KOMPAS.com - Nyamplung (Calophyllum inophyllum) punya banyak potensi. Buah nyamplung bisa menghasilkan minyak yang bisa diolah jadi biofuel atau bahan bakar nabati, seperti avtur. Limbah industri biofuel pun masih bernilai dan bisa dijadikan pelet.
Adapun tanaman nyamplung tumbuh di pesisir pantai, lahan marginal, serta pekarangan rumah bersama tanaman lain. Tanaman ini bisa berbuah banyak dan hampir sepanjang tahun, tanpa perawatan.
Baca juga:
"Betul-betul zero waste yang kami harapkan. Maka, konsepnya sekarang dan ke depan sebaiknya dalam pengembangannya itu industri terpadu. Jadi, akan ada multi-produk," kata Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Gentur Sutapa dalam webinar Pemanfaatan Limbah Industri Biofuel Nyamplung Menuju Hilirisasi, Rabu (28/1/2026).
Dari total buah nyamplung, hanya 40 persen saja yang dimanfaatkan sebagai bahan baku biofuel dan sisanya perlu dikelola menjadi produk lain.
Pengembangan industri pengelolaan nyamplung secara terpadu bisa menghemat pengangkutan.
Negara-negara tropis, seperti Indonesia, berpotensi mengembangkan industri pelet secara terpadu, mengingat ketersediaan bahan baku yang sangat melimpah, termasuk cangkang nyamplung.
Apalagi, pelet dapat diimpor ke luar negeri, terutama Eropa yang permintaannya tinggi setiap tahunnya.
Baca juga:
Ilustrasi Calophyllum inophyllum. Tanaman nyamplung punya potensi besar. Dari biofuel, pelet, kosmetik, hingga pakan ternak rendah emisi, semuanya bisa dimanfaatkan.Hasil rendemen minyak nyamplung berada di atas 40 persen, yang secara tradisional digunakan untuk gangguan kulit, seperti luka terbakar, dermatosis, eksim, kulit kering, dan analgesik.
Dari aspek aktivitas farmakologi, dosen Fakultas Farmasi UGM, Soni Siswanto menyebut, minyak nyamplung dapat dimanfaatkan sebagai perawatan kulit (skincare), antara lain penyembuhan luka, regenerasi kulit, anti-inflamasi, anti-mikroba, anti-jamur, anti-oksidan, serta tabir surya.
Tingginya rendemen minyak nyamplung menjadikannya kandidat menjanjikan untuk biofuel. Untuk menjadi biofuel, minyak nyamplung harus melewati proses degumming, serta esterifikasi dan transesterifikasi.
Dalam proses yang relatif cepat dan ekonomis tersebut, sebagian senyawa aktif yang bermanfaat untuk farmakologi ikut terbuang.
Untuk memaksimalkan potensi tersebut, perlu dilakukan pemisahan resin melalui penggunaan alkohol, seperti metanol dan etanol, sebelum proses degumming.
Resin kerap dianggap sebagai limbah lantaran mengandung 10-30 persen impuritas, dengan nilai asam (AV) sekitar 62,1 mg KOH/g dan visositas hingga 181 mPa-s.
Dengan tingginya kandungan trigliserida, pengelolaan resin menjadi tidak ekonomis sehingga dibuang tanpa memanfaatkan potensi bioaktif yang terkandung di dalamnya. Padahal, sebenarnya masih memiliki rantai nilai untuk aplikasi kosmetik dan filoterapi.
Proses pemisahan minyak nyamplung menghasilkan nilai ganda, dengan trigliserida digunakan sebagai biofuel dan resin untuk bahan baku sektor kesehatan.
Pemanfatan limbah industri biofuel nyamplung sebagai bioaktif, mampu mengurangi dampak lingkungan sekaligus mendukung ekonomi sirkular.
Selain itu, pengembangan produk baru dari resin limbah industri biofuel bisa meningkatkan efisiensi dan memenuhi kebutuhan pasar kesehatan.
"(Itu) bagaimana cara memanfaatkan resin (dari) minyak nyamplung (tanpa harus) berebut sumber daya dengan kebutuhan untuk biofuel," ucapnya.
Baca juga: Apa Itu Biofuel dan Benarkah Ramah Lingkungan?
Tanaman nyamplung punya potensi besar. Dari biofuel, pelet, kosmetik, hingga pakan ternak rendah emisi, semuanya bisa dimanfaatkan.Sebelumnya, dosen Fakultas Peternakan UGM, Dimas Hand Vidya Paradhipta mengatakan, bungkil atau limbah padat hasil pengepresan buah nyamplung dalam industri biofuel dapat diolah menjadi pakan yang bisa mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) metana (CH4) sektor peternakan.
Dimas menambahkan, pengembangan pakan dari olahan bungkil nyamplung yang natural tanpa aditif dapat menurunkan emisi gas metana pada sektor peternakan.
Ketika dibandingkan dengan pakan alternatif lain dari bungkil kelapa sawit, kopra, daun lamtoro, dan malapari, nyamplung menghasilkan emisi gas metana terendah.
Berdasarkan hasil uji in vivo pada domba, pakan dari olahan bungkil nyamplung dapat meningkatkan persentase karkas dan lemak marbling pada daging.
Pakan dari olahan bungkil nyamplung juga meningkatkan kandungan asam lemak tak jenuh dalam daging, yang dapat meningkatkan kualitas dan potensi manfaat kesehatan daging.
"Ini mampu menurunkan emisi gas metana karena mereka bisa memodifikasi fermentasi yang ada di dalam ruminansia. Nah, inilah yang menyebabkan kita kok kayak prospek ini untuk kemudian dikembangkan menjadi salah satu pakan alternatif," tutur Dimas.
Baca juga: Cinema XXI Olah Minyak Jelantah Jadi Biofuel
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya