KOMPAS.com - Permukaan laut di Greenland diprediksi bakal turun hingga 2,5 meter pada tahun 2100 saat emisi tinggi. Sebaliknya, dalam skenario emisi rendah, penurunan permukaan laut kemungkinan akan mencapai sekitar 0,9 meter, menurut studi terbaru.
Penulis studi, Jacqueline Austermann mengatakan, fenomena ini dipicu berkurangnya massa lapisan es Greenland akibat gravitasi. Ia mengibaratkannya seperti kasur busa yang mengembang kembali setelah orang di atasnya bangun.
Baca juga:
“Ketika lapisan es kehilangan massa, tarikan gravitasinya terhadap permukaan laut berkurang, sehingga menyebabkan penurunan permukaan laut," kata Austermann, dilansir dari Euronews, Kamis (29/1/2026).
Dalam studi yang dipublikasikan di Science Communications, para peneliti dari Lamont-Doherty Earth Observatory menilai kondisi tersebut menjadikan Greenland sebagai anomali di tengah krisis iklim global.
Sebab, penurunan permukaan laut di Greenland terjadi kendati pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca memicu pencairan es besar-besaran yang meningkatkan risiko banjir.
Peneliti menjelaskan bahwa mencairnya es saat ini ataupun pada masa lalu berperan dalam mendorong proses naiknya daratan Greenland.
Seiring berkurangnya massa lapisan es, permukaan laut di sekitarnya akan makin turun akibat perubahan gaya gravitasi. Kedua efek ini dinilai menyumbang hingga 30 persen dari penurunan permukaan laut Greenland pada masa depan, yang secara teknis disebut sebagai glacial isostatic adjustment.
Di tengah krisis iklim global, Greenland menjadi anomali. Meski lapisan es mencair, permukaan laut di sekitarnya diprediksi menurun. Mengapa?
Selama ini, kenaikan permukaan laut dikaitkan dengan meningkatnya banjir pesisir dan percepatan erosi garis pantai.
Setiap kenaikan satu sentimeter permukaan laut dapat mengekspos sekitar enam juta orang di seluruh dunia terhadap risiko banjir pesisir. Ketika yang terjadi penurunan permukaan laut, dampaknya tetap signifikan.
Austermann menyampaikan, masyarakat pesisir di Greenland membangun infrastruktur dengan mempertimbangkan ketinggian permukaan laut sehingga penurunannya berpotensi membuat wilayah ini menjadi terlalu tinggi dan kering.
“Dampak terbesar akan dirasakan oleh masyarakat lokal, serta pengaruhnya terhadap jalur pelayaran, perikanan, dan infrastruktur,” beber Austermann.
Baca juga:
Ada kemungkinan bahwa penurunan permukaan dapat membantu menstabilkan beberapa gletser saat memasuki laut yang berpotensi memperlambat laju penyusutannya.
Namun, para peneliti mengaku belum mengetahui apakah penurunan permukaan laut yang diprediksi cukup besar untuk menghasilkan efek stabilisasi tersebut.
Di tengah krisis iklim global, Greenland menjadi anomali. Meski lapisan es mencair, permukaan laut di sekitarnya diprediksi menurun. Mengapa?Dalam studi lainnya, Kubah Prudhoe (prudhoe dome), gumpalan es raksasa seluas 2.500 kilometer persegi atau seukuran negara Luksemburg, di Greenland berpotensi kembali mencair.
Pencairan lapisan es Kubah Prudhoe dapat menaikkan permukaan laut global. Para peneliti mengebor sedalam 500 meter menembus pusat Kubah Prudhoe untuk mengumpulkan inti sedimen dan batuan dasar sepanjang tujuh meter.
Teknik penanggalan menggunakan cahaya inframerah menunjukkan, pasir di permukaan inti sedimen Kubah Prudhoe telah memutih akibat sinar matahari sekitar 7.000 tahun lalu, sekitar awal periode Holosen.
Tidak hanya itu, pencairan tersebut menunjukkan bahwa Kubah Prudhoe lebih sensitif terhadap suhu yang relatif hangat.
Baca juga:
"Hal ini adalah bukti yang sangat langsung bahwa lapisan es sangat sensitif terhadap pemanasan, bahkan dalam jumlah yang relatif kecil yang terjadi pada zaman Holosen, seperti yang kita khawatirkan,” ujar Yarrow Axford dari Northwestern University di Illinois, Amerika Serikat, yang tidak terlibat dalam studi ini, dilansir dari NewScientist.
Sementara itu, profesor yang memimpin studi ini, Jason Briner mengatakan, periode Holosen merupakan masa yang dikenal dengan stabilitas iklim.
Pada periode itu, manusia pertama kali mulai mengembangkan praktik pertanian dan mengambil langkah-langkah menuju peradaban.
"Jika perubahan iklim alami dan moderat pada era tersebut telah melelehkan Kubah Prudhoe dan membuatnya tetap mundur selama ribuan tahun, mungkin hanya masalah waktu sebelum ia mulai meleleh kembali akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia saat ini," ucap Briner.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya