JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, membangun dua tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Janju dan Songka. Tujuannya menyulap sampah jadi bahan bakar pembuatan semen atau refuse derived fuel (RDF).
Bupati Paser, Fahmi Fadli mengatakan, hal ini dilakukan lantaran timbulan sampah di wilayahnya mencapai 121 ton per hari dengan total 44.000 ton per tahun pada 2023.
Baca juga:
Kapasitas tempat pemrosesan akhir (TPA) saat itu hanya mampu menampung 75 ton per hari atau sekitar 27.000 ton per tahun, sedangkan sisanya dibuang sembarangan.
"Tentunya kondisi itu sangat memprihatinkan. Dengan kesadaran ini, kami Pemerintah Kabupaten Paser mencoba berpikir dan belajar cepat bagaimana mengelola sampah dengan memanfaatkan nilai ekonomis sampah itu sendiri konsep yang akan diterapkan adalah Zero Waste pengelolaan sampah," kata Fahmi dalam Penandatanganan MoU Pemkab Paser dengan PT Indocement Tunggal Prakarsa, Jakarta Pusat, Kamis (12/2/2026).
Pemkab Paser, Kalimantan Timur, bangun TPST Janju dan TPST Songka yang dapat meproduksi bahan bakar untuk semen. Pemkab Paser kemudian membangun dua TPST yang telah beroperasi sejak Januari 2026 yakni TPST Janju yang berkapasitas mengelola 10 ton sampah per jam, serta TPST Songka yang berkapasitas lima ton sampah per jam.
Kedua TPST tersebut bakal memproduksi RDF yang dijual kepada PT Indocement Tunggal Prakarsa.
"Sebagai wujud bahwa pengelolaan sampah kami sudah Zero Waste, dilakukan penandatanganan kesepakatan bersama atau MoU antara Pemerintah Kabupaten Paser dengan PT Indocement Tbk untuk pemanfaatan RDF," ujar Fahmi.
"MoU ini merupakan awal dari kerja sama yang konkret dan berkelanjutan melalui perencanaan teknis yang matang, penguatan kelembagaan, serta kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan," tambah dia.
Fahmi menjelaskan, Pemkab Paser sempat melakukan studi pengelolaan sampah ke perusahaan di Banyumas dan Sleman.
Lalu, TPST untuk memproduksi RDF dibangun sejak 2025 agar sampah dari masyarakat kini bisa dikelola menyeluruh.
Dibangunnya TPST ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam mengimplementasikan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
"Semua sampah yang dihasilkan oleh masyarakat, sampah timbulan sampah timbulan yang dihasilkan oleh masyarakat tidak ada lagi yang dibuang, semua kami olah menjadi RDF. Kemudian untuk yang organiknya jadi kompos dan maggot," tutur Fahmi.
Selain pembangunan fasilitas pengolahan, Pemkab Paser juga melibatkan masyarakat melalui TPS reduce, reuse, recycle (TPS3R) di 10 kecamatan, pembentukan bank sampah di 139 desa dan lima kelurahan, serta pengembangan kelompok pegiat maggot dari sektor formal dan informal.
Baca juga:
Pemkab Paser, Kalimantan Timur, bangun TPST Janju dan TPST Songka yang dapat meproduksi bahan bakar untuk semen. Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Indocement Tunggal Perkasa, Christian Kartawijaya menuturkan, perusahaannya menyiapkan investasi hingga Rp 1,5 triliun untuk mendukung pemanfaatan RDF.
Menurutnya, pabrik Indocement yang berdiri di Citeureup, Cirebon, Grobogan, Maros, dan Tarjun mampu menyerap 6.300 hingga 6.500 ton RDF per hari.
"Di tahun 2024 Indocement telah memanfaatkan 1,1 juta ton bahan bakar alternatif sampai saat ini, di mana dari semua itu 198.000 ton RDF yang kami pakai. Yang paling rutin suplai kami dari Bantargebang, sekitar 500 sampai 550 ton per hari," ucap Christian.
Dia menambahkan, potensi pemanfaatan RDF di Indocement dapat mencapai 1,5 juta ton per tahun atau sekitar 5.000 ton per hari untuk seluruh pabrik.
Baca juga:
Pemanfaatan RDF tersebut telah mendorong peningkatan substitusi batu bara dengan bahan bakar ramah lingkungan.
Saat ini, sekitar 29 persen konsumsi batu bara di perusahaannya telah digantikan bahan bakar alternatif, dan ditargetkan meningkat hingga empat persen tahun ini.
"RDF (di Paser) ini kapasitas desainnya semoga bisa dapat 300 ton per hari. Saat ini hanya Tanah Bumbu yang suplai kami 10 sampai 15 ton per hari, mudah-mudahan dari Pak Bupati Paser bisa mencapai 40 ton per hari," papar dia.
Perusahaannya juga membuka peluang pemanfaatan hasil landfill mining atau penambangan kembali sampah lama di TPA.
Christian berpandangan, sampah lama yang kering berpotensi lebih optimal untuk diolah menjadi bahan bakar alternatif, bahkan jika dicampur dengan sampah segar.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya