Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Manfaat Nyamplung, dari Biofuel hingga Skincare

Kompas.com, 2 Februari 2026, 13:23 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Nyamplung (Calophyllum inophyllum) punya banyak potensi. Buah nyamplung bisa menghasilkan minyak yang bisa diolah jadi biofuel atau bahan bakar nabati, seperti avtur. Limbah industri biofuel pun masih bernilai dan bisa dijadikan pelet. 

Adapun tanaman nyamplung tumbuh di pesisir pantai, lahan marginal, serta pekarangan rumah bersama tanaman lain. Tanaman ini bisa berbuah banyak dan hampir sepanjang tahun, tanpa perawatan. 

Baca juga:

"Betul-betul zero waste yang kami harapkan. Maka, konsepnya sekarang dan ke depan sebaiknya dalam pengembangannya itu industri terpadu. Jadi, akan ada multi-produk," kata Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Gentur Sutapa dalam webinar Pemanfaatan Limbah Industri Biofuel Nyamplung Menuju Hilirisasi, Rabu (28/1/2026).

Dari total buah nyamplung, hanya 40 persen saja yang dimanfaatkan sebagai bahan baku biofuel dan sisanya perlu dikelola menjadi produk lain.

Pengembangan industri pengelolaan nyamplung secara terpadu bisa menghemat pengangkutan.

Negara-negara tropis, seperti Indonesia, berpotensi mengembangkan industri pelet secara terpadu, mengingat ketersediaan bahan baku yang sangat melimpah, termasuk cangkang nyamplung.

Apalagi, pelet dapat diimpor ke luar negeri, terutama Eropa yang permintaannya tinggi setiap tahunnya.

Baca juga:

Manfaat nyamplung, biofuel hingga skincare

Mampu mengurangi dampak lingkungan dan mendukung ekonomi sirkular

Ilustrasi Calophyllum inophyllum. Tanaman nyamplung punya potensi besar. Dari biofuel, pelet, kosmetik, hingga pakan ternak rendah emisi, semuanya bisa dimanfaatkan.Dok. Wikimedia Commons/Shagil Kannur Ilustrasi Calophyllum inophyllum. Tanaman nyamplung punya potensi besar. Dari biofuel, pelet, kosmetik, hingga pakan ternak rendah emisi, semuanya bisa dimanfaatkan.

Hasil rendemen minyak nyamplung berada di atas 40 persen, yang secara tradisional digunakan untuk gangguan kulit, seperti luka terbakar, dermatosis, eksim, kulit kering, dan analgesik.

Dari aspek aktivitas farmakologi, dosen Fakultas Farmasi UGM, Soni Siswanto menyebut, minyak nyamplung dapat dimanfaatkan sebagai perawatan kulit (skincare), antara lain penyembuhan luka, regenerasi kulit, anti-inflamasi, anti-mikroba, anti-jamur, anti-oksidan, serta tabir surya.

Tingginya rendemen minyak nyamplung menjadikannya kandidat menjanjikan untuk biofuel. Untuk menjadi biofuel, minyak nyamplung harus melewati proses degumming, serta esterifikasi dan transesterifikasi.

Dalam proses yang relatif cepat dan ekonomis tersebut, sebagian senyawa aktif yang bermanfaat untuk farmakologi ikut terbuang.

Untuk memaksimalkan potensi tersebut, perlu dilakukan pemisahan resin melalui penggunaan alkohol, seperti metanol dan etanol, sebelum proses degumming.

Resin kerap dianggap sebagai limbah lantaran mengandung 10-30 persen impuritas, dengan nilai asam (AV) sekitar 62,1 mg KOH/g dan visositas hingga 181 mPa-s.

Dengan tingginya kandungan trigliserida, pengelolaan resin menjadi tidak ekonomis sehingga dibuang tanpa memanfaatkan potensi bioaktif yang terkandung di dalamnya. Padahal, sebenarnya masih memiliki rantai nilai untuk aplikasi kosmetik dan filoterapi.

Proses pemisahan minyak nyamplung menghasilkan nilai ganda, dengan trigliserida digunakan sebagai biofuel dan resin untuk bahan baku sektor kesehatan.

Pemanfatan limbah industri biofuel nyamplung sebagai bioaktif, mampu mengurangi dampak lingkungan sekaligus mendukung ekonomi sirkular.

Selain itu, pengembangan produk baru dari resin limbah industri biofuel bisa meningkatkan efisiensi dan memenuhi kebutuhan pasar kesehatan.

"(Itu) bagaimana cara memanfaatkan resin (dari) minyak nyamplung (tanpa harus) berebut sumber daya dengan kebutuhan untuk biofuel," ucapnya.

Baca juga: Apa Itu Biofuel dan Benarkah Ramah Lingkungan?

Pakan ternak

Tanaman nyamplung punya potensi besar. Dari biofuel, pelet, kosmetik, hingga pakan ternak rendah emisi, semuanya bisa dimanfaatkan.Unsplash/Tanner Yould Tanaman nyamplung punya potensi besar. Dari biofuel, pelet, kosmetik, hingga pakan ternak rendah emisi, semuanya bisa dimanfaatkan.

Sebelumnya, dosen Fakultas Peternakan UGM, Dimas Hand Vidya Paradhipta mengatakan, bungkil atau limbah padat hasil pengepresan buah nyamplung dalam industri biofuel dapat diolah menjadi pakan yang bisa mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) metana (CH4) sektor peternakan.

Dimas menambahkan, pengembangan pakan dari olahan bungkil nyamplung yang natural tanpa aditif dapat menurunkan emisi gas metana pada sektor peternakan.

Ketika dibandingkan dengan pakan alternatif lain dari bungkil kelapa sawit, kopra, daun lamtoro, dan malapari, nyamplung menghasilkan emisi gas metana terendah.

Berdasarkan hasil uji in vivo pada domba, pakan dari olahan bungkil nyamplung dapat meningkatkan persentase karkas dan lemak marbling pada daging.

Pakan dari olahan bungkil nyamplung juga meningkatkan kandungan asam lemak tak jenuh dalam daging, yang dapat meningkatkan kualitas dan potensi manfaat kesehatan daging.

"Ini mampu menurunkan emisi gas metana karena mereka bisa memodifikasi fermentasi yang ada di dalam ruminansia. Nah, inilah yang menyebabkan kita kok kayak prospek ini untuk kemudian dikembangkan menjadi salah satu pakan alternatif," tutur Dimas.

Baca juga: Cinema XXI Olah Minyak Jelantah Jadi Biofuel

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau