Sebelumnya, dosen Fakultas Peternakan UGM, Dimas Hand Vidya Paradhipta mengatakan, bungkil atau limbah padat hasil pengepresan buah nyamplung dalam industri biofuel dapat diolah menjadi pakan yang bisa mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) metana (CH4) sektor peternakan.
Dimas menambahkan, pengembangan pakan dari olahan bungkil nyamplung yang natural tanpa aditif dapat menurunkan emisi gas metana pada sektor peternakan.
Ketika dibandingkan dengan pakan alternatif lain dari bungkil kelapa sawit, kopra, daun lamtoro, dan malapari, nyamplung menghasilkan emisi gas metana terendah.
Berdasarkan hasil uji in vivo pada domba, pakan dari olahan bungkil nyamplung dapat meningkatkan persentase karkas dan lemak marbling pada daging.
Pakan dari olahan bungkil nyamplung juga meningkatkan kandungan asam lemak tak jenuh dalam daging, yang dapat meningkatkan kualitas dan potensi manfaat kesehatan daging.
"Ini mampu menurunkan emisi gas metana karena mereka bisa memodifikasi fermentasi yang ada di dalam ruminansia. Nah, inilah yang menyebabkan kita kok kayak prospek ini untuk kemudian dikembangkan menjadi salah satu pakan alternatif," tutur Dimas.
Baca juga: Cinema XXI Olah Minyak Jelantah Jadi Biofuel
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya