Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Permukaan Laut Greenland Turun Saat Emisi Tinggi, Kok Bisa?

Kompas.com, 29 Januari 2026, 13:41 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Permukaan laut di Greenland diprediksi bakal turun hingga 2,5 meter pada tahun 2100 saat emisi tinggi. Sebaliknya, dalam skenario emisi rendah, penurunan permukaan laut kemungkinan akan mencapai sekitar 0,9 meter, menurut studi terbaru. 

Penulis studi, Jacqueline Austermann mengatakan, fenomena ini dipicu berkurangnya massa lapisan es Greenland akibat gravitasi. Ia mengibaratkannya seperti kasur busa yang mengembang kembali setelah orang di atasnya bangun.

Baca juga: 

“Ketika lapisan es kehilangan massa, tarikan gravitasinya terhadap permukaan laut berkurang, sehingga menyebabkan penurunan permukaan laut," kata Austermann, dilansir dari Euronews, Kamis (29/1/2026).

Permukaan laut Greenland tak ikut naik saat emisi tinggi

Pencairan es mendorong naiknya daratan Greenland

Dalam studi yang dipublikasikan di Science Communications, para peneliti dari Lamont-Doherty Earth Observatory menilai kondisi tersebut menjadikan Greenland sebagai anomali di tengah krisis iklim global.

Sebab, penurunan permukaan laut di Greenland terjadi kendati pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca memicu pencairan es besar-besaran yang meningkatkan risiko banjir.

Peneliti menjelaskan bahwa mencairnya es saat ini ataupun pada masa lalu berperan dalam mendorong proses naiknya daratan Greenland.

Seiring berkurangnya massa lapisan es, permukaan laut di sekitarnya akan makin turun akibat perubahan gaya gravitasi. Kedua efek ini dinilai menyumbang hingga 30 persen dari penurunan permukaan laut Greenland pada masa depan, yang secara teknis disebut sebagai glacial isostatic adjustment.

Di tengah krisis iklim global, Greenland menjadi anomali. Meski lapisan es mencair, permukaan laut di sekitarnya diprediksi menurun. Mengapa?PEXELS/MIKHAIL NILOV Di tengah krisis iklim global, Greenland menjadi anomali. Meski lapisan es mencair, permukaan laut di sekitarnya diprediksi menurun. Mengapa?

Selama ini, kenaikan permukaan laut dikaitkan dengan meningkatnya banjir pesisir dan percepatan erosi garis pantai.

Setiap kenaikan satu sentimeter permukaan laut dapat mengekspos sekitar enam juta orang di seluruh dunia terhadap risiko banjir pesisir. Ketika yang terjadi penurunan permukaan laut, dampaknya tetap signifikan.

Austermann menyampaikan, masyarakat pesisir di Greenland membangun infrastruktur dengan mempertimbangkan ketinggian permukaan laut sehingga penurunannya berpotensi membuat wilayah ini menjadi terlalu tinggi dan kering.

“Dampak terbesar akan dirasakan oleh masyarakat lokal, serta pengaruhnya terhadap jalur pelayaran, perikanan, dan infrastruktur,” beber Austermann.

Baca juga:

Ada kemungkinan bahwa penurunan permukaan dapat membantu menstabilkan beberapa gletser saat memasuki laut yang berpotensi memperlambat laju penyusutannya.

Namun, para peneliti mengaku belum mengetahui apakah penurunan permukaan laut yang diprediksi cukup besar untuk menghasilkan efek stabilisasi tersebut.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Populasi Salmon Chum di Jepang Menurun, Ada Apa?
Populasi Salmon Chum di Jepang Menurun, Ada Apa?
LSM/Figur
4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular
4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular
Pemerintah
Apa Saja Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Asia? Ilmuwan Beri Penjelasan
Apa Saja Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Asia? Ilmuwan Beri Penjelasan
LSM/Figur
Emisi Turun Tipis, Jerman Dinilai Kehilangan Momentum Capai Target Iklim
Emisi Turun Tipis, Jerman Dinilai Kehilangan Momentum Capai Target Iklim
Pemerintah
Bersiap Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Korsel Pastikan Stabilnya Pasokan Energi Alternatif
Bersiap Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Korsel Pastikan Stabilnya Pasokan Energi Alternatif
Pemerintah
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Ganggu Pertumbuhan Tulang Anak
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Ganggu Pertumbuhan Tulang Anak
LSM/Figur
Jepang Mulai Cari Energi Alternatif akibat Krisis Selat Hormuz
Jepang Mulai Cari Energi Alternatif akibat Krisis Selat Hormuz
Pemerintah
Misteri Ratusan Kura-kura Mati Massal di Kanada, akibat Krisis Iklim?
Misteri Ratusan Kura-kura Mati Massal di Kanada, akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Pemerintah Jajaki Pendanaan dari Perdagangan Karbon untuk Biayai Taman Nasional
Pemerintah Jajaki Pendanaan dari Perdagangan Karbon untuk Biayai Taman Nasional
Pemerintah
Saat Berbagi Jadi Harapan, Starlead Ajak Anak Panti Kejar Mimpi
Saat Berbagi Jadi Harapan, Starlead Ajak Anak Panti Kejar Mimpi
Swasta
PGE Area Ulubelu Bangun Jembatan Ulu Semong dari Bonus Produksi Panas Bumi
PGE Area Ulubelu Bangun Jembatan Ulu Semong dari Bonus Produksi Panas Bumi
BUMN
KLH Minta Pemda di Jabodetabek Cegah Polusi Udara Saat Musim Kemarau
KLH Minta Pemda di Jabodetabek Cegah Polusi Udara Saat Musim Kemarau
Pemerintah
Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah, Pemerintah Siapkan Strategi Efisiensi Energi
Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah, Pemerintah Siapkan Strategi Efisiensi Energi
Pemerintah
10 Kota Terpanas di Indonesia pada 17-18 Maret, Ada Jakarta dan Medan
10 Kota Terpanas di Indonesia pada 17-18 Maret, Ada Jakarta dan Medan
Pemerintah
Apa Itu Green Jobs? Intip Potensi dan Skill yang Dibutuhkan
Apa Itu Green Jobs? Intip Potensi dan Skill yang Dibutuhkan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau