Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jepang Hidupkan Kembali Reaktor PLTN Kashiwazaki-Kariwa

Kompas.com, 10 Februari 2026, 18:49 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tokyo Electric Power Company Holdings (Tepco) menghidupkan kembali reaktor di pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Kashiwazaki-Kariwa, yang dikenal sebagai PLTN terbesar di dunia, pada Senin (9/2/2026).

Reaktor No. 6 di PLTN yang berlokasi di Prefektur Niigata itu mulai diaktifkan kembali sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Tepco akan meningkatkan daya keluaran unit tersebut secara bertahap, dengan target memulai operasi komersial pada Rabu (18/3/2026). Target ini mundur dari rencana awal pada Kamis (26/2/2026) akibat kendala teknis.

Kashiwazaki-Kariwa merupakan satu-satunya fasilitas nuklir Tepco yang masih beroperasi. Reaktor No. 6 menjadi unit pertama dari total tujuh reaktor di lokasi tersebut yang kembali dihidupkan.

Baca juga: Kapasitas Nuklir Dunia Diprediksi Bertumbuh pada 2050

Sementara itu, reaktor No. 7 juga telah memperoleh persetujuan dari regulator nuklir nasional Jepang untuk beroperasi kembali.

Pengaktifan ulang ini berlangsung di tengah upaya pemerintah Jepang untuk kembali memanfaatkan energi nuklir, antara lain guna mengurangi emisi gas rumah kaca, menekan impor bahan bakar fosil, serta menjamin pasokan listrik yang stabil seiring meningkatnya permintaan energi.

Tepco sebelumnya sempat menghidupkan kembali reaktor No. 6 pada 21 Januari 2026. Namun, proses tersebut dihentikan sehari kemudian setelah terjadi masalah kelistrikan pada panel yang digunakan untuk mengoperasikan dan memantau batang kendali reaktor.

Penyelidikan lanjutan menemukan adanya kesalahan interpretasi arus listrik motor di dalam panel kendali.

“Saya masih percaya bahwa merupakan tanggung jawab saya untuk memutuskan penghentian sementara pembangkit guna melakukan penyelidikan lebih mendalam terhadap masalah tersebut,” kata pengawas fasilitas Kashiwazaki-Kariwa, Takeyuki Inagaki, seperti dikutip dari The Japan Times, Selasa (10/2/2026).

Mengutip Anadolu Ajansi, Tepco memastikan setiap tahapan pengaktifan ulang akan dilakukan secara hati-hati, disertai inspeksi berkelanjutan guna menjamin keamanan sistem reaktor berkapasitas 1.360 megawatt tersebut.

Baca juga: SIEW 2025: Singapura Kaji Serius Pemanfaatan Reaktor Nuklir Kecil untuk Pembangkit Listrik

PLTN Kashiwazaki-Kariwa memiliki total kapasitas sekitar 8,2 gigawatt dan menggunakan reaktor air mendidih, jenis yang sama dengan reaktor di Fukushima Daiichi.

Sebagian besar unit di fasilitas ini tidak beroperasi sejak bencana nuklir Fukushima pada 2011 yang dipicu gempa bumi dan tsunami.

Pengaktifan ulang reaktor No. 6 ini menjadi yang pertama bagi Tepco sejak tragedi Fukushima, sekaligus menandai langkah penting Jepang dalam upaya menghidupkan kembali sektor energi nuklirnya dengan pengawasan keselamatan yang lebih ketat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau