KOMPAS.com - Menggunakan plastik biodegradable, atau plastik yang bisa terurai secara hayati, disebut bisa mengurangi polusi hingga lebih dari sepertiga. Tindakan tersebut juga disebut bisa mengurangi limbah global secara drastis pada pertengahan abad ini.
"Plastik biodegradable dapat mengurangi penumpukan sampah plastik sebesar 27 persen dibandingkan dengan skenario business as usual (seperti biasa) pada tahun 2050, dengan pengurangan hingga 65 persen jika dikombinasikan dengan daur ulang dan pembakaran sampah plastik konvensional," tulis studi dari Yale School of Environment di Amerika Serikat, dilansir dari Nature, Jumat (30/1/2026).
Baca juga:
Namun, studi tersebut melanjutkan, pengurangan tersebut hanya bisa tercapai apabila pemerintah dan swasta berinvestasi pada sistem pembuangan yang tepat.
Tanpa fasilitas pengomposan yang memadai, plastik biodegradable justru bikin emisi gas rumah kaca berlipat ganda.
Penelitian yang diterbitkan dalam Nature Reviews Clean Technology ini disebut yang pertama memproyeksikan dampak lingkungan dari plastik biodegradable melalui seluruh siklus hidupnya pada skala global.
Siklus tersebut mulai dari pengadaan bahan baku hingga semua kemungkinan akhir masa pakainya, termasuk jika berakhir sebagai mikroplastik di lingkungan.
Baca juga:
Plastik biodegradable bisa mengurangi polusi, tapi juga berisiko menggandakan emisi gas rumah kaca jika salah dikelola, menurut studi.Temuan studi ini menunjukkan bahwa mengganti sebanyak mungkin plastik konvensional dengan alternatif biodegradable dapat mengurangi ekotoksisitas hingga 34 persen pada tahun 2050.
Hal ini juga akan mengurangi akumulasi limbah global hingga 65 persen jika dikombinasikan dengan pengelolaan limbah yang ideal untuk plastik konvensional, dilansir dari Phys.org.
Akan tetapi, untuk mencapai manfaat tersebut, diperlukan pengelolaan material yang tepat pada akhir masa pakainya dengan metode seperti pengomposan industri dan pencernaan anaerobik.
Jika plastik biodegradable yang dapat terurai secara hayati ini berakhir di tempat pembuangan sampah, hal itu justru dapat menggandakan emisi gas rumah kaca.
Kendati demikian, pemanfaatan plastik biodegradable juga menyimpan tantangan tersendiri. Di satu sisi itu mengurangi polusi sampah plastik, tapi di sisi lain memberikan tekanan besar pada sumber daya air dunia.
Sebagai catatan, plastik biodegradable ini berasal tanaman seperti jagung, tebu, singkong yang membutuhkan lahan luas serta irigasi air yang masif untuk tumbuh.
Baca juga:
Plastik biodegradable bisa mengurangi polusi, tapi juga berisiko menggandakan emisi gas rumah kaca jika salah dikelola, menurut studi.
Yuan Yao, profesor madya ekologi industri dan sistem berkelanjutan serta penulis senior studi ini mengungkapkan, plastik yang dapat terurai secara hayati jelas dapat membantu mengatasi akumulasi limbah plastik dan ekotoksisitas.
Namun, manfaatnya mungkin tidak akan bertahan jika pengelolaan akhir masa pakainya tidak dilakukan dengan benar.
"Kita perlu memiliki lebih banyak infrastruktur untuk pengolahan plastik yang dapat terurai secara hayati yang tepat, dan kita perlu memiliki pendidikan yang baik tentang cara menggunakannya," kata Yao.
Peneliti juga menyoroti perlunya memaksimalkan manfaat dari pasar plastik biodegradable yang terus tumbuh, termasuk penelitian lebih lanjut mengenai bahan baku yang hemat air dan investasi pada perluasan infrastruktur pengelolaan limbah.
Hal itu dimulai dari alat pencerna anaerobik untuk plastik biodegradable hingga fasilitas untuk mendaur ulang dan mengolah plastik konvensional.
Mereka menunjukkan pula perlunya skema pelabelan yang terstandarisasi untuk menghindari kebingungan konsumen serta memastikan plastik dipisahkan dan dibuang dengan benar.
Para penulis juga menekankan bahwa plastik yang dapat terurai secara hayati hanyalah sebagian dari solusi.
"Plastik konvensional akan tetap mendominasi pasar plastik masa depan, dan jika kita tidak mengatasi plastik konvensional, kita tidak dapat secara efektif mengurangi penumpukan sampah," tutur rekan penulis, Zhengyin Piao.
"Tetapi jika kita mempertimbangkan strategi gabungan, meminimalkan pembuangan plastik konvensional ke tempat pembuangan sampah dan meningkatkan penggunaan plastik yang dapat terurai secara hayati pada saat yang sama, kita dapat meratakan tren penumpukan sampah di masa depan," tambah dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya