Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kepedulian Lingkungan Turun saat Seseorang Berlibur, Mengapa?

Kompas.com, 9 Februari 2026, 20:46 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Penelitian dari University of Queensland (UQ) menemukan bahwa wisatawan cenderung lebih banyak memboroskan sumber daya dan meninggalkan kebiasaan ramah lingkungan saat bepergian.

Mengapa bisa begitu?

Melansir Eco Business, Senin (9/2/2026) studi yang diterbitkan dalam jurnal Tourism Management ini menemukan nilai atau prinsip hidup seseorang tidak akan serta merta berubah saat berlibur.

Namun, perjalanan mengaktifkan apa yang disebut peneliti sebagai 'identitas tempat liburan'.

Itu adalah sebuah kondisi psikologis yang membuat individu merasa lebih bebas, kurang bertanggung jawab dan cenderung kurang berperilaku berkelanjutan dibandingkan dengan kehidupan sehari-hari mereka karena lebih sering merasa hanya 'menumpang lewat'.

Temuan ini membantu menjelaskan mengapa para wisatawan yang sebenarnya berniat baik sering kali mengonsumsi lebih banyak, membuang lebih banyak sampah, dan melakukan lebih sedikit upaya pelestarian saat berlibur, meskipun kesadaran mereka terhadap jejak lingkungan dari pariwisata terus meningkat.

Baca juga: Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat

Kandidat PhD Dorine von Briel dari Sekolah Bisnis UQ mengatakan penelitian ini mengidentifikasi pergeseran identitas sementara yang terjadi ketika orang bepergian, atau bahkan ketika mereka secara mental menempatkan diri mereka dalam suasana liburan.

“Kami telah memperkenalkan ‘identitas tempat liburan’ sebagai keadaan psikologis yang berbeda dan terukur yang muncul saat bepergian,” kata von Briel.

“Ini berbeda dengan ‘identitas tempat tinggal’, yang berakar pada rutinitas, tanggung jawab, dan hubungan emosional jangka panjang,” tambahnya.

Kekhawatiran terhadap industri pariwisata

Dalam studinya tim peneliti melakukan tiga studi terpisah dan menemukan bahwa peserta secara konsisten menilai diri mereka kurang bertanggung jawab terhadap lingkungan ketika membayangkan atau mengalami liburan dibandingkan ketika mereka berada di rumah.

Dr. Anna Zinn, salah satu penulis studi tersebut, mengatakan peralihan identitas adalah hal yang umum tetapi ini adalah penelitian pertama yang mengidentifikasi identitas liburan spesifik dan memeriksa implikasi lingkungannya.

Temuan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang dampak iklim pariwisata. Penelitian UQ sebelumnya telah menunjukkan bahwa pariwisata menyumbang hampir 9 persen emisi karbon global, namun upaya untuk mendorong perilaku yang lebih berkelanjutan di kalangan wisatawan hanya memiliki keberhasilan yang terbatas.

Baca juga: Salju Kian Langka, Krisis Iklim Tekan Pariwisata Musim Dingin Eropa

Profesor Sara Dolnicar, yang juga terlibat dalam penelitian ini, mengatakan bahwa pembuat kebijakan dan industri pariwisata harus memikirkan kembali bagaimana dan kapan mereka mendorong perilaku berkelanjutan, menggeser upaya lebih awal dalam perjalanan wisata daripada mengandalkan ajakan yang dibuat setelah wisatawan sudah dalam mode liburan.

Inisiatif Pengelola

Beberapa destinasi wisata sendiri telah meningkatkan upaya untuk mendorong pariwisata yang lebih bertanggung jawab.

Misalnya saja Negara kepulauan Pasifik Palau mewajibkan pengunjung untuk menandatangani “Ikrar Palau” berkomitmen untuk bertindak secara bertanggung jawab terhadap alam dan budaya lokal.

Pengunjung diminta untuk melihat pesan dalam penerbangan dan menandatangani ikrar bergaya paspor yang berjanji untuk melindungi lingkungan dan menghormati tradisi sebagai bagian dari proses masuk.

Demikian pula, Selandia Baru mendorong wisatawan untuk membuat "Janji Tiaki" sebelum dan selama kunjungan mereka. Komitmen ini mengajak para pelancong untuk peduli terhadap negara dengan melestarikan alam, menghormati budaya, dan bepergian dengan aman.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau