KOMPAS.com - Pengalaman masa kecil termasuk faktor yang membentuk sudut pandang para pemimpin bisnis terkait keselamatan tempat kerja ketika dewasa kelak.
Hal itu misalnya jika mereka mengalami bencana alam sewaktu masih kecil, menurut studi yang terbit di jurnal European Financial Management dan dipimpin oleh Universitas Concordia, Kanada.
Baca juga:
Studi tersebut menemukan, para CEO yang pernah melewati peristiwa, seperti gempa bumi besar, banjir, atau badai, pada awal kehidupan mereka, akan mengelola perusahaan yang lebih memprioritaskan keselamatan tempat kerja.
Hasil disimpulkan setelah studi menganalisis statistik pelaporan wajib yang diberikan kepada Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja AS (OSHA).
Peneliti mencatat, perusahaan yang dijalankan CEO "penyintas" ini melaporkan lebih sedikit cedera dan penyakit terkait pekerjaan, dibandingkan perusahaan serupa yang dijalankan oleh para eksekutif yang tidak pernah mengalami peristiwa bencana alam.
Hasil penelitian ini bahkan terlihat lebih mencolok pada perusahaan dengan CEO yang memiliki kekuasaan besar, serta di industri dengan pengaruh serikat pekerja yang lebih lemah dan tekanan laba yang lebih tinggi.
"Kita terus mendengar di media dan komentar bahwa CEO cenderung sangat egois dan tidak terlalu peduli dengan karyawan mereka," kata salah satu penulis makalah tersebut, Michel Magnan, Profesor Riset Universitas Terkemuka di Departemen Akuntansi di John Molson School of Business.
"Dan mungkin ada kebenaran dalam beberapa kasus. Namun, penelitian kami menunjukkan bahwa banyak CEO menganggap keselamatan kerja sebagai masalah yang sangat serius," tambah dia.
Baca juga:
Penelitian menemukan, CEO yang mengalami bencana alam saat kecil cenderung memprioritaskan keselamatan kerja.Studi ini mengharuskan para peneliti untuk menyaring sejumlah besar data dan melakukan pemetaan data saat mereka melacak catatan lebih dari 500 CEO.
Pertama, mereka mengidentifikasi perusahaan-perusahaan besar Amerika Serikat yang terdaftar di indeks S&P 1500 antara tahun 2002 dan 2011.
Mereka menggunakan basis data pelacakan eksekutif untuk mengidentifikasi CEO, kemudian mengumpulkan detail biografi yang tersedia untuk umum tentang masing-masing CEO, biasanya dari situs web perusahaan, artikel berita, catatan publik, dan basis data daring.
Data ini mencakup tahun kelahiran, tempat kelahiran, serta wilayah tempat tinggal para CEO selama masa pertumbuhan mereka (antara usia lima hingga 15 tahun).
Para peneliti kemudian menggabungkan informasi ini dengan basis data bencana alam tingkat wilayah di Amerika Serikat yang terjadi saat para CEO berada pada usia pertumbuhan.
Hal ini memungkinkan tim peneliti untuk mengidentifikasi siapa saja yang pernah melewati peristiwa-peristiwa tersebut.
Data dari OSHA digunakan untuk memeriksa data cedera perusahaan, yang membantu mengidentifikasi hasil keselamatan kerja, serta membandingkan perusahaan yang dijalankan oleh para CEO yang pernah dan yang tidak pernah terpapar bencana pada masa kecil mereka.
Baca juga: Survei: 32 Persen CEO Indonesia Klaim Perusahaannya Terapkan Keberlanjutan
Penelitian menemukan, CEO yang mengalami bencana alam saat kecil cenderung memprioritaskan keselamatan kerja.Setelah menganalisis data, para peneliti menyimpulkan, perusahaan yang dijalankan oleh para CEO yang pernah mengalami bencana alam selama masa pertumbuhan mereka menunjukkan jumlah cedera terkait kerja yang jauh lebih sedikit yakni berkurang hampir 24 persen.
Temuan ini disebut cukup kuat, tetap konsisten bahkan setelah memperhitungkan faktor ukuran perusahaan, jenis industri, tekanan finansial, dan kekuatan serikat pekerja, ditambah dengan otoritas CEO di tempat kerja, jenis kelamin, serta usia mereka.
Magnan mencatat bahwa paparan bencana pada awal kehidupan tidak serta merta membuat seseorang menjadi CEO yang lebih baik.
Namun, penelitian ini mengungkapkan bagaimana peristiwa masa lalu seorang eksekutif dapat memengaruhi perilaku mereka.
Hal ini dapat relevan bagi dewan direksi, investor, dan pembuat kebijakan saat mereka menangani keselamatan pekerja, terutama di industri berisiko tinggi.
Baca juga: Indeks Investasi Hijau Ungkap Bank Nasional di Posisi Teratas Jalankan ESG
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya