Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemkab Paser Bangun 2 TPST, Ubah Sampah Jadi Bahan Bakar Semen

Kompas.com, 12 Februari 2026, 16:51 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, membangun dua tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Janju dan Songka. Tujuannya menyulap sampah jadi bahan bakar pembuatan semen atau refuse derived fuel (RDF).

Bupati Paser, Fahmi Fadli mengatakan, hal ini dilakukan lantaran timbulan sampah di wilayahnya mencapai 121 ton per hari dengan total 44.000 ton per tahun pada 2023.

Baca juga: 

Kapasitas tempat pemrosesan akhir (TPA) saat itu hanya mampu menampung 75 ton per hari atau sekitar 27.000 ton per tahun, sedangkan sisanya dibuang sembarangan.

"Tentunya kondisi itu sangat memprihatinkan. Dengan kesadaran ini, kami Pemerintah Kabupaten Paser mencoba berpikir dan belajar cepat bagaimana mengelola sampah dengan memanfaatkan nilai ekonomis sampah itu sendiri konsep yang akan diterapkan adalah Zero Waste pengelolaan sampah," kata Fahmi dalam Penandatanganan MoU Pemkab Paser dengan PT Indocement Tunggal Prakarsa, Jakarta Pusat, Kamis (12/2/2026).

Pemkab Paser bangun TPST Janju dan TPST Songka

Bisa kelola 10 ton dan lima ton sampah per jam

Pemkab Paser, Kalimantan Timur, bangun TPST Janju dan TPST Songka yang dapat meproduksi bahan bakar untuk semen. UNSPLASH/JOHN CAMERON Pemkab Paser, Kalimantan Timur, bangun TPST Janju dan TPST Songka yang dapat meproduksi bahan bakar untuk semen.

Pemkab Paser kemudian membangun dua TPST yang telah beroperasi sejak Januari 2026 yakni TPST Janju yang berkapasitas mengelola 10 ton sampah per jam, serta TPST Songka yang berkapasitas lima ton sampah per jam.

Kedua TPST tersebut bakal memproduksi RDF yang dijual kepada PT Indocement Tunggal Prakarsa.

"Sebagai wujud bahwa pengelolaan sampah kami sudah Zero Waste, dilakukan penandatanganan kesepakatan bersama atau MoU antara Pemerintah Kabupaten Paser dengan PT Indocement Tbk untuk pemanfaatan RDF," ujar Fahmi. 

"MoU ini merupakan awal dari kerja sama yang konkret dan berkelanjutan melalui perencanaan teknis yang matang, penguatan kelembagaan, serta kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan," tambah dia. 

Fahmi menjelaskan, Pemkab Paser sempat melakukan studi pengelolaan sampah ke perusahaan di Banyumas dan Sleman.

Lalu, TPST untuk memproduksi RDF dibangun sejak 2025 agar sampah dari masyarakat kini bisa dikelola menyeluruh.

Dibangunnya TPST ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam mengimplementasikan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

"Semua sampah yang dihasilkan oleh masyarakat, sampah timbulan sampah timbulan yang dihasilkan oleh masyarakat tidak ada lagi yang dibuang, semua kami olah menjadi RDF. Kemudian untuk yang organiknya jadi kompos dan maggot," tutur Fahmi.

Selain pembangunan fasilitas pengolahan, Pemkab Paser juga melibatkan masyarakat melalui TPS reduce, reuse, recycle (TPS3R) di 10 kecamatan, pembentukan bank sampah di 139 desa dan lima kelurahan, serta pengembangan kelompok pegiat maggot dari sektor formal dan informal.

Baca juga: 

Investasi RDF capai Rp 1,5 Triliun

Pemkab Paser, Kalimantan Timur, bangun TPST Janju dan TPST Songka yang dapat meproduksi bahan bakar untuk semen. PEXELS.com/Fernando Makers Pemkab Paser, Kalimantan Timur, bangun TPST Janju dan TPST Songka yang dapat meproduksi bahan bakar untuk semen.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Indocement Tunggal Perkasa, Christian Kartawijaya menuturkan, perusahaannya menyiapkan investasi hingga Rp 1,5 triliun untuk mendukung pemanfaatan RDF.

Menurutnya, pabrik Indocement yang berdiri di Citeureup, Cirebon, Grobogan, Maros, dan Tarjun mampu menyerap 6.300 hingga 6.500 ton RDF per hari.

"Di tahun 2024 Indocement telah memanfaatkan 1,1 juta ton bahan bakar alternatif sampai saat ini, di mana dari semua itu 198.000 ton RDF yang kami pakai. Yang paling rutin suplai kami dari Bantargebang, sekitar 500 sampai 550 ton per hari," ucap Christian.

Dia menambahkan, potensi pemanfaatan RDF di Indocement dapat mencapai 1,5 juta ton per tahun atau sekitar 5.000 ton per hari untuk seluruh pabrik.

Baca juga:

Pemanfaatan RDF tersebut telah mendorong peningkatan substitusi batu bara dengan bahan bakar ramah lingkungan.

Saat ini, sekitar 29 persen konsumsi batu bara di perusahaannya telah digantikan bahan bakar alternatif, dan ditargetkan meningkat hingga empat persen tahun ini.

"RDF (di Paser) ini kapasitas desainnya semoga bisa dapat 300 ton per hari. Saat ini hanya Tanah Bumbu yang suplai kami 10 sampai 15 ton per hari, mudah-mudahan dari Pak Bupati Paser bisa mencapai 40 ton per hari," papar dia.

Perusahaannya juga membuka peluang pemanfaatan hasil landfill mining atau penambangan kembali sampah lama di TPA.

Christian berpandangan, sampah lama yang kering berpotensi lebih optimal untuk diolah menjadi bahan bakar alternatif, bahkan jika dicampur dengan sampah segar.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Pemerintah
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
LSM/Figur
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Pemerintah
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Pemerintah
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau