Fenomena meluasnya predator darat ke wilayah pesisir bukan hanya terjadi di Patagonia. Di berbagai belahan dunia, koloni burung laut menghadapi ancaman serupa.
Di Amerika Serikat, misalnya, babi hutan liar non-pribumi menjadi predator utama telur penyu tempayan di pantai Georgia, sementara coyote di Amerika Utara bagian timur semakin sering menghuni pulau-pulau pesisir dan mengubah keseimbangan ekosistem.
Para peneliti merekomendasikan pemantauan jangka panjang terhadap populasi penguin dan puma di Taman Nasional Monte León untuk mendeteksi lebih dini potensi penurunan populasi.
Pemantauan ini diharapkan dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi di tengah dinamika pemulihan ekosistem.
Puma mulai kembali ke sebagian wilayah jelajah historisnya di Argentina selatan sejak aktivitas peternakan sapi berakhir pada 1990-an.
Di saat yang sama, penguin Magellan yang sebelumnya bersarang di pulau-pulau lepas pantai mulai berpindah ke daratan utama ketika predator darat menghilang.
Baca juga: Konflik Sengit Penguin Afrika Berburu di Lokasi yang Sama dengan Kapal Ikan
Namun, kembalinya puma menciptakan dilema konservasi. Penguin, yang tidak memiliki mekanisme pertahanan kuat terhadap predator darat, menjadi mangsa yang rentan.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar dalam konservasi: apakah perlindungan satu spesies ikonik dapat dibenarkan jika berpotensi mengancam spesies lain, terutama di ekosistem yang sedang pulih dari tekanan aktivitas manusia di masa lalu.
Kasus di Patagonia menunjukkan bahwa pemulihan predator puncak, meski penting bagi keseimbangan ekosistem, dapat membawa konsekuensi tak terduga bagi spesies mangsa yang lebih rentan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya