Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cinta Laura Ditunjuk Jadi Duta Nasional UNICEF Indonesia

Kompas.com, 10 Februari 2026, 16:47 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Aktris Cinta Laura Kiehl resmi ditunjuk menjadi Duta Nasional untuk UNICEF Indonesia, Selasa (10/2/2026). Penunjukan ini menekankan peran penting figur publik dalam menggerakkan dukungan serta memperjuangkan hak dan kesejahteraan anak di Indonesia.

Kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia, Maniza Zaman mengungkapkan Cinta Laura bergabung dengan jajaran duta UNICEF global yang menggunakan suara, pengaruh, dan platform mereka untuk memperjuangkan hak-hak anak di berbagai belahan dunia.

"Cinta, Anda membawa kombinasi kualitas yang langka untuk peran ini, bakat dan disiplin, pengalaman internasional, akademik, dan semangat kewirausahaan. Yang terpenting, komitmen mendalam terhadap keadilan sosial dan kesetaraan," ujar Maniza dalam Peluncuran Duta Nasional UNICEF di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026).

Baca juga: Unicef Desak Negara Kriminalisasi Pembuat Konten Pelecehan Anak lewat AI

"Anda telah secara konsisten menggunakan platform Anda untuk berbicara tentang isu-isu yang penting, mulai dari pemberdayaan perempuan hingga kesehatan mental, dan untuk mendengarkan realitas kehidupan anak-anak serta keluarga," imbuh dia.

Sebagai Duta Nasional, Cinta Laura akan mendukung upaya advokasi UNICEF Indonesia dengan meningkatkan kesadaran tentang isu-isu utama hak anak, termasuk pendidikan, perlindungan anak, pemberdayaan perempuan, dan aksi iklim. Suaranya dinilai berperan penting dalam mendorong aksi kolektif untuk menciptakan masa depan yang lebih inklusif dan adil bagi setiap anak.

Menurut Maniza, penunjukkan Cinta Laura menjadi Duta Nasional UNICEF Indonesia bertepatan dengan momen penting bagi UNICEF yang akan memperingati 80 tahun berdirinya organisasi tersebut pada Desember 2026.

"Bersama Anda kami berharap dapat menyinari isu-isu yang terus dihadapi anak-anak, dan juga menceritakan kisah-kisah positif tentang kemajuan dan harapan. Dengan energi dan kredibilitas Anda, saya tahu bahwa kita dapat memicu percakapan yang lebih sering, yang membantu menerjemahkan ide dan kata-kata menjadi dampak positif bagi anak-anak," jelas Maniza.

Baca juga: Kemendukbangga: Program MBG Bantu Cegah Stunting pada Anak

Pada akhir 2025, Cinta Laura bersama UNICEF mengunjungi Asmat, Papua. Ia menyaksikan langsung tantangan yang dihadapi anak-anak dan keluarga di komunitas terpencil seta upaya berkelanjutan untuk mengatasinya.

"Penunjukan sebagai Duta Nasional UNICEF Indonesia ini adalah tanggung jawab moral yang sangat personal. Aku selalu percaya bahwa potensi itu tersebar rata, tetapi sayang kesempatannya sering kali tidak," kata Cinta Laura.

Saat mengunjungi wilayah Asmat, Cinta mengaku melihat sendiri betapa cerdas dan tangguhnya anak-anak di sana. Meskipun fasilitas pendidikan maupun akses terhadap kesehatan dan sanitasi sangat terbatas.

"Momen itu menampar sekaligus membakar semangat aku untuk memastikan hak fundamental mereka terpenuhi. Bersama UNICEF, kita harus mempercepat langkah untuk menutup celah ini, kita harus membangun ekosistem di mana semua anak mempunyai garis start yang sama sehingga tidak ada satu pun yang tertinggal," ungkap dia.

Kerja Sama di Indonesia

Dalam kesempatan itu, Maniza menyampaikan bahwa UNICEF didirikan setelah Perang Dunia II untuk membantu anak-anak di dunia yang hidupnya terpuruk akibat perang. Selama delapan dekade terakhir, UNICEF membantu anak-anak di 190 negara dan wilayah serta bekerja sama dengan pemerintah maupun mitra non pemerintah.

"Kami memiliki warisan yang kuat dalam bekerja dengan tokoh masyarakat yang berpengaruh, ini adalah bagian mendasar dari cara kami bekerja," tutur dia.

Maniza menceritakan, perjalanan UNICEF di Indonesia dimulai pada 1948 ketika kekeringan parah melanda Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kerja sama UNICEF dengan Indonesia mencakup bidang kesehatan anak, gizi, pendidikan, sanitasi air dan kebersihan, perlindungan anak, hingga kebijakan sosial.

Baca juga: Tanpa Dukungan Kebijakan, Eliminasi Kanker Serviks Tertinggal dari Penanganan Stunting

"Mengenai gizi, kami memiliki protokol baru untuk menangani anak-anak yang hidup dengan kekurangan gizi akut, dan kami telah membantu memeriksa 7,6 juta anak di bawah usia lima tahun itu membantu merujuk lebih dari 36.000 anak dengan kondisi sangat kurus yang parah untuk mendapatkan pengobatan," beber Maniza.

Di bidang pendidikan, lebih dari 100.000 anak putus sekolah kembali mengenyam pendidikan, dan lebih dari 237.000 anak yang rentan dicegah agar tidak putus sekolah.

"Sebuah program yang kami kerjakan bersama pemerintah untuk membantu mencegah kekerasan dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman sekarang menjangkau 2,2 juta anak di 36.000 sekolah," ucap Maniza.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau