Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

1.620 Km Garis Pantai Greenland Tersingkap karena Perubahan Iklim, Lebih Panjang dari Jalur Pantura

Kompas.com, 1 April 2025, 07:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Akibat perubahan iklim, 1.620 kilometer (km) garis pantai di Greenland tersingkap karena mencairnya gletser di sana hanya dalam kurun waktu 20 tahun.

Temuan tersebut mengemuka berdasarkan studi yang dilakukan tim ilmuwan yang terdiri atas ahli ekologi kutub, ahli geografi, dan ilmuwan kelautan.

Sebagai perbandingan, panjang Jalur Pantau Utara Jawa (Jawa) yang melewati lima provinsi di Indonesia adalah 1.316 km sebagaimana dilansir dari pemberitaan Kompas.com.

Baca juga: Krisis Iklim Picu Pencairan Gletser Tercepat, Kekeringan dan Banjir Mengintai

Itu berarti, panjang garis pantai Greenland yang tersingkap karena perubahan iklim lebih panjang dibandingkan Jalur Pantura.

Dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change, tim ilmuwan tersebut menjelaskan bagaimana mereka membandingkan citra satelit belahan bumi utara selama tahun 2000 hingga 2020 untuk melacak gletser yang surut.

Dengan melacak perubahan gletser menggunakan citra satelit belahan bumi utara dari 2000 hingga 2020, tim peneliti menemukan bahwa mereka dapat melacak tersingkapnya garis pantai saat aliran lelehan es ke laut.

Dengan menambahkan sejumlah faktor, mereka menemukan bahwa 2.466 kilometer garis pantai telah tersingkap hanya dalam 20 tahun terakhir.

Baca juga: Diprediksi Hilang Tahun 2100, Gletser Terbesar di Alpen Bisa Diselamatkan asalkan...

Mereka juga menemukan bahwa sekitar 66 persen dari garis pantai yang baru terekspos itu berada di Greenland, sebagaimana dilansir dari Phys.org, Rabu (26/3/2025).

Tim peneliti juga menemukan, gletser yang mencair dan aliran es telah menyingkap 35 pulau dengan luas lebih dari 0,5 kilometer persegi yang selama ini tertutupi es.

Dari jumlah tersebut, 29 di antaranya merupakan bagian dari Greenland.

Baca juga: Massa Gletser Seluruh Dunia Kembali Menyusut Imbas Perubahan Iklim

Mereka juga mencatat bahwa 13 pulau tidak muncul di peta mana pun, yang berarti belum ada negara yang mengklaimnya.

Selama beberapa dekade terakhir, banyak ilmuwan iklim telah menemukan bahwa gletser dunia semakin mengecil karena perubahan iklim akibat aktivitas manusia.

Lebih banyak penelitian telah menunjukkan, Greenland menjadi wilayah yang mengalami kehilangan gletser paling banyak.

Baca juga: Permukaan Air Laut Naik 2 Cm Hanya dari Pencairan Gletser

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau