Dalam studi lainnya, Kubah Prudhoe (prudhoe dome), gumpalan es raksasa seluas 2.500 kilometer persegi atau seukuran negara Luksemburg, di Greenland berpotensi kembali mencair.
Pencairan lapisan es Kubah Prudhoe dapat menaikkan permukaan laut global. Para peneliti mengebor sedalam 500 meter menembus pusat Kubah Prudhoe untuk mengumpulkan inti sedimen dan batuan dasar sepanjang tujuh meter.
Teknik penanggalan menggunakan cahaya inframerah menunjukkan, pasir di permukaan inti sedimen Kubah Prudhoe telah memutih akibat sinar matahari sekitar 7.000 tahun lalu, sekitar awal periode Holosen.
Tidak hanya itu, pencairan tersebut menunjukkan bahwa Kubah Prudhoe lebih sensitif terhadap suhu yang relatif hangat.
Baca juga:
"Hal ini adalah bukti yang sangat langsung bahwa lapisan es sangat sensitif terhadap pemanasan, bahkan dalam jumlah yang relatif kecil yang terjadi pada zaman Holosen, seperti yang kita khawatirkan,” ujar Yarrow Axford dari Northwestern University di Illinois, Amerika Serikat, yang tidak terlibat dalam studi ini, dilansir dari NewScientist.
Sementara itu, profesor yang memimpin studi ini, Jason Briner mengatakan, periode Holosen merupakan masa yang dikenal dengan stabilitas iklim.
Pada periode itu, manusia pertama kali mulai mengembangkan praktik pertanian dan mengambil langkah-langkah menuju peradaban.
"Jika perubahan iklim alami dan moderat pada era tersebut telah melelehkan Kubah Prudhoe dan membuatnya tetap mundur selama ribuan tahun, mungkin hanya masalah waktu sebelum ia mulai meleleh kembali akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia saat ini," ucap Briner.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya