KOMPAS.com - Deforestasi memberikan dampak yang lebih merusak terhadap hutan hujan Amazon, Amerika Selatan, daripada yang ditunjukkan oleh data-data sebelumnya.
Penebangan pohon dalam skala besar tidak hanya menghancurkan habitat yang vital, tapi juga merusak kemampuan wilayah hutan hujan Amazon untuk menghasilkan hujannya sendiri.
Baca juga:
Menurut studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Nature, hutan hujan Amazon dapat mencapai titik kritis dan mengalami kematian hutan besar-besaran di mana area luas hutan hujan mengering dan berubah menjadi sabana lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.
Hutan hujan Amazon adalah salah satu tempat terbasah di planet ini, dan sebagian alasannya karena wilayah ini bisa menciptakan hujan sendiri, dikutip dari Phys.org, Kamis (29/1/2026).
Setiap pohon di hutan hujan bertindak seperti "sedotan raksasa", dengan menarik air dari tanah dan melepaskannya ke udara melalui dedaunannya.
Kelembapan ini akhirnya membentuk awan, yang kemudian mencurahkan hujan kembali ke hutan.
Masalah terjadi ketika pohon-pohon dihilangkan, siklus alami ini terputus. Udara kehilangan sumber kelembapannya sehingga pembentukan awan berkurang dan, akibatnya, hujan pun menjadi jauh lebih sedikit.
Baca juga:
Deforestasi memberikan dampak yang lebih merusak terhadap hutan hujan Amazon, Amerika Selatan, daripada yang ditunjukkan oleh data-data sebelumnya.Kekeringan yang dialami hutan hujan Amazon disebut sudah lama diketahui, tapi para peneliti ingin mengetahui apakah deforestasi yang disebabkan manusia adalah pendorong utamanya, bukan perubahan iklim secara umum.
Untuk menemukan jawabannya, mereka menggabungkan data satelit selama 40 tahun tentang curah hujan dan tutupan hutan dengan model atmosfer canggih yang melacak pergerakan kelembapan di udara.
Hasilnya mengungkapkan perbedaan mencolok antara Amazon utara dan selatan.
Jika wilayah Amazon bagian utara umumnya mengalami peningkatan curah hujan, Amazon bagian selatan, tempat sebagian besar penebangan terjadi, mengalami penurunan curah hujan tahunan sebesar dari delapan persen hingga 11 persen.
Menurut peneliti, antara 52 persen hingga 72 persen dari kekeringan secara langsung terkait dengan deforestasi.
Temuan ini membuktikan bahwa hilangnya pohon adalah penyebab utama penurunan curah hujan.
Baca juga: Hutan Afrika Tak Lagi Jadi Penyangga Iklim, Ini Alasannya
Deforestasi memberikan dampak yang lebih merusak terhadap hutan hujan Amazon, Amerika Selatan, daripada yang ditunjukkan oleh data-data sebelumnya."Analisis berbasis data kami mengaitkan penurunan curah hujan yang nyata baru-baru ini dengan hilangnya tutupan hutan skala besar. Oleh karena itu kami sangat mendukung studi pemodelan sebelumnya tentang kematian hutan Amazon yang disebabkan oleh deforestasi," tulis peneliti dalam makalahnya.
Penemuan ini menggambarkan gambaran yang berbahaya. Tim peneliti menemukan bahwa model iklim standar telah meremehkan dampak deforestasi terhadap curah hujan hingga 50 persen.
Para peneliti menekankan bahwa karena curah hujan dipengaruhi oleh pepohonan, solusinya terletak pada perlindungan pepohonan tersebut.
"Memperlambat deforestasi yang dikombinasikan dengan reboisasi yang luas dapat mengimbangi risiko kematian massal hutan Amazon yang disebabkan oleh perubahan iklim, atau setidaknya meningkatkan ambang batas pemanasan global yang dapat memicu kerusakan permanen pada hutan," tulis para peneliti lagi.
Baca juga: Hutan Hujan Amazon Alami Kebakaran, Kekeringan, hingga Deforestasi
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya