (28/1/2026).
Pada Oktober 2025, 104 negara anggota memiliki kebijakan terkait makanan sekolah yang sehat, tapi hanya 48 negara yang memiliki kebijakan yang membatasi pemasaran makanan tinggi gula, garam, atau lemak tidak sehat, menurut WHO.
Bagi jutaan anak yang menghabiskan sebagian besar waktu mereka di sekolah, lingkungan makanan yang mereka hadapi dapat membentuk kebiasaan makan mereka ke depannya.
“Memastikan nutrisi yang tepat di sekolah sangat penting untuk mencegah penyakit di kemudian hari dan menciptakan orang dewasa yang lebih sehat,” ucap Tedros.
Untuk pertama kalinya, WHO merilis panduan global makanan sehat di sekolah. Aturan ini batasi gula, garam, dan lemak demi cegah obesitas anak.WHO merekomendasikan peningkatan ketersediaan makanan dan minuman sehat sambil mengurangi makanan tidak sehat.
Rekomendasi tersebut berarti membatasi gula bebas, lemak jenuh, dan natrium, sambil menawarkan lebih banyak biji-bijian utuh, buah-buahan, kacang-kacangan, dan polong-polongan.
Rekomendasi lainnya mencakup penerapan "intervensi dorongan" (nudging interventions) yaitu perubahan pada kemasan, penempatan, atau ukuran porsi makanan yang dirancang untuk mendorong anak-anak agar memilih makanan yang lebih sehat.
Baca juga:
Untuk pertama kalinya, WHO merilis panduan global makanan sehat di sekolah. Aturan ini batasi gula, garam, dan lemak demi cegah obesitas anak.Tanpa edukasi sejak dini, anak berpotensi mengonsumsi makanan yang tak bernutrisi yang bisa menyebabkan penyakit.
WHO mencatat, kelebihan berat badan dan obesitas pada anak-anak mengalami peningkatan secara global. Namun, di sisi lain, kekurangan gizi tetap menjadi tantangan yang terus-menerus.
Tingkat obesitas anak melampaui kasus kekurangan berat badan di seluruh dunia untuk pertama kalinya pada tahun 2025.
Sekitar satu dari 10 anak usia sekolah dan remaja hidup dengan obesitas tahun lalu, dan satu dari lima orang atau sebanyak 391 juta anak memiliki berat badan berlebih.
Selain itu, laporan WHO baru-baru ini mengungkapkan bahwa diabetes sudah memengaruhi lebih dari 800 juta orang di seluruh dunia, serta satu dari enam kehamilan.
WHO akan mendukung negara-negara dengan bantuan teknis, berbagi pengetahuan, dan langkah-langkah kolaboratif lainnya, untuk mewujudkan pedoman baru tersebut.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya