KOMPAS.com - Penelitian dari University of Queensland (UQ) menemukan bahwa wisatawan cenderung lebih banyak memboroskan sumber daya dan meninggalkan kebiasaan ramah lingkungan saat bepergian.
Mengapa bisa begitu?
Melansir Eco Business, Senin (9/2/2026) studi yang diterbitkan dalam jurnal Tourism Management ini menemukan nilai atau prinsip hidup seseorang tidak akan serta merta berubah saat berlibur.
Namun, perjalanan mengaktifkan apa yang disebut peneliti sebagai 'identitas tempat liburan'.
Itu adalah sebuah kondisi psikologis yang membuat individu merasa lebih bebas, kurang bertanggung jawab dan cenderung kurang berperilaku berkelanjutan dibandingkan dengan kehidupan sehari-hari mereka karena lebih sering merasa hanya 'menumpang lewat'.
Temuan ini membantu menjelaskan mengapa para wisatawan yang sebenarnya berniat baik sering kali mengonsumsi lebih banyak, membuang lebih banyak sampah, dan melakukan lebih sedikit upaya pelestarian saat berlibur, meskipun kesadaran mereka terhadap jejak lingkungan dari pariwisata terus meningkat.
Baca juga: Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Kandidat PhD Dorine von Briel dari Sekolah Bisnis UQ mengatakan penelitian ini mengidentifikasi pergeseran identitas sementara yang terjadi ketika orang bepergian, atau bahkan ketika mereka secara mental menempatkan diri mereka dalam suasana liburan.
“Kami telah memperkenalkan ‘identitas tempat liburan’ sebagai keadaan psikologis yang berbeda dan terukur yang muncul saat bepergian,” kata von Briel.
“Ini berbeda dengan ‘identitas tempat tinggal’, yang berakar pada rutinitas, tanggung jawab, dan hubungan emosional jangka panjang,” tambahnya.
Kekhawatiran terhadap industri pariwisata
Dalam studinya tim peneliti melakukan tiga studi terpisah dan menemukan bahwa peserta secara konsisten menilai diri mereka kurang bertanggung jawab terhadap lingkungan ketika membayangkan atau mengalami liburan dibandingkan ketika mereka berada di rumah.
Dr. Anna Zinn, salah satu penulis studi tersebut, mengatakan peralihan identitas adalah hal yang umum tetapi ini adalah penelitian pertama yang mengidentifikasi identitas liburan spesifik dan memeriksa implikasi lingkungannya.
Temuan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang dampak iklim pariwisata. Penelitian UQ sebelumnya telah menunjukkan bahwa pariwisata menyumbang hampir 9 persen emisi karbon global, namun upaya untuk mendorong perilaku yang lebih berkelanjutan di kalangan wisatawan hanya memiliki keberhasilan yang terbatas.
Baca juga: Salju Kian Langka, Krisis Iklim Tekan Pariwisata Musim Dingin Eropa
Profesor Sara Dolnicar, yang juga terlibat dalam penelitian ini, mengatakan bahwa pembuat kebijakan dan industri pariwisata harus memikirkan kembali bagaimana dan kapan mereka mendorong perilaku berkelanjutan, menggeser upaya lebih awal dalam perjalanan wisata daripada mengandalkan ajakan yang dibuat setelah wisatawan sudah dalam mode liburan.
Beberapa destinasi wisata sendiri telah meningkatkan upaya untuk mendorong pariwisata yang lebih bertanggung jawab.
Misalnya saja Negara kepulauan Pasifik Palau mewajibkan pengunjung untuk menandatangani “Ikrar Palau” berkomitmen untuk bertindak secara bertanggung jawab terhadap alam dan budaya lokal.
Pengunjung diminta untuk melihat pesan dalam penerbangan dan menandatangani ikrar bergaya paspor yang berjanji untuk melindungi lingkungan dan menghormati tradisi sebagai bagian dari proses masuk.
Demikian pula, Selandia Baru mendorong wisatawan untuk membuat "Janji Tiaki" sebelum dan selama kunjungan mereka. Komitmen ini mengajak para pelancong untuk peduli terhadap negara dengan melestarikan alam, menghormati budaya, dan bepergian dengan aman.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya