Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN Sebut Sawit Tak Cocok untuk Semua Lahan di Indonesia, Ini Alasannya

Kompas.com, 29 Januari 2026, 10:50 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kelapa sawit sebagai komoditas memiliki berbagai keunggulan. Namun, tidak semua lahan di Indonesia cocok untuk dialihfungsikan sebagai perkebunan kelapa sawit.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah membuat peta kesesuaian lahan di Indonesia untuk menentukan jenis tanaman komoditas atau pangan yang cocok untuk masing-masing lokasi.

Baca juga:

Peta kesesuaian lahan akan dimanfaatkan sebagai fondasi bagi pembangunan pertanian Indonesia ke depannya.

"Sawit tidak fit for all. Tidak fit untuk semua lokasi," ujar Kepala BRIN, Arif Satria dalam diskusi dan diseminasi riset Papua Harus Ditanami Kelapa Sawit? di Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Selain itu, perlu pula pemetaan secara sosial untuk mengetahui apakah masyarakat di sekitar lahan tersebut bersedia hidup berdampingan dengan usaha perkebunan atau sektor pertanian lainnya.

"Karena bisa saja secara ekologis tetap, tapi secara sosial belum tentu tepat sehingga strategi untuk mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan baru di bidang perkebunan dan di bidang pertanian ini, mau tidak mau harus memperhatikan aspek-aspek sosial," jelas Arif.

Baca juga:

Pohon sawit tidak cocok untuk semua lahan di Indonesia

Transformasi ekonomi dan sosial di Papua harus berjalan beriringan

Desmiwati (kiri) dan Lukas Rumboko Wibowo dari BRIN (kedua dari kiri); perwakilan masyarakat adat Moi, Desi Mansinau (tengah); serta Direktur Pusaka Bentala Rakyat, Franky Samperante (kedua dari kanan) saat diseminasi dan diskusi hasil riset 'Papua Harus Ditanami Kelapa Sawit? di Gedung Widya Graha BRIN, Jakarta, Kamis (29/1/2026).KOMPAS.com/Manda Firmansyah Desmiwati (kiri) dan Lukas Rumboko Wibowo dari BRIN (kedua dari kiri); perwakilan masyarakat adat Moi, Desi Mansinau (tengah); serta Direktur Pusaka Bentala Rakyat, Franky Samperante (kedua dari kanan) saat diseminasi dan diskusi hasil riset 'Papua Harus Ditanami Kelapa Sawit? di Gedung Widya Graha BRIN, Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Menurut Arif, dalam pemetaan secara sosial, peran sosiolog dan antropolog sangat diperlukan.

Ada beberapa komponen penting dalam pendekatan terbaru dalam sustainability science, dengan mengakomodasi local knowledge. Inilah yang membedakan sustainability science dengan environmental science yang memakai pendekatan positivistik dan selalu melihat hukum alam bersifat universal.

"Sustainability science cenderung lebih bukan konstruktivistik dan akan melihat dalam perspektif yang berbeda, selalu berusaha memahami bagaimana masyarakat memaknai lingkungannya. Nah, jadi sustainability science dengan human ecology ya, dengan social ecology, itu sangat-sangat berdekatan dan saling support," terang Arif. 

Arif menganggap transformasi ekonomi dan sosial di Papua harus berjalan beriringan. Aspek ekonomi, sosial, dan ekologi harus dicari titik keseimbangannya.

Jika rasionalitas ekonomi terlalu dominan maka terjadi kerusakan ekologis dan sosial. Namun, kalau rasionalitas ekologi terlalu dominan maka terjadi stagnansi atau kemandekan ekonomi.

Pendekatan transdisipliner atau mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dapat memecahkan permasalahan yang kompleks dengan mencari titik temu keseimbangan.

Pendekatan transdisipliner dengan melibatkan akademisi dari berbagai latar belakang keilmuan bisa menghasilkan perspektif baru dalam mendukung transformasi sosial dan ekonomi secara beriringan di Papua.

"Semoga perspektif inilah yang kemudian akan terus menguat di riset-riset ke depan, sehingga kita memberikan opsi-opsi yang penting buat pemerintah, baik daerah maupun pusat, terkait dengan arah pembangunan di daerah ke depan," ujar Arif.

Perkebunan kelapa sawit belum memenuhi syarat

BRIN tengah menyusun peta kesesuaian lahan nasional. Kepala BRIN menegaskan kelapa sawit tidak cocok ditanam di semua wilayah Indonesia.Dok. Berry Subhan Putra/Kompas.com BRIN tengah menyusun peta kesesuaian lahan nasional. Kepala BRIN menegaskan kelapa sawit tidak cocok ditanam di semua wilayah Indonesia.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, Franky Samperante menilai, produksi crude palm oil (CPO) untuk biodiesel oleh perusahaan perkebunan kepala sawit di Papua, terutama di Kabupaten Sorong, belum memenuhi syarat dari aspek tata kelola dan sosial, serta tidak ramah lingkungan lingkungan.

"Artinya, berbagai macam industri yang berhubungan dengan biodiesel disebut sebagai energi terbarukan, itu harus memastikan tidak ada deforestasi di wilayah kerja mereka, tidak ada perampasan dan kekerasan yang dialami masyarakat," ujar Franky kepada Kompas.com, Kamis (29/1/2026).

Mayoritas perkebunan kelapa sawit di Papua beroperasi di lanskap dataran tanah yang datar dan bukan kontur dengan kemiringan, seperti berada di wilayah perbukitan atau lereng.

Kondisi tersebut kebanyakan berasal dari kawasan hutan yang sebelumnya merupakan hutan produksi atau area beroperasinya perusahaan-perusahaan penebangan kayu (logging).

Baca juga:

Selain itu, perusahaan perkebunan kelapa sawit juga beroperasi di area yang ditetapkan sebagai wilayah perbatasan.

"Nah, memang kebanyakan dari daerah ini berdasarkan lanskap dataran, tanah datar, bukan di kemiringan. Tapi, daerah-daerah ini sebelumnya memang sudah menjadi target ekonomi ekstraktif, yang didahului dengan operasi-operasi pengambilan lahan masyarakat setempat secara berdarah-darah," tutur Franky.

Ia menambahkan, sudah terjadi sejumlah kasus banjir pasca-ekspansi perkebunan kelapa sawit di Papua pada era kepresidenan Prabowo Subianto.

Misalnya, banjir di Sorong pada Oktober 2025. Saat itu, Franky berada di lokasi dan menyaksikan banjir di sekitar lokasi perkebunan kelapa sawit.

Kemudian, banjir di Merauke pada April-Juni 2025.

"Nah, itu umumnya setelah ada pembukaan lahan," ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau