Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hutan Hujan Amazon Terancam Mengering akibat Deforestasi

Kompas.com, 29 Januari 2026, 20:06 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Deforestasi memberikan dampak yang lebih merusak terhadap hutan hujan Amazon, Amerika Selatan, daripada yang ditunjukkan oleh data-data sebelumnya.

Penebangan pohon dalam skala besar tidak hanya menghancurkan habitat yang vital, tapi juga merusak kemampuan wilayah hutan hujan Amazon untuk menghasilkan hujannya sendiri.

Baca juga:

Menurut studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Nature, hutan hujan Amazon dapat mencapai titik kritis dan mengalami kematian hutan besar-besaran di mana area luas hutan hujan mengering dan berubah menjadi sabana lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Hutan hujan Amazon adalah salah satu tempat terbasah di planet ini, dan sebagian alasannya karena wilayah ini bisa menciptakan hujan sendiri, dikutip dari Phys.org, Kamis (29/1/2026).

Setiap pohon di hutan hujan bertindak seperti "sedotan raksasa", dengan menarik air dari tanah dan melepaskannya ke udara melalui dedaunannya.

Kelembapan ini akhirnya membentuk awan, yang kemudian mencurahkan hujan kembali ke hutan.

Masalah terjadi ketika pohon-pohon dihilangkan, siklus alami ini terputus. Udara kehilangan sumber kelembapannya sehingga pembentukan awan berkurang dan, akibatnya, hujan pun menjadi jauh lebih sedikit.

Baca juga:

Hutan hujan Amazon yang makin kering

Wilayah selatan mengalami kekeringan yang lebih parah dibanding utara

Deforestasi memberikan dampak yang lebih merusak terhadap hutan hujan Amazon, Amerika Selatan, daripada yang ditunjukkan oleh data-data sebelumnya.PIXABAY/ HunterProducciones Deforestasi memberikan dampak yang lebih merusak terhadap hutan hujan Amazon, Amerika Selatan, daripada yang ditunjukkan oleh data-data sebelumnya.

Kekeringan yang dialami hutan hujan Amazon disebut sudah lama diketahui, tapi para peneliti ingin mengetahui apakah deforestasi yang disebabkan manusia adalah pendorong utamanya, bukan perubahan iklim secara umum.

Untuk menemukan jawabannya, mereka menggabungkan data satelit selama 40 tahun tentang curah hujan dan tutupan hutan dengan model atmosfer canggih yang melacak pergerakan kelembapan di udara.

Hasilnya mengungkapkan perbedaan mencolok antara Amazon utara dan selatan.

Jika wilayah Amazon bagian utara umumnya mengalami peningkatan curah hujan, Amazon bagian selatan, tempat sebagian besar penebangan terjadi, mengalami penurunan curah hujan tahunan sebesar dari delapan persen hingga 11 persen.

Menurut peneliti, antara 52 persen hingga 72 persen dari kekeringan secara langsung terkait dengan deforestasi.

Temuan ini membuktikan bahwa hilangnya pohon adalah penyebab utama penurunan curah hujan.

Baca juga: Hutan Afrika Tak Lagi Jadi Penyangga Iklim, Ini Alasannya

Deforestasi memberikan dampak yang lebih merusak terhadap hutan hujan Amazon, Amerika Selatan, daripada yang ditunjukkan oleh data-data sebelumnya.AP PHOTO/EDMAR BARROS Deforestasi memberikan dampak yang lebih merusak terhadap hutan hujan Amazon, Amerika Selatan, daripada yang ditunjukkan oleh data-data sebelumnya.

"Analisis berbasis data kami mengaitkan penurunan curah hujan yang nyata baru-baru ini dengan hilangnya tutupan hutan skala besar. Oleh karena itu kami sangat mendukung studi pemodelan sebelumnya tentang kematian hutan Amazon yang disebabkan oleh deforestasi," tulis peneliti dalam makalahnya.

Penemuan ini menggambarkan gambaran yang berbahaya. Tim peneliti menemukan bahwa model iklim standar telah meremehkan dampak deforestasi terhadap curah hujan hingga 50 persen.

Para peneliti menekankan bahwa karena curah hujan dipengaruhi oleh pepohonan, solusinya terletak pada perlindungan pepohonan tersebut.

"Memperlambat deforestasi yang dikombinasikan dengan reboisasi yang luas dapat mengimbangi risiko kematian massal hutan Amazon yang disebabkan oleh perubahan iklim, atau setidaknya meningkatkan ambang batas pemanasan global yang dapat memicu kerusakan permanen pada hutan," tulis para peneliti lagi.

Baca juga: Hutan Hujan Amazon Alami Kebakaran, Kekeringan, hingga Deforestasi

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Studi Ungkap 28 Kebijakan Iklim Efektif Kurangi Emisi, Mana yang Terbaik?
Studi Ungkap 28 Kebijakan Iklim Efektif Kurangi Emisi, Mana yang Terbaik?
LSM/Figur
Banyak Negara Gagal Penuhi Target Pengurangan Risiko Pestisida PBB
Banyak Negara Gagal Penuhi Target Pengurangan Risiko Pestisida PBB
LSM/Figur
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
LSM/Figur
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
Swasta
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
LSM/Figur
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
LSM/Figur
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
Swasta
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
Pemerintah
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Pemerintah
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Pemerintah
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
Swasta
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Swasta
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
LSM/Figur
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
LSM/Figur
THR Tak Bikin Daya Beli Masyarakat Naik, Ahli Jelaskan Penyebabnya
THR Tak Bikin Daya Beli Masyarakat Naik, Ahli Jelaskan Penyebabnya
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau