KOMPAS.com-Hampir 23 juta kematian tambahan diperkirakan akan terjadi pada tahun 2030 sebagai akibat dari pemangkasan secara drastis bantuan luar negeri dari negara-negara seperti AS dan Inggris, menurut sebuah laporan baru.
Studi dari Institut Kesehatan Global Barcelona (ISGlobal) dan diterbitkan dalam jurnal kesehatan berpengaruh The Lancet ini, menemukan bahwa pemotongan program bantuan di 93 negara, termasuk 38 di Afrika Sub-Sahara akan mengakibatkan 22,6 juta kematian tambahan pada tahun 2030.
Angka tersebut termasuk sekitar 5,4 juta anak di bawah usia 5 tahun. Temuan ini pun disebut sebagai bencana kemanusiaan.
“Temuan ini menyuarakan jeritan jutaan orang yang rentan dan menunjukkan besarnya pengorbanan moral akibat sikap egois yang diambil banyak pemimpin politik saat ini,” kata Dr. Rajiv J. Shah, presiden Rockefeller Foundation, lembaga yang membantu mendanai laporan tersebut.
“Meskipun akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menilai secara memadai dampak penuh dari pemotongan bantuan, proyeksi awal ini merupakan seruan mendesak untuk bertindak,” tambah Dr. Shah.
Baca juga: WHO: Pemangkasan Dana Mulai Terasa, Sistem Kesehatan Dunia di Ujung Tanduk
Bencana kemanusiaan
Melansir Independent, Senin (2/2/2026) laporan ISGlobal meneliti dampak pemotongan bantuan di 93 negara, terdiri dari 38 di Afrika Sub-Sahara, 21 di Asia, 12 di Amerika Latin, 12 di Timur Tengah dan Afrika Utara, dan 10 di Eropa.
Penelitian ini didasarkan pada analisis data pembangunan selama 20 tahun dari negara-negara tersebut, yang merupakan rumah bagi sekitar 6,3 miliar orang.
Metodologi yang digunakan juga mengungkapkan bahwa selama periode 2002-2021, bantuan luar negeri membantu mengurangi angka kematian anak sebesar 39 persen, mengurangi kematian akibat HIV/AIDS sebesar 70 persen, dan mengurangi 56 persen kematian akibat malaria dan kekurangan gizi.
Lisa Wise, direktur di Save the Children, salah satu organisasi non-pemerintah (LSM) yang terdampak oleh pemotongan bantuan ini menambahkan bahwa analisis membuktikan pemotongan bantuan bukan sekadar keputusan soal angka anggaran, tapi itu adalah hukuman mati bagi anak-anak.
“Pemotongan bantuan sudah memaksa kita untuk menutup klinik kesehatan dan program nutrisi, mengakhiri perlindungan bagi anak perempuan dari kekerasan, dan menghentikan proyek iklim pada saat anak-anak membutuhkannya lebih dari sebelumnya,” katanya.
Ia pun menambahkan sistem bantuan perlu diperbarui seiring dengan perkembangan tantangan global, tetapi transisi ke cara kerja baru harus dikelola dengan benar bukan dengan melakukan pemotongan besar-besaran tanpa mempertimbangkan anak-anak yang bergantung pada program bantuan.
Pemotongan bantuan global
Bantuan internasional turun untuk pertama kalinya dalam enam tahun pada tahun 2024. AS, Inggris, Prancis, dan Jerman semuanya melakukan pemotongan signifikan pada anggaran bantuan mereka, pengurangan bantuan lebih lanjut yang signifikan diperkirakan akan terjadi pada tahun 2025 dan 2026.
Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) yang berbasis di Paris, Lembaga yang melacak aliran bantuan dari negara-negara terkaya di dunia memperkirakan bahwa bantuan dapat menurun hingga 18 persen antara tahun 2024 hingga 2025.
Yang sangat merusak upaya bantuan pada tahun 2025 adalah penutupan USAID oleh Trump, yang secara kacau menghentikan pendanaan untuk banyak proyek di tengah jalan, menghancurkan program ketahanan iklim dan sistem perawatan kesehatan di banyak negara berkembang.
Baca juga: Studi: Negara-negara Kaya Kompak Pangkas Bantuan untuk Negara Miskin
Penelitian sebelumnya dari ISGlobal menggunakan metodologi yang sama menemukan bahwa pembubaran USAID saja dapat menyebabkan lebih dari 14 juta kematian tambahan yang dapat dicegah pada tahun 2030.
Sementara itu, Inggris memangkas anggaran bantuannya dari 0,5 menjadi 0,3 persen dari Pendapatan Nasional Bruto mulai tahun 2027.
Dampak pemotongan anggaran ini sudah terlihat di seluruh dunia. Misalnya saja yang diungkapkan oleh Magnus Corfixen, pemimpin kemanusiaan untuk Oxfam GB.
“Setiap aspek kehidupan masyarakat terpengaruh. Makanan, air bersih, dan perawatan kesehatan bukanlah pilihan atau kemewahan. Itu adalah hak asasi manusia mendasar dan fondasi kehidupan yang bermartabat,” katanya.
Dampak pemotongan bantuan juga berdampak bagi masyarakat dalam merespons krisis iklim. Ketika bantuan dipotong, masyarakat tidak hanya kehilangan dana, mereka juga kehilangan alat-alat ang membantu mereka beradaptasi dengan krisis iklim.
"Setiap pengurangan dukungan mengancam mata pencaharian masyarakat, dan meningkatkan risiko terhadap kehidupan orang-orang yang menghadapi kenaikan suhu, banjir, dan kekeringan," tambah Corfixen.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya